Mengenal jenis batuk si anak
Kadang-kadang batuk terdengar hebat. Namun demikian, biasanya batuk bukan merupakan gejala yang membahayakan. Sebenarnya batuk merupakan suatu refleks tubuh untuk membantu membersihkan jalan napas. Namun demikian, batuk dapat menjadi alasan untuk berkunjung ke dokter. Kita perlu mengenal jenis-jenis batuk, agar kita tahu bagaimana menanganinya dan mengetahui pula kapan sebaiknya kita meminta bantuan medis. Umumnya, batuk adalah gejala adanya gangguan pada saluran pernapasan. Namun, pada bayi dan anak-anak, seringkali “uhuk-uhuknya” hanyalah suatu bentuk refleks yang dilakukan tubuhnya untuk menjaga kesehatan dan fungsi kerja organ. Batuk membantu membersihkan jalan atau saluran udara di tenggorokan dan dadanya.
Diakui oleh Dr. Jeff Mjaanes , dokter spesialis anak dari Chicago’s Rush University Medical Center, Amerika Serikat, memang cukup sulit bagi orang tua untuk menentukan apakah batuk si kecil hanya merupakan refleks tubuh atau benar-benar gejala suatu penyakit. Itu sebabnya, dr. Mardjanis Said, Sp.AK, Sub Bagian Pulmonologi, Bagian Ilmu Kesehatan Anak, RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta, mengatakan, “Orang tua sebaiknya tetap waspada terhadap batuk si kecil. Sebab, bayi dan balita biasanya peka terhadap pengaruh lingkungan, misalnya zat-zat atau bahan kimia, serta berbagai jenis kuman. Kalau tubuhnya sangat peka atau hipersensitif, zat atau bahan kimia dapat bersifat alergen, yakni merangsang timbulnya alergi.”
Biasanya anak akan mengalami batuk secara tiba-tiba, mungkin disebabkan oleh tersedak makanan atau minuman yang masuk pada jalur pernafasan yang salah. Misalnya terdapat potongan makanan, muntahan, atau mungkin mainan atau uang logam yang tersangkut di tenggorokan. Batuk justru dapat membantu membersihkan saluran pernapasan dari sumbatan tersebut. Batuk tersebut biasanya hanya berlangsung sebentar saja karena tenggorokan atau saluran pernafasan menjadi teriritasi. Jika anak batuk dan disertai dengan demam yang tidak tinggi dan hidung beringus, kemungkinannya adalah anak tersebut tengah menderita pilek (colds) biasa. Namun apabila batuk yang disertai dengan demam yang mencapai 39 derajat Celcius atau lebih tinggi dimana anak tampak lesu dan napasnya cepat, kemungkinan anak tersebut tengah mengalami pneumonia.
Batuk yang berat pada anak seringkali merangsang refleks muntah. Biasanya, hal ini tidak membahayakan kecuali jika muntah yang terjadi berlangsung secara terus menerus. Anak yang mengalami batuk dan disertai pilek (colds)/ flu atau asma, dapat mengalami muntah apabila lendir telah mengalir ke lambung dan menyebabkan timbulnya rasa mual. Namun keadaan ini merupakan hal yang biasa dan tidak terlalu berbahaya. Salah satu alergen untuk saluran napas disebut inhalan, karena zat-zat yang beterbangan di lingkungan terhirup oleh tubuh. Inhalan yang paling banyak menimbulkan alergi adalah debu rumah, yang biasanya mengandung tungau (sejenis kutu kecil) debu rumah, partikel dari asap rokok, serpihan kulit binatang, serbuk sari tumbuhan, dan zat-zat kimia yang disemprotkan (obat nyamuk, minyak wangi, dan hairspray ). Namun, alergen juga dapat berupa makanan, misalnya makanan ringan yang mengandung zat pewarna atau zat pengawet.
Jika anak kebetulan alergi dan mengisap inhalan, maka selaput lendir pada saluran pernapasannya akan terangsang untuk menghasilkan lendir lebih banyak dari biasanya. Akibatnya? Terjadi pembengkakan (edema) . Ujung-ujung saraf dalam selaput lendir menjadi terangsang, dan batuklah ia. Nah, bila pembengkakan terjadi pada saluran pernapasan atas, yaitu di hidung, maka hidung akan tersumbat dan si kecil pun pilek. Biasanya, sih, disertai juga bersin-bersin. Sebaliknya, jika pembengkakan pada saluran pernapasan bawah, yaitu saluran di paru-paru secara menyeluruh, maka terjadi penyempitan saluran pernapasan. Akibatnya, anak uhuk-uhuk, sesak, dan napasnya berbunyi (mengi) alias asma. (arf)

