Relawan Uji Klinis Vaksin Covid-19 Dapat Asuransi dan Dipantau Kesehatannya

0
tim-peneliti-relawan-uji-klinis-vaksin-covid-19-sukarela-tanpa-dibayar

Relawan  uji klinis vaksin Covid-19  fase-III  dari perusahaan Sinovac asal Tiongkok dipastikan akan dipantau kesehatannya oleh tim dokter. Pemantauan akan dilakukan selama enam bulan setelah penyuntikan vaksi dilakukan.  Selama pemantauan, relawan juga akan mendapatkan asuransi kesehatan.

Ketua tim peneliti uji klinis vaksin Covid-19 Sinovac dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjadajaran Kunandi Rusmil meminta relawan  tidak terlalu mengkhawatirkan kesehatannya. Pengawasan dipastikan akan dilakukan, agar relawan  dapat menjalankan aktivitasnya dan tidak resah setelah penyuntikan vaksi dilakukan.

“Mereka kan diasuransikan. Kalau sakit mereka akan diperiksa dan dirawat. Kemudian tim dokter akan melihat apakah ini karena vaksin atau bagaimana,” kata Kunandi di Fakultas Kedokteran Unpad, Jalan Eyckman, Kota Bandung, Kamis (6/8/2020).

Jika ada keluhan relawan diminta untuk memeriksakan kesehatannya ke fasilitas kesehatan terdekat.”Iya bisa dokter atau klinik mana saja, yang pasti di Bandung. Nanti saya akan tanya-tanya ke dokternya, apakah si subjek tersebut sakit ada kaitannya dengan suntik (vaksin) atau bukan? Saya yang akan tanya-tanya ke dokternya,” ungkapnnya.

Kunandi menjelaskan, akan ada lima tahapan uji klinis yang diikuti relawan. Setiap satu tahapan, relawan akan mendapatkan uang insentif sebesar Rp 200 ribu.

“Sekali datang itu dikasih Rp 200 ribu, jadi lima kali datang itu Rp 1 juta selama lima bulan,” ujarnya.

Namun, ia berharap relawan yang mendaftar tidak berorientasi pada uang insentif tersebut.”Jadi ikut jadi relawan bukan karena kepingin uang, itu tidak bagus, karena uji klinis ini kan sukarela sifatnya,” lanjutnya.

Lebih lanjut Kusnandi menerangkan bahwa relawan harus memeriksakan diri 4 kali setelah penyuntikan vaksin. Pemeriksaan ini penting karena relawan akan diambil darah untuk diperiksa imunigenitasnya. “Diambil darahnya, dilihat zat antibodi yang terbentuk. Kadarnya,” kata dia.

Kusnandi menyebut dari pengujian vaksin Sinovac yang dilakukan di Tiongkok, 97 persen relawan yang mendapat suntikan vaksin tersebut akan memiliki antibodi untuk melawan Covid-19. “Itu antibodi terhadap penyakit yang disuntikkan. Memang spesifik. Pasti dia kebal kalau itu terbentuk,” sebutnya.

Menurut Kusnandi uji klinis dinyatakan berhasil jika 3 indikator terpenuhi. “Berhasil kalau dia (relawan) mempunyai imunigenitas yang tinggi, keamanan yang tinggi, dan evikasi yang tinggi. Itu masing-masing ada standarnya,” kata dia.

Keamanan, misalnya, dilihat dari munculnya reaksi lokal dan reaksi sistemik setelah penyuntikan vaksin Covid-19. “Reaksi lokal itu bengkak di tempat suntikan, merah di tempat suntikan, itu reaksi lokal. Kalau sistemik itu dia panas badan, itu dilihat. Nah pada vaksin ini, dia itu panas badan kemudian bengkak itu ada 30 persen, dan menghilang pada dua hari, setelah itu gak ada lagi. Itu normal,” kata Kusnandi.

Sementara itu, saat ini tim peneliti dari Fakultas Kedokteran Unpad masih kekurangan 820 orang relawan untuk menjadi subjek uji klinis. Pasalnya, hingga kini baru ada 800 orang yang mendaftar dari target sebanyak 1.620 orang.

“Sudah ada 800 orang yang mendaftar, respon bagus banyak yang mau ikut. Seperti dokter-dokter dan juga pejabat ada yang mau ikut, tapi kita akan cek dulu, bisa atau enggak,” ungkapnya. Jika tidak ada hambatan, Uji klinis akan dimulai pada pertengahan bulan ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *