Menparekraf Apresiasi Wisata Edukasi di Museum Kapal PLTD Apung Banda Aceh
Menparekraf mengapresiasi pemerintah daerah yang menghadirkan wisata berbasis edukasi di Museum Kapal PLTD Apung. Dimana wisata edukasi ini sangat penting untuk membangun pemahaman bagi para pelajar mengenai sebuah peristiwa atau bencana alam dan bagaimana langkah mitigasinya.

Kapal PLTD Apung sendiri merupakan salah satu saksi bisu bagaimana dahsyatnya peristiwa tsunami yang terjadi di Aceh pada 2004. Sebelumnya kapal ini diketahui sedang berada di Pelabuhan Ulee lheue, Banda Aceh. Namun, setelah gelombang tsunami dengan ketinggian sembilan meter menghantam, kapal PLTD yang memiliki panjang 63 meter dan berat 2.600 ton itupun terseret hingga lima kilometer ke pusat kota Banda Aceh.
Di bagian atas monumen terdapat jam bundar yang menunjukkan waktu dan tanggal pada saat terjadinya bencana tsunami, yakni pada 26 Desember 2004, pukul 07:55 WIB. Lalu, di bagian bawah prasasti berisikan nama-nama korban jiwa di lima dusun. Diantaranya Dusun Tuan Balik Ayei (171 jiwa), Dusun Tuan Dipakeh (212 jiwa), Dusun Tuan Dikandang (350 jiwa), Dusun Lampih Lubhook (276 jiwa), dan Dusun Krueng Doy (68 jiwa). Sementara, di bagian belakang monumen terdapat relief yang menggambarkan bagaimana kapal PLTD Apung ini bisa terdampar.
Di sekitar kawasan kapal PLTD, juga terdapat bangunan rumah yang hancur akibat dihantam tsunami. Kapal ini dikelilingi oleh jembatan yang sudah tua sehingga butuh perbaikan. Untuk kondisi kapalnya sendiri masih utuh, pengunjung dapat melihat ada jangkar yang tergeletak di dek paling bawah, kemudian kabel-kabel yang putus. Selain itu, pengunjung bisa melihat Kota Banda Aceh dari bagian atas kapal. Untuk di bagian dalam kapal terdapat informasi mengenai sejarah PLTD Apung, hingga simulasi kapal ini bisa sampai ke pusat kota Banda Aceh.
Oleh karena itu, Menparekraf berencana untuk membuat suatu event secara hybrid pada 26 Desember 2021, dengan mengundang pihak Rinkai Disaster Prevention Park, Jepang, agar bisa berdiskusi, bertukar gagasan untuk mendukung pengembangan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Museum Kapal PLTD Apung. Menparekraf juga turut mengajak generasi milenial untuk berpartisipasi dalam membuat kegiatan yang dapat mendatangkan manfaat bagi museum ini.
“Hal ini tentunya membuka peluang kita untuk memperbaharui fasilitas di sini, seperti jembatan yang mengitari kapal yang sudah mulai dimakan usia, lalu air mancur, dan juga fasilitas pendukung lainnya,” katanya
“Tahun depan kami juga akan mengajukan Indonesia sebagai tuan rumah dari konferensi besar tentang kebencanaan. Nanti mungkin salah satu side eventnya adalah mengunjungi Museum PLTD Apung,” lanjut Menparekraf.
“Hari ini kita di Toko Pusako menjadi ‘rojali’ yaitu rombongan yang jadi beli, bukan ‘rohali’ rombongan hanya lihat-lihat. Karena pandemi, penurunan kunjungan wisatawan asing terutama dari Malaysia ini turun, lebih dari 70 persen turunnya. Oleh karena itu, kita mendorong wisatawan domestik untuk bisa mengambil peran dan juga bersiap-siap untuk dibukanya kembali Aceh untuk kunjungan wisatawan asing dari Malaysia salah satunya. Tapi butuh kepatuhan kita terhadap protokol kesehatan,” jelasnya. (Sumber Kemenparekraf)

