POPI-TER, Rekonstruksi Desain, dan Creativepreneurship Jadi Model Baru Hilirisasi Riset

0
WhatsApp Image 2026-07-18 at 23.14.11

Dr. Eddy Supriyatna Marizar memberikan paparan Seminar pada acara Ekonomi Kreatif di Institut Kesenian Jakarta (IKJ).(Foto: Panitia)

El John News, Jakarta – Di tengah persaingan industri kreatif yang semakin kompetitif, tantangan terbesar Indonesia bukan sekadar menghasilkan desain yang menarik, melainkan menghadirkan inovasi berbasis riset yang mampu diterima pasar internasional. Menjawab tantangan tersebut, Dr. Eddy Supriyatna Marizar menawarkan pendekatan yang mengintegrasikan  POPI-TER (Pola Pikir Terbalik), Rekonstruksi Desain, dan Creativepreneurship sebagai model penguatan ekonomi kreatif berbasis riset terapan.

Pendekatan tersebut disampaikan Eddy, dalam dua forum ilmiah nasional sepanjang Juli 2026. Paparan pertama disampaikan pada Seminar Ekonomi Kreatif di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) pada 7 Juli 2026 bersama Rektor IKJ Prof. Dr. M. Syamsul Maarif. Seminar tersebut menghadirkan Wakil Ketua Komisi X DPR RI Hj. Himmatul Aliyah, M.Si. sebagai keynote speaker dengan moderator Wakil Rektor IKJ Dr. Ika Yuni.

Selanjutnya, Eddy kembali mempresentasikan gagasannya pada forum INTERFEX 2026 di Solo, 9 Juli 2026, bersama Dr. Boike JA dengan moderator Ketua Himpunan Desain Interior Indonesia (HDII), Adi Surya T., M.Ars.

Dalam kedua seminar tersebut, Eddy menilai tantangan utama ekonomi kreatif Indonesia tidak hanya terletak pada kemampuan menghasilkan karya yang menarik, tetapi juga pada keberhasilan mengubah hasil penelitian menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi, nilai budaya, dan daya saing internasional.

Untuk menjawab tantangan tersebut, ia memperkenalkan konsep POPI-TER (Pola Pikir Terbalik). Berbeda dengan metode penelitian konvensional yang dimulai dari identifikasi masalah, pendekatan ini justru memulai proses dari gambaran hasil akhir (outcome) yang ingin dicapai. Setelah target ditetapkan, tahapan penelitian, pengembangan desain, produksi, hingga strategi implementasi disusun secara sistematis agar proses hilirisasi riset berlangsung lebih cepat dan efektif.

Foto bersama di acara Seminar Ekonomi Kreatif di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) (Foto: Panitia)

Pendekatan tersebut kemudian dipadukan dengan Rekonstruksi Desain, yakni proses membangun kembali konsep desain berdasarkan perubahan perilaku konsumen, perkembangan teknologi, keberlanjutan lingkungan, identitas budaya lokal, dan kebutuhan pasar global. Dalam pandangan Eddy, desain kini tidak lagi sekadar membentuk produk, tetapi menjadi strategi yang menghubungkan dunia penelitian, industri, dan masyarakat.

Konsep ketiga yang diperkenalkan adalah Creativepreneurship, yang memadukan kreativitas, inovasi, kewirausahaan, dan riset terapan sebagai satu kesatuan. Melalui pendekatan ini, desainer didorong menjadi pencipta, inovator, sekaligus pemimpin yang mampu menghasilkan produk kreatif bernilai tinggi.

Pada seminar INTERFEX 2026, Eddy juga mengangkat tema “Menangkap Pasar versus Mencipta Desain”. Melalui tema tersebut, ia mengajak para desainer memahami pentingnya menggabungkan aspek rasa dan nalar dalam proses pengembangan desain furnitur. Gagasan itu berangkat dari pemikirannya dalam buku Kursi Kekuasaan Jawa dan artikel ilmiah pada Jurnal Archipel Volume 111 bersama Prof. Dr. Peter Carey yang kemudian menjadi dasar rekonstruksi desain furnitur untuk pasar global.

Menurut Eddy, model sinergi yang dikembangkannya telah menunjukkan hasil nyata. Konsep tersebut telah diterapkan dalam tujuh riset terapan nasional yang berhasil lolos pendanaan kompetitif. Selain itu, hasil riset berupa desain kursi rotan juga telah memperoleh dua kali trial order ke Amerika Serikat. Trial order ketiga bahkan tengah dipersiapkan di Cirebon pada 16 Juli 2026 dengan desain kursi hasil pengembangan terbaru.

“Hal itu membuktikan model sinergi baru ini dapat diaplikasikan pada riset terapan yang berdampak di pasar global. Sebab, pasar global tidak hanya membeli produk karena bentuknya yang indah (rasa), tetapi karena produk tersebut mampu menghadirkan pengalaman, identitas budaya, fungsi, kualitas, dan nilai inovasi (nalar). Oleh karena itu, proses desain harus dimulai dari perpaduan antara rasa dan nalar. Rasa menangkap kebutuhan emosional dan budaya konsumen, sedangkan nalar menerjemahkannya menjadi desain yang dapat diproduksi secara efisien, berkelanjutan, dan kompetitif,” ujar Eddy Supriyatna Marizar.

Dr. Eddy Supriyatna Marizar menjad pembicara d acara seminar INTERFEX 2026 (Foto: Panitia)

Ia menjelaskan bahwa unsur rasa merupakan kemampuan memahami nilai budaya, pengalaman pengguna, serta preferensi emosional konsumen. Sementara itu, nalar diwujudkan melalui analisis pasar, metode penelitian, teknologi material, sistem konstruksi, efisiensi produksi, strategi pemasaran, hingga aspek keberlanjutan produk.

Pendekatan tersebut dinilai sangat relevan bagi pengembangan industri furnitur Indonesia, terutama dalam mengoptimalkan material lokal seperti rotan dan kayu agar memiliki karakter budaya Indonesia sekaligus memenuhi standar pasar internasional.

Melalui penerapan POPI-TER, Rekonstruksi Desain, dan Creativepreneurship, Eddy berharap hasil riset di perguruan tinggi tidak berhenti sebagai publikasi ilmiah semata, tetapi berkembang menjadi prototipe, desain industri, kekayaan intelektual, produk komersial, hingga peluang ekspor yang memberikan dampak nyata terhadap pertumbuhan ekonomi kreatif nasional.

Dalam seminar di IKJ, ia juga mengangkat tema Rekonstruksi Desain Versus Creativepreneurship dalam Konteks Ekonomi Kreatif yang Berdampak Bisnis. Presentasi tersebut menegaskan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, pemerintah, dan pelaku usaha kreatif dalam membangun ekosistem inovasi yang mampu mempercepat hilirisasi hasil riset.

Dekan FSRD Untar, Dr. Maitri Widya Mutiara, yang hadir sebagai tamu undangan pada seminar di IKJ, menyampaikan bahwa riset terapan memiliki hubungan yang sangat erat dengan perkembangan ekonomi kreatif. Menurutnya, riset desain tidak cukup berhenti pada pengembangan pengetahuan konseptual, tetapi harus mampu menghasilkan solusi yang aplikatif, inovatif, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat, industri, serta peningkatan daya saing ekonomi kreatif.

Foto besama di sela-sela acara a d acara seminar INTERFEX 2026 (Foto: Panitia)

Ia juga menilai sinergi tiga model yang digagas Dr. Eddy menjadi salah satu pendekatan komprehensif dalam merekonstruksi desain sehingga dapat memperkuat posisi ekonomi kreatif Indonesia di tingkat global.

Menutup pemaparannya, Eddy menegaskan bahwa masa depan ekonomi kreatif Indonesia bergantung pada kemampuan mengintegrasikan budaya lokal, riset terapan, inovasi desain, dan kewirausahaan kreatif. Dengan sinergi tersebut, produk furnitur Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi komoditas ekspor, tetapi juga menjadi representasi identitas budaya bangsa di pasar internasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *