Menpar Akui Konektivitas Udara Kelemahan Pariwisata Nasional
Menteri Pariwisata Arief Yahya mengakui konektivitas udara menjadi salah satu kelemahan pariwisata Indonesia.Untuk maraih peringkat tertinggi dalam persaingan global, kelemahan tersebut harus segera diperbaiki dan ditingkatkan kualitasnya, pasalnya sekitar 90 persen kedatangan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia via udara. Hal tersebut disampaikan Menpar melalui siaran persnya di sela-sela Rapat Koordinasi Nasional Kepariwisataan I-2017 di Hotel Borobudur, Kamis, 30 Maret 2017.
“Tersedianya seat memadai untuk mendukung target 15 juta wisman tahun ini dan akan meningkat 20 jita wisman pada 2019 merupakan persoalan yang harus segera dipecahkan dengan melibatkan semua elemen (pentahelix) pariwisata,” kata Menpar.
Lebih lanjut Menpar menjelaskan, pariwisata ditetapkan menjadi core business Indonesia karena memiliki banyak keunggulan kompetitif dan komperatif diantaranya unggul dalam menghasilkan devisa serta penciptaan lapangan kerja. Keunggulan komperatif pariwisata Indonesia, menurut Menpar adalah yang terbaik di kawasan regional bahkan melampui AEAN.
“Pesaing utama pariwisata Indonesia adalah Thailand, sedangkan negara ASEAN lainnya mudah dikalahkan. Ini terlihat dari country branding Wonderful Indonesia yang semula tidak masuk ranking branding dunia, sekarang berada di ranking 47 mengalahka Truly Asia Malaysia yang berada di posisi 97 dan Amazing Thailand di posisi 83 sekaligus sehingga positioning dan differentiating Indonesia di tingkat dunia,” lanjut Menpar.
Keunggulan komperatif lainnya, pariwisata Indonesia mudah menjadi destinasi utama dunia sekaligus tourism hub, sedangkan untuk menjadi trade and invesment hub akan terlalu sulit bagi Indonesia untuk mengalahkan Singapura.
