Menko Airlangga: Inflasi Indonesia Tetap Stabil Seiring Daya Beli Masyarakat yang Masih Terjaga
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan perkembangan terbaru terkait inflasi dan stabilitas ekonomi Indonesia di tengah tantangan global yang terus berlanjut. Dalam keterangan resmi yang disampaikan, Airlangga menyoroti bahwa komponen harga yang diatur Pemerintah (administered prices/AP) mengalami deflasi sebesar 0,04% month-to-month (mtm) dan inflasi sebesar 1,40% year-on-year (yoy). Penurunan ini terutama didorong oleh penurunan harga komoditas bensin, yang merupakan hasil dari kebijakan yang diambil oleh Pertamina untuk menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi pada September 2024, yang masih berlaku hingga bulan Oktober.
Meskipun demikian, Airlangga mencatat bahwa inflasi pada komponen harga diatur masih tertekan, terutama disebabkan oleh kenaikan harga Sigaret Kretek Mesin (SKM) dan tarif angkutan udara.
“Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada upaya untuk menstabilkan harga, beberapa sektor masih mengalami tantangan yang harus dihadapi oleh pemerintah,” kata Airlangga belum lama ini.
Di sisi lain, Airlangga juga menyampaikan kabar baik mengenai peringkat ekonomi Indonesia. Rating and Investment Information, Inc. (R&I) telah mengafirmasi Sovereign Credit Rating Indonesia di level BBB+ dengan outlook positif. Ini menandakan adanya kepercayaan internasional terhadap prospek ekonomi Indonesia, yang diproyeksikan tumbuh pada kisaran 5,0% hingga 5,2% di tahun 2024.
Menurut Airlangga, pencapaian ini merupakan hasil dari sinergi yang baik antara Pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas harga serta menciptakan fondasi yang kuat bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Namun, Menteri Koordinator Perekonomian juga tidak menutup mata terhadap tantangan yang dihadapi oleh ekonomi domestik. Ia mengakui bahwa pelambatan perekonomian global berdampak pada aktivitas perekonomian Indonesia. Purchasing Managers’ Index (PMI) Indonesia, yang merupakan indikator aktivitas manufaktur, masih berada di level kontraksi sebesar 49,2 pada September 2024.
“Meskipun angka ini menunjukkan peningkatan dibandingkan bulan Agustus yang berada di 48,9, Airlangga menekankan perlunya langkah-langkah strategis untuk meningkatkan sektor industri,” sambungnya.
Dalam konteks ini, pemerintah berkomitmen untuk terus mengoptimalkan kebijakan peningkatan industri manufaktur, termasuk hilirisasi sumber daya alam, penggunaan produk dalam negeri, substitusi impor, serta peningkatan ekspor. Upaya ini juga mencakup kemudahan berusaha dan investasi, serta pengembangan sumber daya manusia dan teknologi melalui program Making Indonesia 4.0. Ini merupakan langkah strategis untuk meningkatkan daya saing industri dalam negeri di pasar global.
Dalam menghadapi tantangan dan perubahan yang ada, pemerintah juga berfokus pada memastikan pasokan pangan yang cukup dan menjaga kestabilan harga. Airlangga menyatakan bahwa pemulihan sektor-sektor vital, seperti industri manufaktur, konstruksi, dan pertanian, menjadi prioritas utama. Berbagai upaya dan kebijakan yang telah diterapkan oleh pemerintah pusat dan daerah, serta dukungan dari Bank Indonesia, diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan stabilitas harga.
Dengan kombinasi langkah-langkah ini, pemerintah optimis bahwa perekonomian Indonesia akan terus melaju meskipun dalam situasi yang menantang. “Kami percaya bahwa dengan kerja sama yang baik antara semua pihak, kita dapat menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” tutup Airlangga.
