Menperin Apresiasi Perusahaan Elektronik di Surabaya Pasok Speaker Untuk Mobil Mewah
Patut diancungi jempol yang ditunjukan CV Sinar Baja Electric (SBE) dalam menjual produknya yakni berupa speaker aktif yang mampu menembus pasar dunia. Bukan hanya di kawasan asia, namun pabrik speaker yang berdiri di Surabaya ini mampu melakukan penjualan ke kawasan Eropa, Australia bahkan Amerika.
Pada Selasa (25/5/2021), Menteri Perindustrian Agus Gumiwang mengunjungi pabrik ini. Agus pun kagum mendengar perkembangan pabrik ini yang tetap mulus beroperasi meski di tengah pandemi Covid-19. Yang bikin Menperin terkejut, bran besar otomotif, seperti Yamaha, Honda dan Hyundai menggunakan speaker buatan CV Sinar Baja Electric ini.
Menperin pun memberi apresiasi kepada CV Sinar Baha Electric atas kinerja positifnya tersebut. Ini membuktikan produk dalam negeri tidak kalah saing dengan produk luar negeri.
“Kami mengapresiasi kinerja perusahaan yang tidak hanya sukses menembus pasar ekspor, tetapi juga dapat memperoleh kepercayaan brand besar di level internasional yang mencerminkan kualitas yang tinggi dari produk-produk perusahaan di Indonesia. Customer perusahaan ada juga yang bermain di segmen luxury, yang menunjukkan bahwa produk dalam negeri juga dapat bersaing di kategori high-end tersebut,” kata Menperin saat mengunjungi Pabrik SBE di Surabaya, Selasa (25/5).
Industri speaker dalam negeri mulai meningkatkan utilitas produksinya setelah terdampak pandemi Covid-19. Hal ini didukung oleh pemerintah yang terus mendorong pemulihan ekonomi nasional. SBE, salah satu produsen speaker dalam negeri, juga berangsur dapat mengembalikan utilitasnya dan berupaya untuk terus memperluas bisnis.
“Dalam kondisi yang menantang bagi industri saat ini, Kementerian Perindustrian akan terus mendukung para pelaku industri. Salah satunya dengan pelaksanaan program substitusi impor untuk mempercepat pemulihan utilitas produksi industri. Pemerintah terus memprioritaskan produk-produk yang sudah dapat diproduksi oleh industri dalam negeri agar dapat lebih diserap oleh pasar dalam negeri,” tutur Agus.
SBE memiliki kapasitas produksi 12 juta unit per tahun dengan produk yang mencakup Hi-End Audio, Professional Audio dan Car Audio. Perusahaan memproduksi speaker dengan merek sendiri maupun subkontrak (OEM). Di sisi lain, nilai impor produk speaker pada tahun 2020 masih cukup tinggi, sekitar USD74 Juta, Namun telah menurun dari impor tahun 2019 yang mencapai USD115 Juta.
Menperin sepakat bahwa pemerintah harus mendukung industri speaker dalam negeri agar dapat lebih diterima di pasar dalam negeri, mengingat sekitar 40% produknya sudah tembus di pasar ekspor. Ke depan, produk speaker dalam negeri ini akan didorong untuk menyuplai industri-industri pengguna misalnya industri otomotif, televisi, maupun ponsel.
Hal tersebut diharapkan dapat memberikan multiplier effect yang besar untuk perekonomian nasional. Sebagai contoh, saat ini, suplai ke industri otomotif masih relatif kecil dan akan diupayakan untuk ditingkatkan. “Selain itu, kami juga akan mendorong agar produk speaker ini dapat masuk ke industri produk-produk high-tech seperti ponsel atau earphone,” papar Agus.
Ia menambahkan, pemerintah saat ini menggunakan pendekatan local purchase bagi industri agar dapat memperoleh insentif sekaligus membentuk pasar bagi produk-produk komponen seperti speaker. “Ini merupakan upaya peningkatan penggunaan barang-barang dalam negeri agar bisa masuk ke supply chain yang lebih besar,” jelas Menperin.
Ketersediaan komponen speaker untuk produk mobil di dalam negeri tentunya akan meningkatkan daya saing produk mobil dalam negeri. Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin, Taufiek Bawazier menyampaikan pentingnya pendalaman struktur industri untuk bersaing di pasar global.
