Siti Aisyah Soroti Tantangan Perempuan Modern di Momentum Hari Kartini

{"ARInfo":{"IsUseAR":false},"Version":"1.0.0","MakeupInfo":{"IsUseMakeup":false},"FaceliftInfo":{"IsChangeEyeLift":false,"IsChangeFacelift":false,"IsChangePostureLift":false,"IsChangeNose":false,"IsChangeFaceChin":false,"IsChangeMouth":false,"IsChangeThinFace":false},"BeautyInfo":{"SwitchMedicatedAcne":false,"IsAIBeauty":false,"IsBrightEyes":false,"IsSharpen":false,"IsOldBeauty":false,"IsReduceBlackEyes":false},"HandlerInfo":{"AppName":2},"FilterInfo":{"IsUseFilter":false}}
El John News, Jakarta – Momentum Hari Kartini selalu menjadi ruang refleksi bagi perempuan Indonesia untuk meneguhkan peran dan kontribusinya di tengah masyarakat. Di tengah semangat tersebut, Siti Aisyah, Finalist Miss Tourism Universe 2026, hadir membawa perspektif tentang pentingnya keberanian perempuan dalam melampaui batas dan memperjuangkan kesetaraan. Melalui ajang nasional yang diselenggarakan oleh El John Pageants bersama Yayasan El John Indonesia, Siti menjadikan momen ini sebagai bagian dari perjalanan advokasinya.
Bagi Siti Aisyah, Hari Kartini bukan sekadar peringatan sejarah, melainkan refleksi atas perjuangan panjang perempuan Indonesia. “Hari Kartini adalah pengingat akan semangat keberanian untuk melampaui batas yang ada, sekaligus mengenang perjuangan R.A. Kartini dalam memperjuangkan hak-hak wanita agar setara dengan laki-laki,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa momen ini semakin menyadarkan perempuan untuk berani bermimpi, berkarya, mandiri, dan berdaya di bidang apa pun yang mereka pilih.

Inspirasi besar Siti datang dari sosok Raden Ajeng Kartini yang dikenal gigih memperjuangkan pendidikan dan kesetaraan perempuan. Menurutnya, Kartini telah membuka jalan bagi perempuan Indonesia untuk tidak lagi dipandang lemah. “Wanita harus berani dan setara dengan laki-laki, serta memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang,” ujarnya.
Meski demikian, Siti juga melihat bahwa perjuangan belum sepenuhnya selesai. Ia menilai perempuan saat ini memang telah merdeka secara struktural, namun belum sepenuhnya secara kultural. “Secara hukum, perempuan sudah memiliki hak untuk berpendidikan, berkarier, bahkan memimpin. Namun dalam realitas sosial, masih banyak batasan dan hambatan karena budaya patriarki,” jelasnya.

Sebagai finalis dan putri binaan Yayasan El John Indonesia, Siti percaya bahwa peran perempuan muda harus diwujudkan melalui aksi nyata. Ia menekankan pentingnya konsep “3B”: beauty, brain, dan behavior. “Perempuan tidak hanya menjadi representasi kecantikan fisik, tetapi juga simbol kecerdasan dan ketangguhan,” tuturnya.
Dalam kehidupan sehari-hari, Siti memulai dari langkah sederhana untuk mendukung sesama perempuan. Ia berusaha menjadi pribadi yang mampu mendengarkan tanpa menghakimi serta memberikan dukungan ketika perempuan lain menghadapi ketidakadilan. Baginya, solidaritas antarperempuan menjadi kunci dalam memperkuat satu sama lain.

Menutup refleksinya, Siti Aisyah menyampaikan harapannya bagi perempuan Indonesia di masa depan. Ia berharap perempuan semakin berani bersuara dan menentukan jalan hidupnya sendiri. “Perempuan harus bisa memilih pendidikan, karier, dan mendapatkan perlakuan yang adil tanpa diskriminasi, serta suaranya didengar di masyarakat,” pungkasnya.
