Operasi Satu-satunya Solusi Atasi Penyakit Katarak
Katarak merupakan penyakit mata yang ditandai dengan mengeruhnya lensa mata. Di Indonesia, penyakit ini paling banyak dirasakan oleh masyarakat dan berbagai macam penyebabnya, diantaranya paparan sinar matahari. Apalagi Indonesia merupakan negara tropis yang sinar mataharinya terlalu kencang.
Selain itu, penyebab lainnya adalah faktor penuaan, bawaan lahir, cedera mata hingga adanya penyakit tertentu yang memicu terjadinya katarak, seperti diabetes dan jantung.
Dokter Spesialis Mata, dr. Andreas Surya Anugerah, Sp.M menjelaskan keluhan apa saja yang dirasakan penderita katarak. Selama menjadi seorang dokter mata, dokter Andreas mengatakan banyak sekali gejala yang dirasakan pasien, di antaranya adalah melihat ada kotoran yang membayangi penglihatan. Selain itu ada juga yang merasakan seperti di mata terasa pegal atau berat.
“Kemudian ada juga yang memberikan keterangan sensasinya seperti waterfall, jadi melihat dari balik air terjun. Coba kita bayangkan kita melihat dari balik air terjun jadi seperti itu kaburnya. Kemudian ada lagi ini yang agak lain seperti mata berair, kemudian matanya kotor seperti ada pasir, kemudian matanya seperti pegal tidak nyaman atau matanya seperti berat. Jadi gejala atau keluhannya sangar bervariasi banget,” kata dokter Andreas saat menjadi narasumber dalam program EL JOHN Medical Forum yang rutin disiarkan oleh EL JOHN TV.
Dokter Andreas menerangkan, cara terbaik untuk mengobati katarak adalah dengan operasi. Masyarakat diharapkan tidak mudah tergiur dengan iming-imingan dapat mengobati katarak tanpa operasi. Selama ini belum ada obat-obatan yang dapat mengatasi katarak atau mencegah kondisi ini bertambah buruk. Operasi katarak merupakan satu-satunya cara yang dapat dilakukan untuk memperbaiki penglihatan penderita katarak.
Operasi katarak adalah prosedur bedah yang dilakukan untuk mengangkat lensa mata yang keruh dan menggantinya dengan lensa buatan. Secara umum, operasi katarak merupakan prosedur yang aman dan jarang menimbulkan komplikasi.
Sebelum melakukan tindakan operasi, harus ada kesiapan si pasien. Operasi tidak akan optimal jika si pasien masih sangat meragukan untuk menjalani operasi. 
“Kapan sih sebaiknya dioperasi, itu pertimbangan dari pertama si pasien. Pasiennya sesuai kebutuhannya jadi individual. Ada pasien yang tidak perlu mungkin karena masalah takut, atau masalah biaya, atau tidak perlu-perlu amat. Tetapi ada juga orang yang bilang, saya perlu banget dok, saya harus keluar, saya harus bawa kendaraan, saya haru kerja,” ujar dokter Andreas.
Selain kesiapan pasien, juga harus berdasarakan pertimbangan dokter. Dokter mata bisa saja menganjurkan operasi katarak sesegera mungkin, meski pasien tidak merasa bahwa penglihatannya sudah sangat terganggu. Biasanya ini disebabkan oleh kondisi katarak yang sudah atau dapat menyebabkan komplikasi atau penyakit mata lain. Operasi yang dilakukannya tidak boleh sekaligus dua mata, jika kasusnya dua mata si pasien mengalami katarak.
“Jadi komunikasi yang baik antara pasien dengan dokter harus benar-benar baik. Jadi pasien bukan hanya cerita keluhan saja, tetapi aktivitasnya harus diketahui juga bagaimana penglihatan itu bisa mendukung aktivitas setiap hari. Ketika penglihatan tidak mampu mendukung aktivitas, maka ini benar segera dilakukan operasi pembersihan katarak,” terang dokter Andreas.
Untuk menjalani operasi, si pasien harus mengikuti prosedur yang telah ditetapkan. Salah prosedur yang dijalani adalah soal pembiusan. Untuk operasi katarak, lazimnya digunakan bius lokal, karena pemulihannya tidak memakan waktu yang panjang.
“Jadi tidak perlu pasien di general anestesi atau ditidurkan, karena mengingat general anestesi itu kan pemulihannya sampai beberapa hari. Nah kalau lokal kan relatif lebih cepat, boleh langsung pulang,” ungkap dokter Andreas.
Operasi berhasil dijalani, bukan berarti si pasien sembuh. Karena ada beberapa ketentuan yang harus dijalani si pasien. Ketentuan itu berupa larangan melakukan hal-hal yang membahayakan mata selama waktu yang ditentukan oleh dokter, seperti mata yang dioperasi tidak boleh terkena sinar matahari dan harus dalam keadaan tertutup perban, untuk perban tidak boleh dibuka sembarang dan harus dokter membuka perban tersebut. Karena itu setelah operasi, si pasien harus menjalani kontrol.
“Kemudian pasca operasi katarak, pasiennya kira-kira patuh ga ya buat control, karena setelah operasi katarak tidak langsung selesai tetap di follow up sampai kira-kira dua bulan, tiga bulan. Jadi pertimbangan dari keseluruhan ini, kesiapan pasien itu sangat menentukan,” ujar dokter Andreas.