Menteri Susi Ajak Pengusaha Jepang Berinvestasi di Pulau Terluar RI
Kunjungan kerjanya ke Jepang dijadikan peluang bagi Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti untuk menawarkan investasi di Indonesia kepada para pengusaha Jepang. Peluang investasi yang ditawarkan orang nomer satu di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) itu yakni pembangunan sentra kelautan dan perikanan terpadu (SKPT) di enam pulau terluar Indonesia. Susi menilai Jepang adalah negara yang tepat untuk berinvestasi di sektor ini mengingkat konsumsi ikan di Jepang tertinggi dibandingkan negara-negara lain.
“Saya pikir beberapa kali saya datang ke sini dan tentu di enam pulau terluar diprioritaskan pengusaha dari Jepang,” kata Susi di Kantor JETRO, Tokyo, Rabu, 30 Mei 2018.
Susi menjelaskan investasi sektor perikanan di Indonesia sangat menjanjikan. Para investor yang menanamkan modalnya di sektor tersebut akan meraih untung yang besar, mengingat stok ikan Indonesia cukup banyak, apalagi di kuartal pertama tahun 2018. Selain itu, saat ini perdagangan sektor perikanan sedang mengalami surplus
“Situasi di Indonesia sektor perikanan sekarang perkembangan stok ikan MSY (ikan lestari) naik tinggi, biomass tumbuh 3,6 kali. Surplus perdagangan komoditi salah satunya kuartal I adalah perikanan hampir US$ 1 miliar. Hasilnya sangat luar biasa,” ujar Susi.
Menurut Susi saat ini ikan untuk jenis apa saja kini mudah ditemukan di Indonesia, termasuk tuna. Dahulu ikan tuna sulit ditemukan, namun kini Nelayan tidak perlu lagi pergi jauh ke tengah laut untuk mendapatkan ikan Tuna.
“Ikan tuna ukuran-ukuran besar 70, 80, 90 kilogram didapatkan masyarakat dalam range 5-8 mil saja bahkan beberapa 2 mil dari pantai, jadi luar biasa. Ini kesempatan besar Jepang revitalisasi industri tuna dan kesempatan besar 6 titik SKPT di lumbung-lumbung yang banyak ikan,” tutur Susi.
Adapun keenam SKPT yang ditawarkan Susi, antara lain SKPT Sabang, SKPT Natuna, SKPT Morotai, SKPT Saumlaki, SKPT Moa, dan SKPT Biak Numfor.
