Simbol Kesakralan Masjid Tertua di Sulawesi Selatan

0
masjid-al-hilal-katangka_20160108_151844

Di Indonesia rumah ibadah tak melulu hanya diperuntukkan sebagai tempat ibadah. Rumah ibadah juga memiliki nilai tersendiri jika dilihat dari sisi berbeda. Entah itu dari nilai historisnya, struktur bangunannya, hingga usia berdirinya.

Salah satu rumah ibadah yang menarik untuk dikulik adalah masjid milik umat muslim di Provinsi Sulawesi Selatan.

Salah satu masjid di Sulsel yang fungsinya tidak hanya untuk kegiatan ibadah, tapi juga menjadi salah satu objek wisata dan budaya adalah Masjid Tua Katangka.

Masjid Katangka terletak di Jalan Syekh Yusuf, kelurahan Katangka, kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa. Kira-kira berjarak sekitar 10 km dari kota Makassar .

Masjid Katangka juga biasa disebut Masjid Al-Hilal. Uniknya Masjid ini telah berdiri selam 4 abad. Tepatnya dibangun pada tahun 1603 oleh pemerintahan Raja Gowa XIV I Manga’rangi Daeng Manrabbia (Sultan Alauddin I).

Sehingga Masjid ini tergolong masjid yang paling tua di Sulawesi Selatan dan juga sebagai masjid tertua dengan nomor urut 9 di Indonesia.

Bangunan masjid menyerupai arsitektur Masjid Demak dengan ukuran 14,1 x 14.4 meter dengan tinggi bangunan 11,9 meter. Tebal dinding masjid mencapai 120 cm, terbuat dari batu kali.

Bangunan masjid ditopang oleh empat tiang utama, menyimbolkan empat sahabat utama Rasul yaitu Abu Bakar as-Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.

Masjid Tua Katangka yang berdenah bujur sangkar ini mempunyai serambi dan ruang utama yang di sekitarnya terdapat makam raja-raja Gowa dan kerabat kerajaan.

Atap masjid dua lantai ini terbuat dari genteng tanah liat. Terdapat pemisah berupa ruangan berdinding tembok dengan jendela di keempat sisinya, agar sinar matahari dapat masuk dalam masjid.

Menurut Harun Daeng Ngella, penjaga Masjid Tua Katangka, di masjid inilah ajaran agama Islam pertama kali disebarkan di Sulawesi Selatan.

Lokasi berdirinya Masjid Katangka dahulu merupakan tempat salat rombongan ulama dari Yaman yang mengembara ke Sulawesi untuk menemui Raja Gowa dan mensyiarkan Islam. Mereka singgah melaksanakan Salat Jumat di tempat yang kini menjadi masjid.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *