DestinationHeadline NewsMarine Tourism

Pemkab Berau Siap Perangi Perburuan dan Perdagangan Penyu

Selama berabad-abad, penyu telah diburu demi mendapatkan karapasnya untuk dibuat sebagai hiasan dan barang-barang lainnya.Keunikan pada karapas penyu sisik membuat spesies ini digemari dan paling banyak diburu untuk mendapatkan karapasnya. Meski perdagangan karapas penyu merupakan perbuatan melanggar hukum, namun masih banyak orang melakukannya. Alhasil, penyu sisik pun terancam punah.

Di kabupaten Berau, Kalimantan Timur, Aktivitas perburuan terhadap penyu masih terus saja terjadi. Bahkan, sepanjang 2015 hingga 2016, perburuan di Berau menyumbangkan 51 persen penyelundupan penyu ke Pulau Bali. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau yang gencar mempromosikan pariwisata, dengan penyu sebagai salah satu daya tariknya, tegas melarang aktivitas perburuan itu.

Apalagi, perlindungan terhadap penyu juga sudah diatur dengan Undang-Undang (UU) Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Wakil Bupati  Berau Agus Tantomo pun sudah menyatakan sikapnya yang dengan tegas mengecam aktivitas perburuan, penangkapan dan perdagangan satwa langka tersebut. “Sikap saya jelas, sudah tidak ada lagi toleransi untuk hal-hal yang seperti ini (perburuan dan perdagangan penyu),” tutur Agus beberapa waktu lalu.

Sikap Agus ini tak main-main, bahkan ia tak segan-segan untuk memintah aparat untuk menindak tegas segala aktivitas eksploitasi terhadap penyu. Sehingga, penyu-penyu yang ada di perairan Berau bisa tetap terjaga dan lestari.

Ditanya soal kontribusi 51 persen aktivitas perdagangan penyu dari Berau ke Bali, Agus menegaskan ke depan tidak ingin ada lagi aktivitas perburuan dan perdagangan penyu. “Pokoknya tidak boleh (ada lagi), mau seberapa persen dan dijual kemanapun itu,” tegasnya.

Berau memang diketahui memiliki wilayah pulau-pulau kecil yang menjadi habitat peneluran penyu, khususnya penyu hijau, terbesar di Indonesia. Hal tersebut sangat menguntungkan Bumi Batiwakkal karena menjadi potensi untuk objek wisata alam. Namun, di sisi lain, adanya perburuan penyu yang dilakukan masyarakat membuat populasi penyu di Berau turut terancam karena diambil telur, daging dan karapasnya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau Mappasikra Mappaseleng mengaku keberadaan penyu cukup berpengaruh terhadap pariwisata Berau. Meski secara nominal dirinya tidak mengetahui nilai ekonomi seekor penyu, namun berdampak pada masyarakat yang memiliki usaha yang berkaitan dengan wisata.

“Misalnya, jasa transportasi, penginapan, makanan di tempat wisata dan lainnya,” ujarnya

 

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button