DestinationTourism

Menpar Akan Gandeng Lapan Untuk Promosikan Wisata Fenomena Alam

Atap gedung Sapta Pesona, Kementerian Pariwisata (Kemenpar). Rabu malam, 31 Januari 2018, dipenuhi karyawan Kemenpar, sejumlah toko seni budaya, termasuk Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya. Mereka berada di atap gedung untuk menyaksikan bersama fenomena alam yakni super blue blood moon eclipse . Saat peristiwa langka ini terjadi, Menpar menyempatkan diri untuk salat gerhana berjamaah.

Menpar menyebut gerhana bulan ini sebagai destinasi waktu karena 152 tahun lalu dan baru akan terjadi 192 tahun lagi. Namun, Menpar menyayangkan peristiwa ini tidak dapat menarik banyak wisatawan mancanegara (wisman).

Menurut Menpar, gerhana bulan kali ini tidak memiliki potensi besar untuk mendatangkan wisman, tidak seperti gerhana matahari total yang terjadi Maret 2015 silam.  Pasalnya, gerhana matahari total hanya dapat dilihat  di Indonesia dan beberapa negara. Di Indonesia saja, ada 10 titik wilayah yang dapat melihat pergerakan bulan menutup matahari itu. Ke-10 titik itu diantaranya terdapat destinasi wisata, sehingga promosi-pun dilakukan untuk mendulang kunjungan wisman. Alhasil banyak wisatawan yang berkunjung ke Indonesia hanya untuk menyaksikan gerhana matahari total.

Kondisi ini berbeda apa yang dialami gerhana bulan. Selain di Indonesia, gerhana ini dapat dilihat hampir di semua negara. Jadi wisman memilih untuk menyaksikan gerhana bulan di negaranya sendiri.

“Artinya, gerhana matahari total waktu itu lebih ekslusif sehingga gaungnya lebih besar, sedangkan gerhana bulan total ini bisa dilihat hampir di semua wilayah Indonesia dan di negara lain juga. Sensasi menyaksikannya juga jauh lebih lebih tinggi saat gerhana matahari total karena fenomenanya dari terang terbitlah gelap. Kalau yang ini malam tidak terlalu terasa,” tuturnya.

Menyoal destinasi waktu, dia mengharapkan dukungan lembaga terkait seperti Lapan untuk memberikan masukan dan informasi terkait kapan saja waktu akan terjadi fenomena langka seperti halnya supermoon. Sehingga, fenomena alam ini juga bisa di-create menjadi produk wisata dan menggerakkan wisatawan

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button