L’Oréal Professionnel Didapuk Sebagai Industri Peduli SMK oleh Kemendikbud
Revitalisasi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menjadi sebuah gebrakan pendidikan vokasi yang mulai digerakkan sejak tahun 2016. Keterlibatan dan kolaborasi dengan industri dalam meningkatkan mutu pendidikan vokasi menjadi salah satu kunci dari keberhasilan program revitalisasi SMK. L’Oréal Professionnel adalah salah satu brand kecantikan rambut di bawah naungan PT. L’Oréal Indonesia, yang terlibat aktif dalam mendukung keberhasilan program revitalisasi SMK melalui program L’Oréal Hairducation, program kolaborasi untuk pengembangan dan pembenahan pendidikan vokasi kecantikan rambut. Atas partisipasi aktif yang ditunjukkannya sejak tahun lalu, pada hari ini L’Oréal Professionnel menerima penghargaan sebagai Industri Peduli SMK yang diberikan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI.
Penghargaan ini diserahkan langsung oleh Menteri Koordinator Perekonomian, Darmin Nasution, didampingi oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, pada acara Rembuk Pendidikan Kejuruan SMK 2018. Selain L’Oréal Professionnel, penghargaan juga diberikan kepada empat industri lainnya yaitu Astra Honda Motor, PLN (Perusahaan Listrik Nasional), Yamaha Manufacturing, PT. Sumber Alfaria Trijaya (Alfamart).
“Edukasi adalah salah satu dari tiga pillar utama kami selain inovasi dan inspirasi. Tidak hanya edukasi untuk mengembangkan kemampuan partner hairdresser kami tapi juga kemampuan penata rambut masa depan yang saat ini bibitnya sudah ada di SMK. Penghargaan ini merupakan sebuah kebanggaan yang memacu kami untuk terus memberikan dukungan dan kontribusi kami terhadap pendidikan vokasi khususnya di jurusan kecantikan rambut agar mampu menghasilkan lulusan-lulusan berkualitas yang siap berkarya di industri tata rambut di Indonesia”, terang Michael Justisoesetya, General Manager Professional Products Division L’Oréal Indonesia.
Program L’Oréal Hairducation merupakan sebuah program kolaborasi bersama dengan Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan (PSMK) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang bertujuan untuk mendukung gerakan revitalisasi SMK dalam bidang kecantikan rambut sekaligus untuk membantu pemenuhan kebutuhan tenaga kerja dalam industri kecantikan rambut di Indonesia yang sangat kurang.
“Terdapat lebih dari 110 ribu salon di Indonesia saat ini. Jumlah tersebut dapat menyerap lebih kurang 400 ribu tenaga kerja. Setiap tahunnya terdapat 60 ribu lapangan pekerjaan baru di industri kami sedangkan jumlah lulusan SMK kecantikan tiap tahunnya hanya mencapai empat sampai dengan lima ribu siswa. Kekurangan jumlah tenaga kerja terlebih lagi tenaga kerja yang berkualitas menjadi faktor penghambat pertumbuhan industri kecantikan rambut. Program Hairducation kami buatsebagai program dukungan untuk pemerintah serta partner bisnis kami dan industri kecantikan rambut di Indonesia”, terang Michael.
