Lontarkan Kritik Teradap Netanyahu, Trump Sebut Tanpa AS, Tidak Ada Israel
Presiden AS Donald Trump dan Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, menggelar pertemuan dalam rangkaian kegiatan KTT G7 2026 (Foto: tangkapan layar youtube The White House)
El John News-Presiden Amerika Serikat Donald Trump, melontarkan kritik terbuka terhadap Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, terkait kebijakan militer Israel di Lebanon. Trump menilai sikap pemerintah Israel berpotensi menghambat berbagai upaya diplomatik yang tengah dijalankan Washington untuk menciptakan stabilitas di kawasan Timur Tengah.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump saat menghadiri pertemuan dengan Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, dalam rangkaian kegiatan KTT G7 2026, Selasa waktu setempat (16/6/2026).
Trump mengaku tidak sependapat dengan keputusan Israel yang tetap mempertahankan kehadiran militernya di sejumlah wilayah Lebanon di saat Amerika Serikat sedang menyelesaikan proses akhir kesepakatan damai dengan Iran. Menurutnya, langkah tersebut justru dapat memperumit upaya penyelesaian konflik yang sedang dibangun.
Dalam pernyataannya, Trump meminta Netanyahu menunjukkan sikap yang lebih bertanggung jawab terhadap situasi di Lebanon. Ia menegaskan bahwa dukungan Amerika Serikat terhadap Israel selama ini sangat besar, sehingga kebijakan yang berpotensi mengganggu agenda diplomatik Washington seharusnya dihindari.
“Tanpa AS, tidak akan ada Israel. Tanpa saya, tidak akan ada Israel karena tidak ada presiden (AS) lain yang mau melakukan apa yang saya lakukan,” kata Trump.
Trump juga menekankan bahwa hubungan pribadinya dengan Netanyahu tetap terjalin baik. Namun, menurutnya, kondisi di Lebanon membutuhkan pendekatan yang lebih hati-hati.
“Saya memiliki hubungan yang baik dengan Bibi (Netanyahu). Sekarang Bibi harus lebih bertanggung jawab terkait Lebanon.”
Selain itu, Trump mengusulkan agar penanganan kelompok Hizbullah dapat melibatkan Suriah. Ia menilai pemerintah Suriah saat ini memiliki kemampuan untuk mengambil peran yang lebih besar dalam menjaga stabilitas kawasan.
“Saya menyarankan kepada Israel untuk membiarkan Suriah menangani Hizbullah karena, jujur saja, saya pikir mereka akan melakukan pekerjaan yang lebih baik,” tegas Trump.
Sebelumnya, Netanyahu menegaskan bahwa militer Israel akan tetap mempertahankan wilayah yang saat ini dikuasainya di Lebanon dan Suriah, meskipun Amerika Serikat dan Iran telah mencapai kesepakatan yang dijadwalkan ditandatangani pada 19 Juni 2026.
Sikap Israel tersebut dinilai bertolak belakang dengan salah satu tuntutan utama Iran dalam proses negosiasi. Teheran menegaskan bahwa aspek keamanan dan stabilitas Lebanon merupakan bagian penting dari kesepakatan yang sedang dibangun bersama Washington.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa konflik yang melibatkan Israel dan Lebanon tidak dapat dipisahkan dari pembahasan hubungan Iran dan Amerika Serikat. Karena itu, Iran meminta Washington memastikan seluruh poin kesepakatan dijalankan secara menyeluruh.
“Kelanjutan pendudukan Israel atas wilayah Lebanon adalah pelanggaran terhadap nota kesepahaman,” kata Araghchi.
Perbedaan pandangan antara Washington dan Tel Aviv mengenai Lebanon diperkirakan akan menjadi salah satu tantangan dalam implementasi kesepakatan damai yang tengah dirancang. Meski demikian, Amerika Serikat tetap berupaya menjaga momentum diplomasi guna meredakan ketegangan yang selama ini membayangi kawasan Timur Tengah.
