Satu Lembata Dalam Keragamaan Budaya

0
satu-lembata-dalam-keragaman-budaya

Kemeriahan Festival 3 Gunung Lembata seperti tak habis-habisnya. Beraneka acara dilangsungkan bukan hanya di Kawasan Wisata Bukit CInta Lembata tetapi di lokasi Pantai Harnus, Kota Lewoleba.

Sejak pukul 14.00 Wita, ratusan warga sudah berkumpul di simpang lima Wangatoa guna terlibat dalam parade budaya NTT Fashion Carnaval.

Mereka mengenakan pakaian dan atribut daerah asal mereka masing-masing. Bahkan ada yang membawa miniatur rumah adat, kapal, dan pledang juga lengkap dengan alat musik gong dan gendang.

Selain kelompok etnis dari kecamatan yang ada di Kabupaten Lembata, yang cukup menyita perhatian juga paguyuban kelompok etnis yang ada di Lembata. Paguyuban Alor, Manggarai, Ende, Ngada-Nagekeo, Flotim, Adonara, Sikka, Jawa, TTS, Rote, Malaka, Mandar Sulbar, Makassar Binongko, Sabu dan Toraja.

Karnaval budaya ini dibuka oleh Wakil Bupati Lembata, Thomas Ola Langoday dan dihadiri jajaran Forkopimda Lingkup Kabupaten Lembata.

Dari simpang lima, peserta karnaval menuju ke Pantai Harnus dan melakukan atraksi budaya di sana. Warga berbondong-bondong menyaksikan parade budaya ini.

Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lembata, Apolonaris Mayan mengatakan Fashion Carnaval NTT ini adalah ikhtiar pemerintah daerah yang mau memberdayakan paguyuban etnis yang ada di Lembata.

“Ke depan kita mau di Lembata ada parade budaya NTT yang hadir dari masing-masing Kabupaten. Bukan hanya dari paguyuban di sini saja,” ungkap Apol,

Pemda mau mendorong semangat mencintai budaya yang harus dilestarikan.  “Jadi ada nilai edukasinya. Tidak show saja tapi ada nilai-nilai yang mau ditanamkan kepada generasi muda.”

Menurut dia, salah satu cara pemerintah mendorong industri rumahan seperti tenun itu yakni dengan menggunakan produk-produk para penenun. Tujuannya supaya mereka punya semangat tenun. “Pasarnya ada pada kita. Sehingga Harus ada kebijakan strategis dulu,” ungkapnya.

Seorang anggota Paguyuban Alor yang tidak mau namanya disebutkan menjelaskan di Lembata sendiri ada sekitar 400 Kepala Keluarga dari Alor.

Mereka menerapkan sejak tahun 1974 sampai saat ini dan sudah dianggap sebagai bagian dari orang Lembata.
“Kami selalu berpartisipsi dalam kegiatan festival. Ini tahun kedua kami ikut. Kami juga masukSuku Lamaholot, tapi kalau bahasa tetap bahasa Alor,” ungkapnya.

Dia mengapresiasi parade budaya Festival 3 Gunung ini. Bagi mereka, perhelatan ini bisa memberi pengetahuan bagi generasi muda bahwa inilah budaya NTT dan Indonesia, jangan ditinggalkan.

“Di sini ada keberagaman dan kita sangat menghargai keberagaman dan junjung tingi nilai kebersamaan.
Rata-rata orang Alor di Lembata bekerja sebagai tukang, pegawai dan ada juga yang buruh kasar.  “Sudah sekain lama kami di sini jadi sudah jadi orang Lembata.”

Wabup Langoday mengucapkan terima kasih kepada semua etnis yang berpartisipasi dalam parade budaya tahunan dalam rangka Festival 3 Gunung ini. Di kutip dari (Tribuns Pos-Kupang)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *