Program pembangunan hidran kampung yang sudah digulirkan sejak tiga tahun ini kembali dilanjutkan. Dinas Kebakaran Kota Yogya sudah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 1,9 miliar sepanjang tahun ini.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kebakaran Kota Yogya Isharyanto, menjelaskan hidran kampung sangat dibutuhkan untuk mengantisipasi kejadian kebakaran di wilayah permukiman padat penduduk. “Tahun ini ada sembilan lokasi untuk hidran kampung. Tapi sebagian besar melanjutkan program tahun lalu, mencapai enam lokasi,” jelasnya.
Enam lokasi yang pembangunan hidran kampung dilanjutkan ialah di Kampung Jlagran, Karangwaru, Ledok Tukangan, Gemblakan Bawah, Basen, dan Cokrodirjan. Seluruh kegiatan di enam lokasi itu pun tinggal menyesuaikan perencanaan yang sudah disusun sebelumnya.
Sedangkan tiga lokasi baru untuk pembangunan hidran kampung, akan diputuskan sesuai skala prioritas kebutuhan. Terutama dipastikan kampung tersebut sudah memiliki Detail Engineering Design (DED) perencanaan hidran kampung. “Akan kita lihat wilayah yang padat penduduk dan sulit diakses kendaraan pemadam kebakaran,” imbuh Isharyanto.
Dalam proses pembangunan, menurutnya kerap ditemui kendala sosial. Hal ini karena harus membuat galian untuk menanamkan pipa sehingga tidak sedikit masyarakat yang merasa terganggu kendati hal itu sebenarnya untuk kepentingan bersama.
Selain itu, setiap jarak 50 meter juga dibangun box hidran yang dilengkapi selang. Sedangkan di tepi jalan dilengkapi fasilitas ‘siamese’ untuk menghubungkan pipa dari armada tangki air ke saluran hidran kampung.
“Ketika terjadi kebakaran, armada pemadam cukup parkir di tepi jalan kemudian disambungkan ke siamese untuk mengalirkan air. Warga pun tinggal memanfaatkan box hidran terdekat guna memadamkan api,” urainya.
Namun demikian, sebelum hidran kampung diserahkan pengelolaannya ke masyarakat, Dinas Kebakaran akan memberikan edukasi terlebih dahulu. Terutama perihal pemanfaatan dan perawatan agar saat digunakan tidak mengalami kendala.