Renovasi Gereja Gereja St. Vincentius A Paulo, Gunung Putri Mendapat Dukungan Melalui Acara Charity Dinner

0
EJN08528

Gereja St. Vincentius A Paulo Paroki Gunung Putri, salah satu gereja Katolik tertua di wilayah Keuskupan Bogor, kini mendapat angin segar dalam proses renovasinya yang telah berjalan lebih dari dua dekade. Renovasi yang selama ini berlangsung lambat karena keterbatasan dana, kini mendapatkan dorongan signifikan melalui bantuan hasil penggalangan dana dari acara Charity Dinner yang digelar di Restoran Angke Heritage PIK2 pada Rabu malam, (26/11/2025).

Acara yang berlangsung meriah ini digagas oleh  KRIS (Kill Covid-19 Relief International Service) bekerja sama dengan Yayasan Adharta dan Paroki Santo Vincentius A Paulo, serta didukung oleh EL JOHN Pageants dan EL JOHN Media. Malam itu, para tamu undangan tidak hanya menikmati hidangan istimewa, tetapi juga berpartisipasi aktif dalam upaya mempercepat proses renovasi gereja, melalui kegiatan lelang. Acara ini turut dihadiri 10 Putra dan Putri binaan Yayasan EL JOHN Indonesia.

Berbeda dari lelang konvensional yang umumnya berbasis barang komersial, lelang dalam Charity Dinner ini dirancang sebagai bentuk tanggung jawab sosial dan religius. Para tamu diajak untuk menyumbangkan perlengkapan ibadah yang dibutuhkan gereja, seperti Altar Salib, bangku umat, hingga pembuatan Sakristi.

Hasilnya luar biasa: dana yang terkumpul mencapai lebih dari Rp500 juta, dan masih berpotensi bertambah karena para tamu dipersilakan melakukan donasi tambahan melalui metode QRIS sesuai kemampuan masing-masing.

Ketua Umum KRIS, Adharta Ongkosaputra, memaparkan sedikit latar belakang gereja yang menjadi fokus kegiatan ini. Menurutnya, gereja St. Vincentius A Paulo merupakan gereja kecil yang berada di sebuah kampung dengan komunitas menengah.

“Gereja ini kecil, tapi hatinya besar. Malam ini kami berusaha semaksimal mungkin, selanjutnya biarlah Tuhan yang menyelesaikan,” kata Adharta.

Ia menambahkan, kondisi ekonomi saat ini membuat pengumpulan dana menjadi sangat menantang. Namun, kolaborasi antara berbagai pihak, termasuk perusahaan, tokoh masyarakat, dan komunitas lokal, menjadi kekuatan utama dalam mendukung renovasi gereja.

“Sudah ada bantuan nyata dari berbagai pihak. Semoga dengan kolaborasi ini, renovasi bisa selesai tahun depan,” ujar Adharta.

Adharta juga menyampaikan apresiasi dan pesan kepada para donatur. “Sumbangan Anda ibarat batu bata yang disusun untuk membangun gereja. Itu bukan sekadar batu bata, tapi cinta yang diwujudkan untuk menampung umat dan memberikan kontribusi bagi perdamaian bangsa,” tuturnya.

Kepada para tamu undangan, Pastor Paroki, RD. Yulius Eko Priyambodo menceritakan singkat kondisi gereja sebalum dilakukan renovasi. ,Pastor Eko mengatakan  gereja ini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari fasilitas yang terbatas hingga kondisi bangunan yang belum memadai untuk menampung umat.

Menurutnya kegiatan ibadah sering dilakukan di tenda karena ruang gereja yang kecil tidak cukup menampung jemaat. Kondisi panas dan banjir kerap menjadi kendala, terutama saat hujan atau di musim kemarau.

“Sebelum renovasi, ibadah kami harus dilakukan di lapangan atau di tenda. Jika hujan, tempat ini tergenang air, dan saat panas, jemaat merasa tidak nyaman. Namun, meski sederhana, umat tetap semangat beribadah,” ujar Pastor Yulius.

Lebih lanjut, Pastor Yulius menjelaskan proses renovasi yang dilakukan secara bertahap, dengan melibatkan partisipasi aktif umat melalui kerja bakti. Setiap akhir pekan, lima orang umat ikut membantu pengecoran lantai dan pembangunan struktur, sementara tukang mengerjakan pekerjaan teknis.

“Kami mulai dari fondasi, meski banyak mata air di bawahnya. Umat bergotong royong untuk memastikan pembangunan berjalan lancar. Ini bukan hanya membangun gereja, tapi juga memperkuat kebersamaan,” tambah Pastor Yulius.

Renovasi ini juga mempertimbangkan kapasitas gereja, yang sebelumnya hanya menampung sekitar 300 jemaat. Dengan desain baru, diharapkan dapat menampung lebih banyak jemaat tanpa mengubah karakter asli gereja. Pastor Yulius menekankan bahwa pembangunan ini dilakukan sesuai dengan izin mendirikan bangunan (IMB) dan mengikuti prinsip keamanan serta kenyamanan bagi umat.

“Gereja ini bukan milik individu, tetapi milik seluruh umat Katolik. Renovasi ini untuk menghadirkan ruang ibadah yang nyaman, aman, dan layak bagi semua,” tuturnya.

Uskup Keuskupan Bogor, Mgr. Paskalis Bruno Syukur OFM, menyampaikan dukungan penuh terhadap pembangunan dan renovasi Gereja St. Vincentius A Paulo Paroki Gunung Putri. Dalam sambutannya Uskup Paskalis menekankan pentingnya gereja baru bagi umat Katolik di wilayah tersebut.

Menurut Uskup, mimpi untuk membangun gereja baru ini sudah ada sejak 25 tahun lalu, namun prosesnya sempat tertunda karena berbagai kendala. Kini, dengan izin mendirikan bangunan yang telah diperoleh, renovasi dapat dimulai dan diharapkan dapat memberikan fasilitas ibadah yang lebih layak dan nyaman bagi umat.

“Gereja ini akan menjadi sumber berkat besar bagi umat Katolik di Keuskupan Bogor, dan nantinya memberikan kontribusi bagi gereja Katolik di seluruh Indonesia,” ujarnya.

Uskup Paskalis juga mengajak umat dan seluruh pihak yang hadir untuk mendukung renovasi gereja, sehingga pembangunan dapat selesai tepat waktu dan digunakan untuk kegiatan ibadah, termasuk perayaan Natal mendatang. Ia menekankan, meski proses renovasi menuntut kerja keras dan dana, keberhasilan pembangunan merupakan hasil kerja sama semua pihak.

“Kalau mau bermimpi, bermimpilah bersama. Malam ini kita bersama untuk mewujudkan mimpi umat ini melalui pembangunan gereja,” tambahnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *