Reuni Kebangsaan Tionghoa Nusantara: Merawat Toleransi Dalam Keberagaman
DAAI TV bersama berbagai komunitas Tionghoa di Indonesia menyelenggarakan acara Reuni Kebangsaan Tionghoa Nusantara di Ruang Xi She Ting, Tzu Chi Center, PIK pada Kamis (09/11/2023).
Komunitas Tionghoa yang ikut berkolaborasi, yakni Perhimpunan INTI, Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI), Perhimpunan Tionghoa Kalbar (PTK) Indonesia, dan Perhimpunan Jin Jiang.
Acara tersebut digelar untuk memperkuat sikap saling menghormati keberagaman budaya yang ada di Indonesia serta menyampaikan pesan tentang pentingnya toleransi dan persatuan.
Ketua Umum Eka Tjipta Foundation yang juga Sekretaris Umum Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, Hong Tjin mengatakan merajut kebangsaan dapat dilakukan dengan senantiasa melakukan welas asih atau rasa belas kasih yang mendalam terhadap orang lain. Konsep welas asih mencerminkan empati yang kuat, kepedulian yang tulus, serta keinginan yang tumbuh untuk membantu dan meringankan penderitaan mereka yang membutuhkan.
“Intinya kalau kita punya Welas Asih itu lakukan saja just do it, kerjakan saja, karena melakukan dengan nyata, kepedulian kita, kita akan belajar untuk hal-hal yang lebih baik lagi dan baru kita akan menghayati makna dari merajut kebangsaan bersama,” kata Hong Tjin saat diskusi dengan tema Jelajah Budaya Tionghoa Nusantara.

Diskusi ini merupakan bagian dari acara Reuni Kebangsaan Tionghoa Nusantara, dipandu oleh Candra Jap (Sekjen INTI).
Narasumber lain yang ikut dalam diskusi ini, di antaranya Pendiri Museum Pustaka Peranakan Tionghoa Azmi Abubakar. Pada kesempatan ini, Azmi menceritakan kekagumannya terhadap perjuangan suku Tionghoa di Nusantara, sehingga ia mendirikan Museum Pustaka Peranakan Tionghoa sejak tahun 2011.
Azmi mengatakan dirinya banyak mengumpulkan informasi perjalananan suku Tionghoa dari Aceh hingga Papua. Informasi tersebut bukan untuk dirinya, namun untuk dipublikasi melalui museum yang dibangunnya agar dapat diakses oleh banyak orang.

“Bukan pada persoalan informasinya tapi bagaimana informasi ini bisa diakses oleh masyarakat itu persoalan, maka perlu metode. Nah metode yang saya lakukan adalah memulai dengan metode bahwa kalau yang bercerita itu orang Tionghoa sendiri mungkin akan kurang efektif dibandingkan yang bercerita saudaranya sendiri sebangsa setanah air,” ujar Asmi
“Metode ini saya coba terapkan Dan saya yakin ini adalah satu cara yang mungkin bisa dipakai untuk tetap merajut meneguhkan ke Indonesia kita kedepannya Janganlah orang Papua berbicara tentang dirinya sebagai Papua biar Madura yang berbicara tentang Papua Janganlah daya berbicara tentang dayaknya Biarlah orang hilang yang memahami apa itu Dayak,” sambungnya.

Sementara itu, Penulis dan Peneliti Novi Basuki mengatakan bahwa semangat Masyarakat Tiongkok perlu ditiru terutama dalam mengubah nasib. Menurutnya, untuk mengubah nasib yang perlu dilakukan puka keinginan untuk belajar dengan siapapun dan kapanpun.
“Kok bisa Tiongkok yang jauh lebih miskin tiba-tiba menjadi lebih sejahtera dibandingkan dengan Isa saya menemukan jawabannya adalah karena spirit yang luar biasa besar dari masyarakat Tiongkok untuk mengubah nasib pun demikian masyarakat tionghoa yang di Indonesia,” terang Novi.

“Menurut saya salah satu hal yang perlu diteladani oleh kami adalah pikiran yang mau membuka diri untuk mau belajar kapanpun dan dengan siapapun,” sambungnya.
Pada acara Reuni Kebangsaan Tionghoa Nusantara, DAAI TV meluncurkan seri dokumenter “Jelajah Budaya Tionghoa Nusantara”. Film Dokumenter sebanyak 15 episode ini mendokumentasikan jejak akulturasi Budaya Tionghoa yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia.

BoD DAAI TV Edy Wiranto mengatakan selama setahun ini, DAAI TV mendokumentasikan jejak akulturasi Budaya Tionghoa Nusantara yang tersebar di berbagai daerah dalam sebuah series dokumenter Jelajah Budaya Tionghoa Nusantara.
“Dalam proyek dokumenter ini, kami ingin mengungkapkan tentang keindahan toleransi dan persatuan di Indonesia. DAAI TV percaya bahwa keberagaman adalah harta yang sangat berharga bagi bangsa ini,” ujar Edy.

Acara Reuni kebangsaan Tionghoa Nusantara, diakhiri dengan komitmen bersama berkarya untuk Indonesia yang diikuti oleh seluruh hadirin, yang menggarisbawahi komitmen bersama untuk membangun dan melestarikan keragaman budaya Indonesia serta bekerjasama untuk masa depan yang lebih baik.
