Perkuat Jembatan Bisnis Indonesia–Tiongkok, ICBC dan KADIN Beijing Bahas Peluang Investasi

Hubungan dagang dan investasi antara Indonesia dan Tiongkok kembali diperkuat melalui pertemuan strategis antara Indonesia China Business Council (ICBC) dan Beijing Federation of Industry and Commerce atau yang dikenal sebagai KADIN Beijing.
Pertemuan yang berlangsung di kantor ICBC, Plaza Maspion, Jakarta Pusat, pada Senin (3/11/2025), dihadiri oleh 11 delegasi KADIN Beijing yang dipimpin oleh Mr. Yan Weiqun. Kunjungan ini menjadi bagian dari rangkaian agenda kerja sama ekonomi dan industri antara kedua negara yang tengah gencar mengembangkan kolaborasi di bidang energi baru, manufaktur, dan teknologi digital.
Rombongan delegasi KADIN Beijing disambut langsung oleh jajaran pengurus ICBC, antara lain Ketua Harian ICBC Ali Husein, Wakil Ketua Harian Hasan Kosasih Ko dan Suwandi Lim, serta Wakil Sekretaris Jenderal Suryawan Wijaya.
Pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana hangat dan produktif, di mana kedua pihak saling bertukar pandangan mengenai peluang investasi, potensi kerja sama industri, serta strategi memperkuat sinergi bisnis antara pelaku usaha Indonesia dan Tiongkok.
Kepada pengurus ICBC, delegasi pemaparan tentang kemajuan industri Beijing di bidang energi terbarukan dan teknologi digital cerdas.
Beijing menjadi salah satu kota pionir dalam pengembangan industri panel surya di Tiongkok. Lebih dari 300 perusahaan di wilayah Beijing dan sekitarnya kini aktif memproduksi modul solar cell berkapasitas tinggi dengan teknologi efisiensi konversi mencapai lebih dari 25%, angka yang menyaingi produsen global.

Keunggulan utama solar cell produksi Beijing terletak pada material berbasis monocrystalline silicon berkualitas tinggi dan teknologi lapisan nano transparan yang mampu menangkap cahaya lebih banyak bahkan dalam kondisi cuaca mendung.
Selain panel surya, sektor baterai kendaraan listrik menjadi fokus kedua dalam paparan delegasi Beijing. Yan menjelaskan bahwa pemerintah Beijing telah mendorong kolaborasi antara lembaga riset dan produsen otomotif untuk menghasilkan baterai generasi baru dengan daya tahan lebih lama, waktu pengisian lebih cepat, serta tingkat keamanan tinggi.
Keunggulan utama solar cell produksi Beijing terletak pada material berbasis monocrystalline silicon berkualitas tinggi dan teknologi lapisan nano transparan yang mampu menangkap cahaya lebih banyak bahkan dalam kondisi cuaca mendung.
Di sektor Beijing kini memiliki klaster industri yang khusus berfokus pada baterai lithium iron phosphate (LFP) dan solid-state battery, yang dinilai lebih stabil dan efisien dibandingkan teknologi baterai konvensional.
Paparan terakhir difokuskan pada keunggulan Beijing dalam riset dan penerapan teknologi kecerdasan buatan (AI). Kota ini kini menjadi rumah bagi lebih dari 1.000 perusahaan rintisan (startup) AI yang bergerak di berbagai bidang, mulai dari otomatisasi industri, manufaktur pintar, hingga logistik berbasis machine learning.

Ketua Harian ICBC Ali Husein, mengungkapkan para delegasi menunjukkan ketertarikan besar terhadap peluang investasi di Indonesia, terutama di sektor energi baru, kendaraan listrik, dan teknologi cerdas.
Menurut Ali, kunjungan delegasi yang dipimpin oleh Mr. Yan Weiqun tersebut merupakan bagian dari upaya Beijing untuk memperluas pasar global, seiring dengan tingginya kapasitas produksi di dalam negeri.
“Mereka datang ke Indonesia untuk mencari peluang. Di Tiongkok, produksi sudah sangat tinggi, bahkan bisa dikatakan over product. Karena itu, mereka ingin membawa sebagian kegiatan bisnis dan produksinya ke Indonesia,” ujar Ali Husein kepada tim liputan EL JOHN Media.
Ali menjelaskan bahwa pihaknya berharap Indonesia dapat memberikan fasilitas yang kondusif bagi investasi Tiongkok, baik dalam bentuk kerja sama produksi, pendirian pabrik, maupun transfer teknologi.
“Kita berharap mereka tidak hanya menjual produk ke Indonesia, tetapi juga berinvestasi dan memproduksi langsung di sini. Kita ingin kerja sama yang saling menguntungkan,” jelasnya.

Menurut Ali, delegasi Beijing memandang Indonesia sebagai mitra yang sangat potensial dengan pasar besar dan stabilitas ekonomi yang kuat. Ia menyebut minat pengusaha Tiongkok terhadap Indonesia meningkat pesat dalam dua tahun terakhir.
“Mereka melihat Indonesia dengan sangat positif. Sekarang penerbangan langsung dari Tiongkok ke Indonesia sudah ada 15 hingga 20 pesawat setiap hari. Itu menandakan meningkatnya intensitas bisnis dan kunjungan,” ungkapnya.
Ali menyoroti bahwa salah satu alasan utama ketertarikan pengusaha Beijing adalah besarnya pasar kendaraan bermotor di Indonesia, terutama untuk kategori motor listrik yang tengah berkembang pesat.
“Indonesia itu pasar sepeda motor nomor satu di dunia. Perkembangannya luar biasa. Nah, sekarang tren-nya menuju kendaraan listrik, dan ini peluang besar bagi mereka,” kata Ali.
Ia menambahkan bahwa arah kebijakan energi global yang mulai meninggalkan bahan bakar fosil (bensin) menjadi momentum tepat bagi investor Tiongkok untuk mendirikan pabrik komponen motor listrik, baterai, dan teknologi pendukungnya di Indonesia.
“Bensin mungkin pelan-pelan akan digeser. Karena itu, kami mendorong agar mereka bisa merelokasi pabriknya ke sini. Dan sejauh ini, mereka menyatakan minat yang cukup kuat untuk itu,” tutur Ali.

Ali menegaskan bahwa ICBC sangat mendukung langkah relokasi industri dari Tiongkok ke Indonesia. Hal ini tidak hanya akan memperkuat struktur industri nasional, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan alih teknologi bagi tenaga kerja lokal.
“Kami mengharapkan mereka tidak hanya menjadikan Indonesia sebagai pasar, tetapi juga sebagai basis produksi. Kalau mereka produksi di sini, maka nilai tambahnya akan lebih besar bagi perekonomian kita,” tegasnya.
Ali menambahkan, jika relokasi industri tersebut terwujud, maka potensi ekspor Indonesia akan meningkat signifikan karena sebagian besar bahan baku lokal dapat diolah langsung di dalam negeri.
“Potensi ekspor kita akan sangat besar. Sumber daya alam kita banyak — kelapa, karet, dan berbagai produk pertanian yang dibutuhkan di sana. Tapi kita ingin mereka olah di sini, jangan hanya mengambil bahan mentah,” jelasnya.
Menutup pernyataannya, Ali menegaskan pentingnya kerja sama dengan Tiongkok dilakukan dengan prinsip saling menguntungkan dan berorientasi pada penguatan industri dalam negeri.
“Kita ingin agar semua kerja sama ini tetap berpihak pada penguatan industri nasional. Sesuai dengan arahan Ketua Umum ICBC, kita harus mencintai dan memajukan produk-produk Indonesia,” tegasnya.
