Menteri Susi: Ekspor Perikanan Tahun Ini Menunjukan Peningkatan

0
Pekerja mengangkut ikan tengiri di Tempat Pelelangan Ikan, Karangsong, Jawa Barat, Selasa (11/2)

Pekerja mengangkut ikan tengiri di Tempat Pelelangan Ikan, Karangsong, Jawa Barat, Selasa (11/2). Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan mendorong investasi di sektor perikanan sehingga mampu menyerap tenaga kerja di sektor tersebut. ANTARA FOTO/Dedhez Anggara/ss/Spt/14.

Intruksi Presiden Jokowi agar Kementerian  mendorong volume ekspor,  sepertinya sudah dijalani Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. Susi mengatakan  volume ekspor perikanan tahun ini memang telah menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun lalu.

“Volume ekspor produk perikanan periode Januari – Juli 2018 telah meningkat 15,24 persen dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2017. Peningkatan ini diharapkan masih akan terus terjadi hingga akhir 2018,” kata Susi  yang  muat di website KKP, Selasa, 31 Juli 2018.

Susi  memaparkan, di tahun 2017 volume ekspor ikan mencapai 7.003 high cube (HC), sedangkan di pertengahan tahun ini sudah mencapai 8.070 HC. “Mudah-mudahan peningkatannya bisa sampai 14.000 HC hingga akhir tahun mendatang,” lanjut Menteri Susi.

Pencapaian ini cukup menggembirakan karena peningkatan ekspor ini dibarengi dengan penurunan angka komoditas perikanan impor. Volume komoditas impor yang terdiri dari tepung ikan, bahan baku pakan, frozen sardine, frozen mackerel, dan fish oil nyatanya mengalami penurunan.

Volume impor komoditas tepung ikan misalnya, periode Januari – Juli 2017 mencapai 15,33 persen, sedangkan di periode yang sama tahun 2018 turun menjadi 7,91 persen. Begitu pula dengan impor komoditas sardine frozen yang mencapai 36,26 persen pada 2017 turun menjadi 17,14 persen di tahun 2018.

“Hal ini menunjukkan bahwa bahan baku dalam negeri, ekspor kita lebih banyak dibandingkan yang impor,” tegas  Susi.

Menurut Menteri Susi, Surabaya juga kaya akan komoditas udang vaname, cakalang, tuna beku, udang beku/olahan, dan ikan segar seperti kakap, layur, kerapu, dan laosa.

Beberapa komoditas konsumsi ekspor andalan Balai KIPM Surabaya II berdasarkan volumenya di antaranya frozen fish (ikan beku), frozen shrimp (udang beku), crab meat (daging kepiting), frozen squid (cumi beku), dried chirimen (teri kering), frozen octopus (gurita beku), shrimp crackers (kerupuk udang), seaweed (rumput laut), jelly fish (ubur-ubur), dan dried shark fins (sirip hiu kering).

Adapun komoditas ekspor andalan non konsumsi di antaranya crab shell (cangkang kepiting), shrimp sell (kulit udang), fish for bait (umpan pancing), sea shell (kerang laut), fish meal (makanan ikan), fish oil (minyak ikan), dan fish/shrimp feed (pakan ikan dan udang).

 

 

Saat rapat terbatas bahas strategi Kebijakan Memperkuat Cadangan Devisa di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat,  Selasa, 31 Juli 2018, Presiden Jokowi,  menekankan dua hal penting yang harus dilakukan sebagai strategi kebijakan untuk memperkuat cadangan devisa agar ekonomi Indonesia semakin kuat dan meningkat dalam menghadapi ketidakpastian global, yaitu pengendalian impor dan peningkatan ekspor.

“Saya minta dievaluasi lagi secara detail impor, barang-barang yang tidak bersifat strategis yang perlu kita setop dulu atau dikurangi atau diturunkan,” tegas Presiden dalam pengantar ratas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *