Seorang Pemimpin Harus Pahami 4 Mindset Dalam Menggerakan Bisnisnya
Ada catatan yang perlu diketahui jika ingin menjadi seorang pemimpin dalam bisnis yang digeluti. Catatan itu disampaikan Motivational Guru yang juga sebagai CEO Ganesa Kalpataru Satya Sunjoyo Soe saat menjadi narasumber dalam program Indonesia Business Forum yang ditayangkan EL JOHN TV.
Selain Sunjoyo, program ini juga menghadirkan satu narasumber lagi yakni Assessor of Sustainability Reporting Award and Asia Sustainability Reporting Rating, Hanny, S.E., M.SI., AK., CA., CSRS.
Sunjoyo mengatakan seorang pemimpin harus mampu membangun mindset secara benar agar bisnis yang dijalaninya tidak terhenti di tengah jalan.Ada empat mindset yang menjadi pedoman seorang pemimpin, yang pertama adalah growth mindset.
Growth mindset adalah orang yang punya keinginan untuk terus tumbuh sebagai seorang pemimpin maupun sebagai seorang pribadi. Mindset ini menjadikan seorang punya rasa optimis terhadap target yang akan dicapai.
Growth mindset ini juga dibutuhkan untuk menghadapi rasa frustasi. Terkadang dalam memimpin sebuah usaha atau bisnis, seorang pemimpin menghadapi kendala masalah yang membuatnya putus asa, sampai akhirnya mengambil keputusan yang salah
“Kalau kita tidak memiliki growth mindset ketika kita menghadapi banyak tekanan maka persoalan yang muncul kita akan tenggelam seiring kondisi dan situasi yang kita hadapi dan ini sangat berbahaya bagi seorang pemimpin,” kata Sunjoyo.
Bahkan menurut Sunjoyo, Growth Mindset ini dapat membantu seorang pemimpin ketika sedang jatuh. Sebuah perusahaan yang mengalami kemunduran atau jatuh, tak lepas dari kesalahan seorang pemimpin, namun yang harus diambil benang merahnya adalah kesalahan itu harus dijadikan guru terbaik untuk kembali melangkah dengan benar.
“Kalau melakukan kesalahan apa yang terjadi. Artinya kesahalan yang kita hadapi, maka kita perlu terima itu adalah kesalahan kita dan kita perlu belajar. Belajar dari pengalaman itu menjadi guru terbaik,” ungkap Sunjoyo yang juga sebagai The John Maxwell Team Certified Coach, Speaker & Trainer ini.
Kemudian mindset yang kedua adalah learning mindset. Mindset yang satu ini lebih bicara tentang rasa motivasi, sehingga ada upaya seorang pemimpin untuk terus meningkatkan kompetensinya. Dengan rasa percaya diri dan yakin untuk terus belajar maka seorang pemimpin sedang mengaplikasikan learning mindset.
“Learning mindset, berarti dia sudah melakukan pertumbuhan itu dan dia meningkatkan kompetensi yang betul-betul ingin dirinya menjadi master dalam hal tertentu dalam hal yang baru. Ini disebut learning mindset,” ujar Sunjoyo.
Selanjutnya mindset yang ketiga adalah Deliberative mindset yakni mindset yang mengedepankan pertimbangan.
“Artinya bagi seorang pemimpin harus melakukan pertimbangan yang matang sebelum dia melangkah untuk menjalankan bisnisnya. Kita harus benar-benar memikirkan dengan matang supaya kita tidak terjebak di dalam masa depan atau bila terjadi turbulensi seperti yang kita hadapi hari ini,” tutur Sunjoyo.
Dan mindset yang keempat adalah promotion mindset. Mindset yang terakhir ini fokus pada kemenangan yang dicapai. Pemimpin yang memiliki promotion mindset akan menerima kekalahan, karena mindset ini ibarat pertandingan yakni hanya ada yang didapat yakni kekalahan dan kemenangan. Namun para pemimpin yang berpegangan pada mindset ini, akan menargetkan kemenangan.
“Jadi tidak ingin menghindari kekalahan tapi fokus supaya menang bagaimana. Kemudian mereka mengklasifikasi goalnya apa, destination-nya apa, prioritasnya apa. Berbeda bagi mereka-mereka yang ingin menghindari kekalahan atau kegagalan,” terang Sunjoyo.
Hal senada juga disampaikan Assessor of Sustainability Reporting Award and Asia Sustainability Reporting Rating, Hanny, S.E., M.SI., AK., CA., CSRS. Namun dalam pernyataannya Hanny lebih menitik beratkan pada pola pikir untuk berhutang.
Hanny menyebut seorang pemimpin harus memiliki pola pikir yang benar saat akan berhutang. Sudah menjadi wajar seorang pemimpin harus berhutang untuk memastikan keberlangsungan hidup usahanya.
“Kalau kita melihat jauh sudah banyak perusahaan-perusahaan yang mungkin karena salah atau keliru atau kurang tepat pola pikirnya terhadap hutang maka akan menjadi jerat juga buat mereka. Sebaiknya kita memiliki pola pikir yang betul tentang debt, apalagi saat ini banyak sekali pola pikir tentang debt atau hutang di dalam yang berkembang dan menjadi trend jangan sampai kita salah memilih,” kata Hanny.
