Sawahlunto Menuju Kota Wisata Tambang dan Berbudaya

0
Sawahlunto Menuju Kota Wisata Tambang dan Berbudaya

Kota Sawahlunto adalah salah satu kota di provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Kota yang terletak 95 KM sebelah timur laut kota Padang ini, dikelilingi oleh tiga kabupaten. Kota Sawahlunto memiliki luas 273,45 km² yang terdiri dari empat kecamatan dengan jumlah penduduk lebih dari 54.000 jiwa. Pada masa pemerintah Hindia Belanda, kota Sawahlunto dikenal sebagai kota tambang batu bara. Perjalanan panjang dan berat kota Sawahlunto dalam sejarah industri batu bara menjadi perhatian besar kita. Apalagi Sawahlunto tahun 2018 ini sedang dalam proses penilaian kota industri batu bara masa lampau sebagai warisan budaya dunia yang diakui UNESCO.

Nama Sawahlunto sendiri diambil dari kata “sawah” dan Sungai “Lunto”. Dahulunya daerah ini merupakan lembah persawahan yang subur kemudian beralih fungsi menjadi daerah pertambangan batu bara pada zaman kolonial Belanda. Penelitian pertama dilakukan oleh Ir. C. De Groot van Embden pada tahun 1858, kemudian dilanjutkan oleh Ir Willem Hendrik de Greve pada tahun 1867 untuk menyelidiki batu bara di Ombilin. Pada tahun 1868, De Greve menemukan kandungan batu bara di Sungai Ombilin. Sawahlunto adalah kota yang beruntung yang masih menyisakan berbagai kearifan dan lebih dari 100 bangunan peninggalan kota tambang batu bara kuno yang hingga kini masih berdiri dan terawat baik, bahkan 74 diantaranya telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya.

Wakil Walikota Sawahlunto Zohirin Sayuti mengatakan, “Kota Sawahlunto lahir karena adanya tambang batu bara, pada waktu itu banyak yang tinggal adalah penduduk dari luar, bukan penduduk Sawahlunto. Dari Eropa sekitar diatas 500 orang dan Cina pernah diatas 600 orang tinggal di Sawahlunto. Banyak yang datang ke Sawahlunto karena memang keberadaannya sebagai tambang batubara,” kata Zohirin pada saat memberikan paparan di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Rabu (5/12).

Setelah diketahui kandungan sumber daya alam dan potensi ekonominya, pemerintah kolonial Hindia Belanda memutuskan untuk melanjutkan eksplorasi. Pada akhirnya dimulai pula pembangunan infrastruktur tambang dan pendukungnya di Sawahlunto pada tahun 1883 hingga 1894. Sawahlunto dijadikan sebagai kota pada tanggal 1 Desember 1888 yang kemudian ditetapkan sebagai hari jadi kota Sawahlunto.

Untuk mendukung aktivitas pertambangan di Sawahlunto, pemerintah Hindia Belanda menggunakan para narapidana sebagai tenaga kerja yang diambil dari penjara-penjara yang ada di pulau Jawa Sulawesi dan Medan. Para narapidana ini diangkut dengan kapal laut dari pelabuhan Tanjung perak, dan diturunkan di pelabuhan Emmahaven yang sekarang bernama pelabuhan teluk Bayur. Mereka kemudian diangkut dengan kereta api ke Sawahlunto atau pusat aktivitas perdagangan pertambangan Sawahlunto.

Batu bara yang sejak 1892 menjadi sumber kehidupan Sawahlunto, kemudian berhenti produksi tahun 1998. Sejak itu selalu untuk berubah drastis nyaris menjadi kota lumpuh. Di tengah ketidakberdayaan itu, saat ini Sawahlunto berusaha bangkit dengan mengangkat kembali segala potensi yang ada seperti keragaman etnis dengan adat, seni dan budayanya, serta objek dan bangunan peninggalan industri batu bara yang kini menjadi cagar budaya. Saat ini kota Sawahlunto berkembang menjadi objek wisata kota tambang yang multi etnik, sehingga menjadi salah satu kota tua terbaik di Indonesia.

Zohirin berharap, “Dengan adanya dukungan dari semua pihak baik Pemerintah Provinsi, Pusat, Perguruan Tinggi, juga para ahli kita datang kan ke Sawahlunto. Bagaimana Sawahlunto kedepannya bisa kita bina agar Sawahlunto bisa mendapatkan penghargaan warisan budaya dunia,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *