Menpar Resmi Buka Seminar Internasional Kerjasama Penelitian Pariwisata RI-Belanda

0
Menpar Resmi Buka Seminar Internasional Kerjasama Penelitian Pariwisata RI-Belanda

Menteri Pariwisata (Menpar) DR.Ir.Arief Yahya, Msc. membuka sekaligus menjadi keynote speaker pada seminar internasional dengan bahasan hasil penelitian yang dilakukan Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Bandung dan Tourism NHTV Breda & Wageningan University and Research Belanda yang berlangsung di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, kantor Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Jumat (18/5/2018).

Penyelenggaraan seminar sehari ini sebagai rangkaian dari kegiatan Penelitian Kerjasama Luar Negeri (PKLN) antara STP Bandung (Indonesia)  dengan NHTV-Breda (Belanda). Kegiatan PKLN yang diinisiasi oleh Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (Puslitabmas) STP Bandung sejak 2017 ini bertujuan meningkatkan kerjasama dengan perguruan tinggi luar negeri serta meningkatkan kualitas dan kuantitas penelitian kepariwisataan di STP Bandung.

Menpar Arief Yahya mengapresiasi penyelenggaraan seminar internasional yang membahas hasil penelitian mahasiswa STB Bandung dan NHTV-Breda Belanda dengan obyek pariwisata di pulau-pulau kecil dari tinjauan sosial ekonomi maupun manajemen lingkungan.

“Pariwisata Indonesia sangat konsern terhadap sustainable tourism. Dalam mengembangkan pariwisata kita menerapkan prinsip; Semakin dilestarikan, semakin mensejahterakan,” kata Menpar Arief Yahya.  didampingi  Deputi Bidang Pengembangan Industri dan Kelembagaan Kemenpar Ir.Rizki Handayani Mustafa, MBTM.

Menpar Arief  Yahya yang pada kesempatan itu didampingi  Deputi Bidang Pengembangan Industri dan Kelembagaan Kemenpar Ir.Rizki Handayani Mustafa, MBTM  juga mengapresiasi Pulau Sumba di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Pulau Belitung, Provinsi Bangka Belitung (Babel) dijadikan sebagai obyek penelitian. Pulau Belitung, kata Arief Yahya, telah ditetapkan oleh Pemerintah sebagai satu di antara 10 destinasi pariwisata prioritas (DPP) yang akan dijadikan sebagai ‘Bali Baru’.

Sementara itu Pulau Sumba dengan Nihi Sumba Island-nya semakin mendunia dengan diperolehnya penghargaan bergengsi internasional sebagai World’s Best Awards (#1Hotel in The World) secara berturut-turut  pada 2016 dan 2017 oleh  majalah Travel + Leisure.

“Isu menarik yang menjadi salah satu penilaian adalah Nihi Sumba Island berhasil dalam menjaga kelestarian lingkungan atau environment sustainability serta keperdulian sosial terhadap masyarakat sekitar,” kata Arief Yahya

Arief Yahya pun juga mengatakan bahwa, “Environment  sustainability  atau tourism  sustainability  menjadi isu global dan menjadi  perhatian masyarakat internasional termasuk para travelers dunia akan memberikan apreasiasi berupa harga yang lebih tinggi  kepada industri pengelola akomodasi yang berhasil menerapkan tourism  sustainability atau green hotel.

Dalam seminar tersebut ditampilkan tiga kelompok mahasiswa yakni; satu kelompok dari STP Bandung yang mempresentasikan hasil penelitiannya dengan tema ‘Tourism Impact on Socio Culture in Sumba and Belitung Island’, sedangkan dua kelompok dari NHTV-Breda Belanda mempresentasikan tema ‘Tourism on Small Island Destination: Socio Economic Inclusiveness and Environmental Management’.

Selain itu juga ditampilkan empat nara sumber antara lain Sebastiaan Straatman Koordinator Program Sarjana Pariwisata NHTV Breda & Wageningen University and Research; Erdinc Cak Mak Dosen dari NHTV Breda & Wageningen University and Research; Indra Ni Tua, ST, M.Comm Asdep Pengembangan Infrastruktur dan Ekosistem Pariwisata Kemenpar; Drs.Harwan Ekoncahyono W, MT, Asdep Pengembangan Destinasi Regional III Kemenpar; serta dipandu oleh moderator Dr. Beta Budisetyorini, M.Sc, Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat STP Bandung.

Seminar dihadiri sekitar 200 peserta dari  berbagai perguruan tinggi kepariwisataan di Jabodetabek antara lain; Universitas Bina Nusantara, STP Sahid, STP Pelita Harapan, STP Trisakti, dan Tourism and Hospitality Pradita Institute;  perguruan tinggi pariwisata di bawah Kemenpar (STP Bali, Politeknik Pariwisata/Poltekpar Makassar, Poltekpar Palembang, Poltekpar Lombok, dan Akademi Pariwisata Medan); serta Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Kawasan Pariwisata Kementerian Pariwisata, perwakilan Kedutaan Besar Belanda, organisasi non-pemerintah/NGO GIZ, Swiss Contact, perwakilan dari Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman (Bidang Pariwisata Bahari), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Puslitbang Hutan), dan Kementerian Desa, PDTT.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *