NFA Dorong Pembenahan Terpadu Hulu-Hilir untuk Wujudkan Swasembada Gula Nasional

0
ba8be75c-0ef5-4dae-91c2-fc38f9fbb5bb

Dalam rangka mewujudkan kemandirian Indonesia di sektor pangan, khususnya komoditas gula, Badan Pangan Nasional atau National Food Agency (NFA) menekankan pentingnya pendekatan menyeluruh dari hulu ke hilir. Komitmen ini menjadi bagian integral dari strategi besar pemerintah dalam memperkuat ketahanan dan kedaulatan pangan nasional, sekaligus mendorong kontribusi sektor pertanian terhadap transisi energi.

Kepala NFA, Arief Prasetyo Adi, menyampaikan bahwa upaya swasembada gula tidak dapat dilakukan secara parsial. Dibutuhkan langkah-langkah komprehensif dan berkelanjutan yang mencakup seluruh rantai pasok, mulai dari pembibitan dan penanaman tebu, perbaikan infrastruktur pendukung, hingga modernisasi industri pengolahan gula.

“Jika kita ingin mencapai swasembada secara utuh dan berkelanjutan, maka pendekatannya harus menyeluruh. Pemerintah tidak hanya memperhatikan sisi produksi di lapangan, tetapi juga mendorong peningkatan kualitas pengolahan pascapanen. Revitalisasi pabrik-pabrik gula yang sudah tidak efisien juga menjadi prioritas,” ujar Arief dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (19/6/2025).

Arief mengungkapkan bahwa sebagian besar pabrik gula di Indonesia saat ini masih menggunakan teknologi lama dan memiliki kapasitas rendah. Hal ini berdampak pada rendahnya rendemen atau tingkat efisiensi ekstraksi gula dari tebu. Padahal, rendemen yang tinggi sangat menentukan efisiensi produksi dan nilai keekonomian gula nasional.

“Banyak pabrik kita sudah berusia tua. Jika tidak dilakukan pembaruan teknologi dan peremajaan fasilitas, maka kita akan sulit bersaing, apalagi memenuhi kebutuhan nasional dari produksi dalam negeri,” tambahnya.

Lebih jauh, Arief menjelaskan bahwa pembenahan tidak hanya menyasar sisi hilir, tetapi juga harus dimulai dari hulu. Dalam hal ini, pemanfaatan benih unggul, ketersediaan pupuk yang memadai, pembangunan jaringan irigasi, serta perbaikan manajemen lahan menjadi kunci utama dalam meningkatkan produktivitas tanaman tebu.

NFA juga mendukung program ekstensifikasi lahan tebu di wilayah-wilayah potensial seperti Merauke dan daerah lainnya. Dengan perluasan areal tanam, diharapkan kapasitas produksi nasional meningkat secara signifikan, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor gula yang selama ini masih cukup tinggi.

“Kita tidak bisa terus menerus bergantung pada impor. Oleh karena itu, kami mendukung penuh langkah-langkah konkret dari Kementerian Pertanian dalam menyediakan bibit berkualitas dan lahan-lahan baru yang siap tanam,” terang Arief.

Ia juga menyoroti bahwa kebutuhan gula nasional saat ini tidak hanya untuk konsumsi rumah tangga, tetapi juga untuk mendukung sektor energi. Dengan berkembangnya agenda transisi energi di Indonesia, peran gula sebagai bahan baku bioetanol menjadi semakin strategis. NFA menilai bahwa Indonesia dapat meniru keberhasilan Brasil dalam mengembangkan industri gula sekaligus bioenergi secara terintegrasi.

“Ini bukan hanya soal gula sebagai bahan makanan. Kita juga sedang bicara tentang energi masa depan. Bioetanol bisa menjadi solusi transisi energi yang ramah lingkungan, dan tebu bisa memainkan peran besar di sana. Maka dari itu, seluruh fondasinya harus disiapkan dari sekarang,” tegas Arief.

Melalui pendekatan lintas sektor dan sinergi antar lembaga, pemerintah berharap dapat mewujudkan cita-cita besar swasembada gula dalam beberapa tahun mendatang. Tidak hanya untuk memperkuat ketahanan pangan nasional, tetapi juga sebagai pijakan menuju ketahanan energi berbasis sumber daya dalam negeri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *