Melalui Seminar Nasional, JARNAS Pemuda Hijau dan UNJ Dorong Aksi Nyata Pemuda Menanam Pohon

0
WhatsApp Image 2025-12-23 at 11.18.39

Ketua Umum Jaringan Nasional Pemuda Hijau (JARNAS Pemuda Hijau), G. Borlak, menegaskan bahwa bonus demografi yang sedang dialami Indonesia harus dimaknai sebagai peluang strategis untuk memperkuat gerakan pelestarian lingkungan hidup. Hal tersebut disampaikannya saat menjadi narasumber dalam Seminar Nasional Pemuda Hijau di Gedung Olahraga (GOR) Lantai 3 Kampus B Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Sabtu (20/12/2025).

Menurut Borlak, dominasi penduduk usia muda yang saat ini terjadi merupakan keuntungan besar bagi bangsa Indonesia apabila dikelola secara tepat. Ia menilai generasi muda memiliki potensi besar sebagai motor penggerak dalam menjaga dan memulihkan lingkungan hidup.

“Demografi kita akandidominasi usia muda. Ini sebenarnya keuntungan besar bagi bangsa Indonesia, terutama untuk memperkuat gerakan menanam dan merawat lingkungan,” ujarnya.

Ia mengakui bahwa tantangan yang masih dihadapi adalah kurangnya sosialisasi dan keterlibatan aktif pemuda dalam isu lingkungan. Karena itu, JARNAS Pemuda Hijau terus mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya generasi muda, untuk tidak tinggal diam dan mulai bergerak bersama.

“Kami mengajak bapak, ibu, dan terutama teman-teman pemuda untuk tidak diam. Pemuda hijau memiliki tanggung jawab yang lebih besar terhadap masa depan lingkungan dan bangsa,” tegas Borlak.

Dalam paparannya, Borlak menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor sebagai kunci keberhasilan gerakan lingkungan. Ia menilai kolaborasi harus dibangun dengan sikap rendah hati dan keterbukaan, termasuk menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah hingga ke tingkat paling bawah.

“Kolaborasi itu datang dengan rendah hati, memohon kerja sama dari seluruh elemen, mulai dari RT, RW, lurah, hingga pemerintah daerah. Tidak ada ruang yang tertutup untuk gerakan lingkungan,” katanya.

Ia mencontohkan pengalaman JARNAS Pemuda Hijau saat melakukan kegiatan penanaman dan konsolidasi gerakan di Sukabumi dan Cirebon. Menurutnya, dukungan dari berbagai pihak seperti Koramil, Kodim, bupati, hingga sekretaris daerah sangat terbuka dan responsif.

Borlak menegaskan bahwa gerakan pelestarian lingkungan tidak boleh dibatasi oleh kepentingan kelompok tertentu karena menyangkut kepentingan bersama, yakni masa depan bangsa dan keberlanjutan lingkungan hidup.

“Ini untuk merawat alam dan lingkungan kita. Negara kita negara kepulauan dengan jumlah penduduk besar. Kita tidak boleh membiarkan lingkungan sosial dan ekologis kita hancur,” tegasnya.

Seminar Nasional Pemuda Hijau merupakan inisiasi Janras Pemdua Hijau berkolaborasi dengan UNJ Kegiatan ini menjadi ruang refleksi sekaligus konsolidasi nasional peran strategis pemuda dalam menjawab tantangan pelestarian lingkungan hidup dan kependudukan berkelanjutan guna memperkuat ketahanan keluarga menuju Indonesia Emas 2045.

Seminar nasional mengusung tema “Refleksi Pemuda untuk Pelestarian Lingkungan dan Kependudukan Berkelanjutan Menuju Ketahanan Keluarga 2045”. Kegiatan tersebut dihadiri akademisi, pemangku kebijakan, organisasi kepemudaan, mahasiswa, serta komunitas lingkungan dari berbagai daerah di Indonesia.

Acara dibuka secara resmi oleh Rektor Universitas Negeri Jakarta, Prof. Komarudin, yang sekaligus menjadi keynote speaker. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa tema seminar sangat relevan dengan arah pembangunan nasional sebagaimana tertuang dalam RPJPN 2025–2045 dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

Menurut Prof. Komarudin, isu lingkungan hidup, kependudukan, dan ketahanan keluarga merupakan fondasi penting dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. Tantangan global seperti perubahan iklim, degradasi lingkungan, pertumbuhan penduduk, hingga dinamika sosial keluarga menuntut keterlibatan aktif dunia pendidikan dan generasi muda.

Ia menjelaskan bahwa dampak perubahan iklim seperti cuaca ekstrem, banjir, tanah longsor, dan menurunnya kualitas sumber daya alam telah menjadi realitas sosial yang langsung memengaruhi kehidupan keluarga, terutama kelompok rentan.

“Indonesia sebagai negara kepulauan dengan kekayaan hayati yang besar berada pada titik krusial dalam menjaga keberlanjutan lingkungan demi kualitas hidup masyarakat dan keluarga,” ujarnya.

Kegiatan ditutup dengan Deklarasi JARNAS Pemuda Hijau yang memuat komitmen bersama pemuda Indonesia untuk aktif dalam pelestarian lingkungan hidup, pengelolaan kependudukan berkelanjutan, dan penguatan ketahanan keluarga menuju Indonesia Emas 2045.

Seminar ini menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain Andi Susanto (Asisten Deputi Bina Kepemudaan Kemenpora), Munawar Asikin (Dosen dan Analis Kependudukan UNJ), Samadi (Koordinator Prodi Pendidikan Geografi UNJ), serta G. Borlak. Kegiatan juga dihadiri para pengurus dan dewan penasehat JARNAS Pemuda Hijau dari berbagai daerah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *