Mentan Jawab Kritik Netizen: Harga Beras Tak Bisa Turun Seenaknya

0
a83398664510fc8378ecf77322a4b0e6

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sedang menyampaikan keterangan pers (Foto: BPMI Setpres)

El John News, Jakarta-Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman merespons kritik masyarakat terkait harga beras yang masih tinggi meskipun stok beras nasional disebut melimpah. Menurut Amran, persoalan harga beras tidak bisa dilihat hanya dari sudut pandang konsumen, tetapi juga harus mempertimbangkan kesejahteraan petani sebagai produsen utama pangan nasional.

Dalam keterangannya di Jakarta Selatan, Rabu (6/5/2026), Amran mengungkapkan bahwa pendapatan petani di Indonesia masih tergolong rendah. Berdasarkan perhitungan bersama mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) seluruh Indonesia, rata-rata pendapatan petani hanya sekitar Rp37 ribu per hari.

“Pendapatannya petani per hari kita hitung sama mahasiswa BEM seluruh Indonesia, itu pendapatannya hanya Rp37 ribu per hari. Satu petani,” kata Amran.

Ia menilai angka tersebut masih jauh dibandingkan profesi lain. Bahkan, menurutnya, harga satu bungkus rokok saat ini hampir setara dengan penghasilan harian petani.

“Kemudian tukang batu itu pendapatannya bisa Rp75 ribu. Kemudian rokok harganya Rp40 ribu. Sekarang yang mahal mana?” ujarnya.

Amran menegaskan pemerintah saat ini berupaya menjaga keseimbangan antara kepentingan konsumen dan kesejahteraan petani. Ia menyebut beras merupakan komoditas strategis yang dikonsumsi hampir seluruh masyarakat Indonesia sehingga stabilitas harga menjadi perhatian utama pemerintah.

“Kalau beras kan dikonsumsi semuanya. Makanya beras karena dikonsumsi banyak orang kita jaga,” katanya.

Menurut Amran, dorongan agar harga beras diturunkan secara drastis justru berisiko menekan pendapatan petani yang selama ini masih berada di level rendah. Ia mempertanyakan apakah masyarakat siap jika pendapatan petani kembali turun akibat harga gabah dan beras yang jatuh.

“Sekarang, mau diturunkan (harga) beras? Saya tanya, pendapatannya petani Rp37 ribu, mau enggak turun lagi (jadi) Rp10 ribu per hari? Ya jangan,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan agar pembahasan mengenai pangan nasional dilakukan secara rasional dan mempertimbangkan seluruh aspek, termasuk keberlangsungan hidup petani di daerah.

“Jangan pakai rasa mengelola negara, jangan pakai rasa memberi opini tapi rasio,” ucap Amran.

Pernyataan tersebut muncul di tengah sorotan publik mengenai harga beras yang belum menunjukkan penurunan signifikan meskipun pemerintah mengklaim cadangan beras nasional berada dalam kondisi aman. Pemerintah sebelumnya menyampaikan bahwa Cadangan Beras Pemerintah (CBP) telah mencapai sekitar 5,2 juta ton, yang disebut menjadi stok tertinggi sepanjang sejarah Indonesia.

Namun demikian, data Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan menunjukkan harga beras masih mengalami kenaikan tipis. Per 5 Mei 2026, harga beras medium tercatat naik 0,04 persen menjadi Rp13.728 per kilogram dari sebelumnya Rp13.723 per kilogram. Sementara harga beras premium naik 0,11 persen menjadi Rp15.394 per kilogram dari sebelumnya Rp15.377 per kilogram.

Kondisi tersebut memunculkan perdebatan di masyarakat. Sebagian menilai stok melimpah seharusnya mampu menekan harga di pasar, sementara pemerintah menilai stabilitas harga tetap diperlukan agar petani tidak semakin terpuruk secara ekonomi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *