Rayakan 75 Tahun Hubungan Diplomatik, Indonesia–Tiongkok Gelar Dialog Lintas Media dan Profesional
Sebuah forum penting dalam upaya mempererat hubungan bilateral Indonesia dan Tiongkok digelar di Museum Hakka Indonesia, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta. Acara bertajuk “Berdialog dengan Dunia – Pertukaran Pemuda Media Tiongkok Indonesia” ini menjadi ajang pertukaran gagasan antara jurnalis, profesional media, dan akademisi dari kedua negara, sekaligus memperingati 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia–Tiongkok.
Forum ini merupakan hasil kolaborasi antara Kantor Informasi Pemerintah Daerah Otonomi Guangxi Zhuang, TVRI Indonesia, serta mendapat dukungan dari Perkumpulan Hakka Indonesia Sejahtera (PHIS). Turut hadir dalam acara ini antara lain Ketua Umum PHIS, Sugeng Prananto, dan Ketua PHIS DKI Jakarta, Hendra Yan Chandra, yang menegaskan pentingnya memperkuat jembatan komunikasi lintas budaya dan generasi.
Dalam diskusi yang berlangsung dinamis, para pembicara membahas berbagai tema penting yang diyakini dapat menjadi fondasi baru bagi kerja sama Indonesia dan Tiongkok ke depan. Tiga topik utama yang mencuat Adalah, Estafet Peradaban Tiongkok–Indonesia, Integrasi Industri Media dan Pertukaran dan Saling Belajar Antar Peradaban di Era AI
Diskusi ini menyoroti bagaimana nilai-nilai peradaban yang telah lama terjalin antara Indonesia dan Tiongkok dapat diaktualisasikan melalui kolaborasi media dan teknologi, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam pengembangan narasi, jurnalisme lintas negara, serta diplomasi kebudayaan.


Pemilihan Museum Hakka Indonesia sebagai lokasi acara tidaklah tanpa alasan. Museum ini merupakan satu-satunya museum Hakka di Indonesia yang secara khusus mengangkat sejarah, nilai, dan kontribusi komunitas Tionghoa, khususnya Hakka dalam kehidupan berbangsa di Indonesia.
Dengan arsitektur dan koleksi yang sarat nilai historis, museum ini menjadi simbol penting pertukaran budaya dan identitas pluralistik Indonesia, serta menjadi ruang yang tepat untuk mempertemukan gagasan antara dua bangsa yang memiliki sejarah panjang dalam hubungan antarmasyarakat.
Acara dialog ini juga menjadi lanjutan dari program “Kunjungan Media Mandarin ASEAN ke Guangxi 2025” yang sebelumnya digelar di Kota Nanning, Provinsi Guangxi, Tiongkok. Kolaborasi lintas negara ini diharapkan terus melahirkan inisiatif konkret dan pertukaran pengalaman yang memperkaya pemahaman antarbangsa.


Penghubung Pertukaran Jurnalis Indonesia-Tiongkok, Hardy Chung mengatakan kegiatan menjadi bagian penting dari upaya mempererat hubungan bilateral antara Indonesia dan Tiongkok, khususnya melalui pendekatan soft power.
“Acara-acara seperti ini merupakan bagian dari persahabatan dua negara yang diwujudkan melalui hubungan antar manusia. Ini bukan sekadar kegiatan seremonial, tapi langkah awal menuju kolaborasi nyata antara kedua belah pihak,” ujar Hardy.
Ia menegaskan bahwa diskusi yang berlangsung dalam acara tersebut memperlihatkan potensi kerja sama yang lebih erat di masa depan. “Tujuan utama kami adalah agar dialog ini melahirkan kolaborasi yang konkret, bukan sekadar mengadakan acara lalu selesai begitu saja,” tambahnya.
Terkait perkembangan pertukaran informasi antara media Indonesia dan Tiongkok, Hardy menjelaskan bahwa hubungan tersebut telah terjalin cukup intens melalui berbagai saluran, mulai dari media cetak, daring, hingga karya jurnalistik. Menurutnya, dengan dukungan teknologi kecerdasan buatan (AI), proses pertukaran informasi kini menjadi jauh lebih cepat dan efisien.


“Pertukaran media ini akan terus diperkuat, dan kegiatan sejenis akan tetap dilanjutkan, bahkan bisa diperluas ke negara-negara ASEAN lainnya sebagai bagian dari inisiatif China for ASEAN,” tuturnya.
Sementara itu, Nami Afrah Insani, berbagi pengalaman dan pandangannya seputar perkembangan media saat menjadi narasumber. Dalam kesempatan tersebut, Nami menceritakan keterlibatannya dalam program Kunjungan Media Mandarin ASEAN ke Guangxi 2025 yang diikutinya beberapa waktu lalu. Menurutnya, pengalaman tersebut membuka wawasan baru mengenai peran teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI), dalam dunia jurnalistik.
“Di sana saya banyak belajar tentang media konferensi, serta bagaimana mengintegrasikan berita dengan teknologi AI agar hasilnya lebih efektif, cepat, dan efisien,” ungkapnya.
Kedatangan delegasi media dari Guangxi, Nanning, Tiongkok ke Indonesia, menurut Nami, bukan hanya sebagai pertukaran budaya semata, tetapi juga menjadi ruang dialog lintas pandangan dan inovasi.
“Kita tidak hanya bertukar budaya, tapi juga pikiran, sudut pandang, dan inovasi-inovasi yang telah dikembangkan,” jelasnya.


Ia pun menyampaikan harapannya agar kegiatan seperti ini dapat menjadi pintu awal bagi kolaborasi yang lebih konkret di masa mendatang.
“Mungkin hari ini menjadi pembuka jalan dan langkah awal untuk berkenalan. Namun semoga ke depan kita bisa bersama-sama menciptakan inovasi baru di bidang media antara Indonesia dan Tiongkok,” tutupnya.
Alisa, perwakilan dari Guangxi International Communication Center, menyampaikan antusiasmenya saat hadir sebagai narasumber dalam kegiatan ini yang menurutnya menjadi bagian dari upaya memperkuat kerja sama media dan pertukaran budaya antara kedua negara.
“Saya senang dapat menghadiri acara hari ini sebagai representasi media,” ujar Alisa kepada tim liputan EL JOHN Media.


Ia menegaskan komitmennya untuk menjadikan kerja sama antara Indonesia dan Tiongkok sebagai fokus utama dalam laporannya ke depan, khususnya dalam memperkenalkan budaya dan kehidupan masyarakat kedua negara kepada generasi muda masing-masing.
“Di masa depan, laporan saya akan lebih fokus pada kerja sama antara dua negara, membantu anak muda di Indonesia memahami Tiongkok dengan lebih baik, dan sebaliknya, agar anak muda Tiongkok juga lebih mengenal Indonesia,” jelasnya.
Alisa juga mengungkapkan bahwa ini adalah kunjungan pertamanya ke Jakarta, Indonesia. Sebelum datang, ia sudah mengenal Indonesia sebagai negara yang terkenal dengan kopi yang lezat dan destinasi wisata yang menarik, termasuk Gunung Bromo.
“Setelah tiba, saya menemukan bahwa orang-orang Indonesia sangat ramah, makanannya enak, dan saya sudah memiliki banyak teman baru di sini,” katanya.
Ia pun menyampaikan harapannya untuk bisa kembali ke Indonesia di kesempatan berikutnya. “Saya sangat menantikan bisa datang lagi ke sini, untuk Bromo, dan untuk acara-acara baru di masa depan,” tutupnya.
