Melalui Seminar, MATAKIN Dukung Gerakan Nasional Revolusi Mental
Gotong royong menjadi salah satu pilar utama Gerakan Nasional Revolusi Mental yang membangun karakter bangsa yang kuat dan berbudaya. Hal tersebut mengemuka dalam seminar yang diselenggarakan Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin).
Seminar yang digelar dalam suasana HUT RI ke-78 ini, dilangsungkan di Hariston Hotel & Suites, Jalan Terusan Bandengan, Penjaringan, Jakarta Utara, Sabtu (26/08/2023). Dan menghadirkan pembicara Dr Prasetijono Widjojo MJ, MA (Anggota Tim Ahli GTN GNRM/Gugus Tugas Nasional Gerakan Nasional Revolusi Mental) dan WS Mulyadi. S. Pd.Ing.M.Ag. (Wakil Sekretaris MATAKIN dan Anggota Tim Ahli GTN GNRM).
Seminar mengangkat tema “Dengan Semangat Gotong Royong Mari Kita Jaga dan Rawat Persatuan dan Kesatuan Bangsa Menuju Indonesia yang Maju dan Beradab”.

Kedua pembicara sepakat bahwa gotong royong harus diperkuat agar revolusi mental yang dicanangkan pemerintah dapat berjalan optimal.
Dalam paparannya, Dr Prasetijono Widjojo MJ, MA menerangkan tentang program Revolusi Mental yang sedang digalakkan oleh Pemerintah.
Dia menyebutkan bahwa revolusi mental dan perubahan pikir (mental – kultural) yaitu melakukan perubahan cara berpikir, cara kerja dan cara hidup. Kemudian membangun karakter yaitu integritas, etos kerja dan gotong royong.
“Jadi mindset kita, kita ubah dengan apa, dengan bagaimana kita menginternalisasi nilai-nilai strategis instrumental. Ini yang waktu pernah dibahas Inpres nomor 12 tahun 2016. Inpres yang pertama kita diskusikan dengan para para, apa sih nilai-nilai instrumental dar revolusi mental kemudian muncullah integritas, etos kerja dan gotong royong,” terang Prasetijono.

Untuk tujuan nasional, Prasetijono menjelaskan untuk mewujudkan tujuan bernegara yaitu Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur serta Trisakti yaitu berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan.
Sementara menurut WS Mulyadi, revolusi mental adalah gerakan untuk mengubah cara pikir, cara kerja dan cara hidup bangsa, yang mengacu pada nilai-nilai integritas, etos kerja dan gotong royong berdasarkan Pancasila yang berorientasi pada kemajuan, kemodernan.
“Dalam kehidupan sehari-hari, praktek revolusi mental adalah menjadi manusia berintegritas, mau bekerja keras dan punya semangat gotong royong,” tambahnya.
WS Mulyadi mengatakan, gotong royong adalah kunci dari operasionalisasi Pancasila. “Orang yang bergotong royong adalah yang punya kesadaran hidup bersama. Dia mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingannya sendiri,” jelasnya.

Menurut dia gotong royong pada dasarnya sudah ada dalam nilai-nilai ajaran Khonghucu yang mengajarkan agar selalu mengutamakan kepentingan bersama.
Wakil Ketua Umum MATAKIN Peter Lesmana mengatakan, seminar ini merupakan komitmen MATAKIN dalam mendukung Gerakan Nasional Revolusi Mental. Diharapkan melalui seminar ini, masyarakat khususnya umat Khonghucu dapat menanamkan etos kerja, Integritas dan Gotong Royong dalam kehidupan sehari-hari.
“Jadi acara ini merupakan ajakan kepada umat Khonghucu untuk mengubah mental menjadi lebih baik dengan etos kerja, integritas, kemudian gotong royong terus juga dimana ada poin-poin lain seperti Indonesia melayani, Indonesia bersih dan sebagainya. Intinya apa yang harus kita lakukan itu tujuannya untuk Indonesia lebih baik. Untuk itu kita harus mendukung Gerakan Revolusi Mental ini yang digagas oleh Kementerian PMK,” kata Peter.

Menurut Peter, revolusi mental sudah tertuang dalam ajaran Khonghucu. Salah satu ajarannya yakni menganjurkan agar umat Khonghucu untuk melakukan perubahan-perubahan yang lebih baik/
“Kalau untuk umat Konghucu itu selalu senantiasa diingatkan dengan perbarui diri setiap waktu, setiap saat. Jadi perubahan-perubahan itu harus dilakukan dalam kehidupan sehari-hari untuk menjadi lebih baik. Itu cara belajar Umat Khonghucu,” tutur Peter.
