BusinessEconomicHeadline News

Sentuhan ‘Coming Home’ Konsultan Kelas Dunia Alex Bayu Pada Permata Hijau Suites

A home is a place where you want to have that. Ini adalah konsep keindahan yang diusung oleh Alex Bayu, seorang konsultan kelas dunia. Hal sederhana yang membuat kita berpikir ketika pulang dari beraktivitas di luar rumah dan mendapati tekanan di pekerjaan atau stres di perjalanan dengan kemacetannya, kita menginginkan sesuatu yang bisa membuat kita nyaman. Itulah rumah. Anda akan merasa ‘I’m coming home’ saat melangkah masuk ke rumah Anda. Alex Bayu menciptakan sentuhan ‘coming home’ ini pada setiap sudut Permata Hijau Suites.

Permata Hijau Suites sangat tepat memilih konsultan kelas dunia Alex Bayu yang sangat konsisten memberikan sentuhan keindahan yang berbeda dalam setiap karyanya. Bukan keindahan fisik, melainkan keindahan emosional. Alex Bayu menggambarkan lima pancaindera yang terkoneksi untuk merasakan emotional beauty yang ‘kaya’ itu.

“Well, I give you an example, you enjoy a Venice, Positano, trus ada city when we’re sitting there a lovely city. But if you pay attention to it…why do you like it? It’s not a beautiful building, it was there’s a history there, it was a stone paving, it was a guy shouting in Italian, and then you got a smell of the bakery, you just got that vibe. And when all these vibes are connected, and people on the boat…the boat somehow you just feel…the boats mean romance. Something like that. When all these things are connected as one, we call that ‘Genius Loci’. It’s a lot more of emotional beauty, not physical beauty.” 

Keindahan emosional sederhananya sama seperti saat kita bangun di pagi hari, lalu menghirup udara yang bercampur dengan aroma pewangi pakaian dan suara gemericik air yang mengingatkan kita akan pagi hari di rumah bersama ibu. Ibu yang mencuci pakaian pagi sekali dan menjemur pakaian yang sudah tercampur rata dengan pewangi kesukaan kita.

Lalu, saat kita menikmati hidangan fettucini yang lezat di rumah kenalan, kita jadi teringat akan istri yang sering membuatkan hidangan itu di akhir pekan. Belum lagi jika kita menyentuh menyentuh kain wol. Itu mengingatkan akan sweater rajut lembut yang dibuat nenek. Apapun yang ada di sekitar kita mampu mengirimkan getaran langsung ke kelima panca indera kita. Mulai dari mata kita yang melihat, hidung yang mencium aroma, mulut yang mengecap rasa, telinga yang mendengar, dan tangan yang meraba. Alex Bayu menyebutnya ‘Genius Loci’.

“Well, it’s Latin words. ‘Genius’ is spirit, ‘Loci’ means place. So, it’s a spirit of a place. It’s not something like mythical, but what it does is a place what we call Genius Loci is actually when all the elements connected, the five elements connected.”

Pria yang telah berkecimpung dalam industri desain selama lebih dari 18 tahun ini mendirikan perusahaan bernama Genius Loci bersama partnernya, Benjamin Joseph Kim. Singapura menjadi basecamp dimana ia mendirikan perusahaannya. Alex Bayu berperan sebagai Founder and Managing Partner, Creative Director Indonesia dan Cina. Genius Loci terus melebarkan sayap kanvasnya ke mancanegara. Salah satu kanvas terbarunya adalah Indonesia.

Bagaimanapun, Genius Loci tercipta karena jiwa sang founder, Alex Bayu, yang seorang artist membutuhkan kanvas dan palet untuk menggambar. Pria yang lahir di Surabaya ini awalnya adalah seorang painter di masa sekolahnya. ia sangat menyukai painting. Ia juga berada dalam lingkungan seni yang kental dengan teman-teman seniman eksentrik.

Dan setelah mengadakan sejumlah pameran, ia memutuskan berhenti sekolah. Ia ingin menjadi seniman seutuhnya. Ayahnya sedikit khawatir. Alex Bayu remaja lalu pergi ke rumah pamannya di New York. Dari sana ia mengeksplorasi ‘feel’ di luar Indonesia. Saat itu, tahun 1980 belum ada pekerjaan desain interior. Yang ada hanya arsitektur.

Di New York, gedung-gedung ada dimana-mana. Alex Bayu berpikir keras bagaimana bisa mendapatkan pekerjaan. Ia lalu berpikir bahkan gedung tua saja selalu direnovasi orang. Rumah, rumah sakit, hotel, dan lain-lain juga begitu. Akhirnya Alex Bayu pun terjun ke dunia pekerjaan desain interior tersebut karena dia tidak bisa menjadi pengacara, akuntan, dan dokter.

Dia hanya bisa menggambar dan gambarnya ini yang membuatnya bisa masuk ke sekolah desain. Alex Bayu pun masuk ke sekolah desain dan lulus. Selanjutnya, ia mulai bekerja dalam industri yang berkaitan erat dengan jiwa seninya ini sampai hari ini. Di tahun 1996, ia memutuskan meninggalkan New York.

“I do feel that I’ll be a dragon tale in a West and the dragon head in the East. So, I need to go to Asia. I was looking at the country where I want to go. I go to Japan, Hongkong, and Singapore. Because of the language matter, I go to Singapore. Even though Singapore is small, but the system does teach us a lot equal in South-East Asia.”

Permata Hijau Suites sungguh beruntung menjadi salah satu kanvas seorang konsultan desain interior kelas dunia Alex Bayu dimana ia membawa silent into the design. Ada kombinasi warna, ada aksen namun bukan aksen yang kuat, ada pencahayaan tidak langsung untuk membuat nuansa yang tidak terlalu ‘harsh’, dan fasilitas ada di lantai yang sama sehingga terkoneksi satu sama lain.

“You’re coming home-lah…you got enough stress in Jakarta. You got traffic, people can stress you up sometimes, but when you come home, you want to transform into another hotel actually like in a different wall. Not noisy, not crowded, and a home is a place where you want to have that.”

Filosofi sederhana ini Alex Bayu masukkan dalam bentuk ‘adaptasi’ ke Permata Hijau Suites. Apartemen yang nyaman untuk semua usia. Target pasar untuk customer yang membutuhkan apartemen menjadi lebih muda saat ini. Menurut Alex Bayu, apartment buyers are getting younger. Kaum milenial yang berada di tahun-tahun pertama kerja mereka bisa menjadi pembeli apartemen yang potensial. Alex Bayu membuat konsep yang tidak klasik. Lebih kepada konsep yang modern dan simple.

Alex Bayu ingin orang-orang yang tinggal di Permata Hijau Suites merasa hangat, recalm, dan saat masuk rumah itu orang merasakan I’m coming home, this is a home where I belong. (Ruby Herman)

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close