Seminar The Power of Rising Star Kupas Peran Budaya Tionghoa bagi Indonesia

Seminar nasional “The Power of Rising Star” yang diselenggarakan Yayasan EL JOHN Indonesia bersama EL JOHN Academy di Merlyn Park Hotel, Jakarta, Senin (17/11/2025) menghadirkan sejumlah narasumber kompeten dari berbagai bidang. Salah satunya adalah tokoh Budaya Tionghoa, Hasan Karman, yang membawakan materi tentang perjalanan akulturasi budaya Tionghoa Indonesia.
Seminar bermanfaat ini tutur dihadiri 24 finalis Miss Chinese Indonesia 2025 yang menjadi peserta seminar. Materi ini menjadi penting mengingat para finalis merupakan perempuan keturunan Tionghoa yang juga memegang identitas sebagai warga Indonesia.
Dalam pemaparannya, Walikota Singkawang periode 2007—2012 ini, menekankan bahwa Indonesia adalah negara yang terbentuk dari keberagaman budaya yang saling berpadu dan berkembang. Ia menegaskan bahwa identitas bangsa tidak berdiri dari satu unsur saja. “Sadar tidak sadar, Indonesia terbentuk dari perpaduan berbagai budaya. Minimal dua, tiga, bahkan lebih,” ujarnya. Karena itu, menurutnya, penting bagi para finalis Miss Chinese Indonesia untuk memahami bahwa meskipun mereka keturunan Tionghoa, mereka tetap bagian dari Indonesia.
Hasan juga menyinggung minimnya pemahaman generasi muda, terutama Gen Z, tentang proses panjang akulturasi budaya yang membentuk identitas mereka saat ini.
“Banyak generasi sekarang yang tidak paham bahwa mereka adalah produk dari akulturasi. Dengan saya memaparkan materi tadi, mereka jadi bisa berpikir, ‘Oh, ternyata begini prosesnya,’” jelasnya.

Ia kemudian mengulas sejarah pahit ketika kebudayaan Tionghoa sempat ditekan selama lebih dari tiga dekade.
“Dalam kurun 30 tahun lebih, pernah terjadi pemberangusan budaya Tionghoa. Banyak yang hilang,” katanya. Namun menurutnya, era reformasi dan keterbukaan memberikan kesempatan baru bagi masyarakat untuk kembali mempelajari dan merayakan identitas tersebut. “Dengan mempelajari, kita jadi makin sadar dan makin tahu kekayaan kita,” tambahnya.
Meski ruang ekspresi semakin terbuka, Hasan mengakui bahwa sikap masyarakat terhadap budaya Tionghoa masih beragam.
“Ada yang belum move on dan tetap anti, tapi ada juga yang menerima keturunan Tionghoa sebagai bagian tak terpisahkan dari Indonesia,” katanya.

Hal serupa juga terjadi di internal komunitas Tionghoa, di mana sebagian masih menyimpan luka masa lalu. “Masih ada yang merasa sakit hati atau apatis. Tapi banyak juga yang bisa menerima dan melangkah maju. Saya salah satunya,” tegasnya.
Hasan menekankan pentingnya generasi muda untuk bangkit dan tidak terus terjebak pada trauma sejarah. “Kita boleh ingat dan tidak boleh lupa, tapi itu harus selesai. Mengingat agar tidak terulang lagi. Kalau terjadi lagi, semua rugi. Jadi, move on. Kalau ingin bangsa ini bagus, jangan terus berkutat di situ,” pesannya.
Kepada para finalis Miss Chinese Indonesia 2025, Hasan Karman memberikan dorongan agar mereka terus mengembangkan diri selama masa karantina. “Mereka harus percaya diri. Apa yang sudah dipelajari itu yang dikembangkan, dan yang belum dipelajari harus terus dipelajari,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa kompetisi ini bukan hanya soal kecantikan, tetapi juga pembentukan karakter dan kapasitas diri. “Di sini mereka dididik untuk menjadi seseorang yang pantas menyandang gelar putri atau Miss,” tambahnya.

Hasan juga mengingatkan bahwa pemenang Miss Chinese Indonesia akan membawa nama bangsa di kancah internasional. “Walaupun dia keturunan Tionghoa, dia membawa kepentingan Indonesia. Sangat mungkin nanti dia menjadi duta Indonesia di ajang internasional, jadi harus tampil dengan bagus,” tutupnya.
