Pesona Danau Toba, Berkah Bentukan Kaldera Terbesar di Dunia

0
Toba

“Pusat Informasi Geopark Nasional Kaldera Toba” yang baru diresmikan oleh Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan. Kami berkesempatan mengunjungi pusat informasi tersebut. Ditemani geologis Kementerian ESDM, Oki Oktariadi, kala membuka pintu bangunan, kami seketika takjub dengan desain gedung. Ditambah tersedianya audio dan visual secara dwi bahasa, Indonesia-Inggris. “Keren ini,” saut dalam benak hati kami.

“Gunung Toba diperkirakan meletus 75.000 tahun yang lalu dan jauh lebih dahsyat dari letusan Gunung Tambora, Gunung Krakatau bahkan bom Hiroshima. Inilah yang disebut supervolcano,” Danau Toba berukuran 30 hingga 100 km. Tinggi reliefnya mencapai 1.700 m.

Penelusuran para ahli menyebutkan letusan Gunung Toba mencapai Volcanic Explocity Index (VEI) 8. Letusan ini menyerupai level letusan Gunung Yellowstone di Amerika Serikat, yang terjadi di era prasejarah. Berdasarkan estimasi para ahli, letusan itu melontarkan volume material setidaknya 2.800 kilometer kubik atau yang dikenal Youngest Toba Tuff (YTT).

Luncuran awan panas dan timbunan abu bergerak menutupi seluruh dunia termasuk India. Seluruh permukaan Anak Benua India ditimbuni abu letusan dengan ketebalan rata-rata 15 cm. Bahkan sebuah tempat di India bagian tengah, ketebalan abu hasil letusan Gunung Toba bahkan mencapai 6 meter. “Karena abu itu, di India ada semacam badan penelitian khusus Toba,” seloroh Oki.

Semburan tersebut berujung pada perubahan iklim dunia secara ekstrem. Musim dingin berkepanjangan dan tumbuhan langsung berguguran.

Menurut Van Bemmelen, Danau Toba terbentuk lantaran areal besar anjlok setelah letusan akibat dimuntahkannya material vulkanik dengan volume yang sangat besar dan kuat, membentuk kaldera, yang terisi dengan air hujan. Oki memberikan deskripsi terkait penyebutan kawah dengan kaldera. “Disebut kaldera kalau panjang diameter kepundan lebih dari 1.600 meter,” jelasnya.

Tak cukup di situ, dampak letusan membawa berkah tersendiri. “Dasar dari kaldera terangkat membentuk (pulau) Samosir akibat tekanan ke atas oleh magma,” mengutip buku Warisan Geologi Sumatera (2016:89) terbitan Badan Geologi.

Konsep Geopark, imbuh Oki, mengangkat jejak bumi yang punya nilai dan perlu dilindungi. Geopark Nasional Kaldera Toba ditetapkan pada 7 Oktober 2013 dan memiliki empat geoarea, yaitu Geoarea Kaldera Porsea, Geoarea Kaldera Haranggaol, Geoarea Kaldera Sibandang dan Geoarea Samosir. “Masing-masing area punya karateristik karena Toba ini secara geologi bisa dideskribsi menjadi 4 kejadian. Tiga letusan besar, satu lagi mengangkat Pulau Samosir ke permukaan,” ujarnya.

Konsep geopark sendiri lahir saat International Geological Congress 1997 di Beijing, Tiongkok. Perdebatan sengit antara Guy Martini (geolog Perancis) dengan Nicolas Zourus (geolog Yunani) telah membuahkan hasil. Martini pun berhasil meyakinkan rekan-rekannya pada peresmian Reserve Geologique de Haute Provence, Perancis.

Semua menyepakati geopark sebagai pola pengembangan kawasan berkelanjutan yang mengandung tiga unsur, yaitu geodiversity, biodiversity dan cultural diversity. “Makin terkait, makin bagus,” ujar pria berkaca mata tadi.

Oki melanjutkan tiga misi yang harus diusung dari konsep Geopark adalah konservasi, edukasi, pemberdayaan masyarakat.

“Inilah peran Kementerian ESDM bagaimana memperkenalkan warisan geologi dan mendorong pembentukan kelembagaan,” tuturnya. Dengan begitu, geopark Nasional Kaldera Toba akan memberikan dampak positif ke perekonomian dan pendidikan kegeologian.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *