CultureDestinationHeadline NewsTourism

Peringati Hari Angklung Sedunia, Ribuan Orang Mainkan Angklung di Gedung Sate

Ada yang berbeda di Gedung Sate Bandung pada hari Minggu, 19 November 2017. Pada hari itu,  ribuan orang berkumpul di halaman Gedung Sate. Mereka yang berkumpul adalah pemain angklung yang jumlahnya mencapai 6.000 orang. Para pemain angklung ini berasal dari 150 sekolah, mulai tingkat taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Tujuan mereka bermain angklung tak lain untuk memperingati Hari Angklung sedunia atau yang disebut dengan Angklung’s Day.

Acara yang  diprakarsai oleh Saung Angklung Udjo dan Keluarga Besar Bumi Siliwangi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat ini, mengangkat tema `Karya Nyata Pemersatu Bangsa. Sesuai dengan temanya,lagu daerah sebagi bagian dari pemersatu bangsa ikut dimainkan. Selain itu ada juga lagi kekinian dan lagu medley. Lantunan Angklung pun menggema di Gedung Sate.

 

Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar atau Demiz mengatakan, Angklung`s Day 2017 digelar untuk memperingati diakuinya angklung, alat musik khas Jawa Barat, pada sidang ke-5 Inter-Governmental Committe Unesco di Nairobi, Kenya, 16 November pukul 16.20 waktu setempat, ditetapkan sebagai The Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity.

Demiz menilai dengan diakuinya Angklung ini makan salah satu alat musik tradisional khas Jawa Barat ini tidak boleh dilupakan, harus ada rasa bangga dalam melestarikan alat musik tersebut dan juga memperbanyak  menggelar kegiatan yang berkaitan dengan angklungSupaya Angklung sebagai alat musik asli Jawa Barat tetap diakui dunia.

“Sudah tujuh tahun angklung menjadi warisan budaya tak benda yang ditetapkan oleh UNESCO. Ini akan dicabut andaikata kegiatan angklung tidak tumbuh dan berkembang di masyarakat, karena itulah kita selalu remainding (ingatkan) dengan kegiatan Angklung`s Day,” kata Demiz.
Ia juga menyebut, di era ekonomi kreatif saat ini, angklung memiliki nilai jual sebagai seni pertunjukan dan angklung dapat menjadi atraksi bernilai ekonomis yang dapat memajukan wisata nasional.

“Angklung juga jadi potensi besar pada era industri kreatif saat ini, yang bila dikembangkan akan bernilai ekonomi kalau dikemas dengan baik,” ujar dia.

Dengan melibatkan para siswa sebagai peserta pada Angklung`s Day kali ini, anak-anak muda diharapkan dapat mengenal dan mencintai budaya bangsa sejak dini.

Sehingga tumbuh kesadaran untuk dapat melestarikan budaya itu sehingga tak hilang digerus zaman.

“Jadi bagaimana mendekatkan anak-anak tadi ada dari TK, SLB, SD, Tsanawiyah, dan semua jenjang sekolah hingga perguruan tinggi, supaya mereka mengetahui dan mengenal budaya sendiri yaitu angklung, jadi harus ditumbuhkan kebanggaan di jiwa generasi muda,” katanya.

Angklung juga mengajarkan kesatuan dan kebersamaan, ungkap Demiz seperti diketahui, angklung akan meriah ketika dimainkan lebih dari satu orang, karena satu angklung memiliki satu nada.

Ketika konduktor memberi aba-aba untuk menainkan lagu tertentu secara bersama-sama, maka alunan musik angklung terdengar harmoni. Filosofinya, ketika sekolompok orang bersatu bersama-sama, maka akan tercapai cita-cita bersama yang diinginkan.

“Angklung sebagai instrumen musik legendaris di Indonesia bisa menjadi simbol persatuan dan kesatuan,” tutupnya. (Sumber Antara)

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button