Mengenal Lebih Dekat Tugas Dokter Militer di Medan Perang

0
dokter militer.1

Menjadi seorang dokter militer bukan hanya harus paham ilmu kedokteran  pada umumnya, namun juga dapat menguasai tehnik-tehnik pertempuran. Pasalnya para dokter militer akan diterjunkan secara terbuka di lokasi pertempuran, yang bertugas untuk memberikan pertolongan kepada prajurit yang terluka.

Karena berada di lokasi pertempuran, selain alat kesehatan, dokter militer juga dibekali persenjataan. Karena itu kemampuan dalam menembak juga harus dikuasai

Untuk penanganan terhadap  prajurit yang terluka pun dibutuhkan kemampuan khusus karena secara teknik penanganannya berbeda dengan penanganan pasien di rumah sakit. Oleh karena itu, dokter militer diwajibkan ikut pelatihan yang disesuaikan dengan profesi. Pelatihan ini disebut Combat ATLS (Advanced Trauma Life Support)

Dokter Militer Pusat Kesehatan Angkatan Darat (PUSKESAD) Lettu Ckm (Kowad) dr. Kartika Ramban Sari, mengatakan dalam combat ATLS, dilatih cara-cara mengobati pasien di lokasi pertempuran. Para dokter militer yang ikut pelatihan harus mengetahui kondisi peperangan agar keselamatan dokter dapat terjamin.

“Combat ATLS itu mempelajari tentang bagaimana kita mengobati pasien-pasien itu pada saat di medan perang. Pencapaian evakuasi di medan perang itu sulitnya seperti apa, ngangkat pasien di daerah yang sulit terjangkau seperti apa. Biasanya kita, pelatihan hanya sesuai dengan kapasitas profesi kita. Jadi bukanya perangnya, kita juga diajarkan tapi lebih ke arah bagaimana profesi kita, seperti penanganan bagaimana mengatasi luka tembak, menghentikan pendarahan,” kata dokter Kartika saat menjadi narasumber dalam program Indonesia Medical Forum yang ditayangkan EL JOHN TV. Program ini dipandu oleh Miss Earth Indonesia 2019 Cinthia Kusuma Rani.

Dokter Kartika menerangkan  di medan perang, dokter militer dibantu oleh pasukan dari combat medic. Pasukan ini  merupakan pasukan TNI aktif yang bukan tidak memiliki latar belakang kesehatan. Pasukan combat medic merupakan  pasukan berpangkat tamtama dan bintara, yang dilatih untuk membantu dokter militer saat terjadi pertempuran.

Pelatihan yang diberikan seputar bagaimana cara penanganan atau mengobati prajurit yang terluka. Pasukan ini berada di barisan belakang, namun saat ada pemberitahuan, pasukan ini  harus siap menuju lokasi, dimana ada prajurit yang tertembak. Saat menuju lokasi tersebut, pasukan combat medic ini akan dilindungi oleh pasukan infantri.

“Jadi fungsinya di combat medic ini. Misalnya tamtama  dalam scenario perang. Si combat medic yang berpangkat tamtama dia itu berada di belakang pasukan infantri, nanti dankokesnya yang berpangkat letda  akan memberitahu ada korban luka tembak, misalkan di sektor sebelah mana nanti yang combat medic ini, yang tentara ini, dia akan menjemput tetapi dilindungi dari korps infantry untuk mengambil pasien tersebut,” terang dokter Kartika.

Saat tiba di lokasi, pasukan combat medic harus memberikan pertolongan pertama kepada prajurit sebelum dibawa ke camp dokter. Pertolongan pertama ini penting untuk meringankan beban sakit yang dirasakan prajurit. Pasalnya, jarak antara camp dokter dan lokasi tertembaknya prajurit tidak dekat.

“Jadi pada saat menuju pasien tersebut, dia harus bisa mengatasi si pasien. Jadi dia harus mampu mempunyai kapasitas P3K seperti menghentikan perdarahan, CPR, mengatasi balut tekan, apabila ada pendarahan. Jadi dia atasi dulu pasiennya disitu, setelah mengatasi pasiennya di situ baru bisa dibawa ke camp dokter, baru dokter yang mengatasi tindakan selanjutnya,” tutur dokter Kartika.

Lebih lanjut, dokter Kartika menjelaskan kesiapan dokter militer bukan hanya disaat perang fisik saja, namun harus  siap ditugaskan  mengatasi perang biologis, seperti pandemi Covid-19 ini. Di saat pandemi ini muncul di tahun Maret 2020 dan  angka  penyebaran terus meningkat, banyak Dokter yang berasal dari kalangan militer yang ditugaskan untuk membantu penanganan pasien Covid-19.

Saat itu,  dokter militer yang paling banyak diterjunkan  berasal dari Pusat Kesehatan Angkatan Darat (PUSKESAD) untuk ditugaskan di Wisma Atlet Kemayoran, yang menjadi rumah sakit rujukan Covid-19. 

Menurut dokter Kartika, untuk mengatasi perang biologis dibutuhkan jumlah dokter yang tidak sedikit. karena itu kehadiran fakultas Kedokteran Militer di Universitas Pertahanan adalah untuk membantu dokter militer dalam penanganan perang biologis.

“Jadi sebenarnya tujuan Uhan diadakannya dokter militer itu, untuk menyiapkan kader-kader, tenaga kesehatan untuk mampu memerangi perang selain militer, jadi perang biologis seperti sekarang ini  tentang Covid. Jadi kita untuk sekarang itu perangnya bukan perang fisik lagi tetapi perang biologis, seperti penyebaran penyakit,” ujar dokter Kartika.

“Perbedaannya  adalah kalau untuk dokter militer di Unhan itu mereka memang di didiknya secara militer. Jadi pada saat mereka mendaftar itu seleksinya sama dengan mau masuk TNI. Jada ada yang namanya seleksi administrasi, seleksi pemeriksaan fisik, wawancara, psikotes. Nah mereka itu nanti dibiayai oleh negara untuk kuliahnya menjadi dokter militer,” tambah dokter Kartika.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *