CultureDestinationTourism

Stakeholders Pentahelix Pariwisata Sepakat Jaga Keunikan Wisata Yogya

Para pelaku pariwisata di Yogya yang terdiri dari unsur Pentahelix ‘ABCGM’ sepakat untuk menjaga keunikan kota budaya ini. Mereka yakin destinasi yang beragam di Yogya memiliki ciri khas yang bisa menjadi daya tarik bagi pariwisata. Ciri khas, keunikan dan keistimewaan masing-masing itu yang harus dipertahankan.

‘Kesepakatan’ tersebut terjadi saat digelar edutainment talkshow yang dikemas dalam Jagongan Ottoman di Hotel Grand Keisha by Horison, Sabtu (29/7) malam. Jagongan malam itu bertema Pariwisata dan MICE. Para narasumber bisa disebut lengkap mewakili unsur Pentahelix.

Yakni Achmad Charis Zubair (akademisi UGM, Dewan Kebudayaan), Andi Arslan Djunaid (business, owner Grand Keisha), Bonny Telo (community, Kelompok Sadar Wisata), Kelik Pelipur Lara (seniman) dan Pemimpin Redaksi Kedaulatan Rakyat Octo Lampito (media). Jagongan malam itu dipandu oleh jurnalis senior Erwan Widyarto.

Andi Arslan Djunaid yang menjadi pembicara pertama mengungkapkan optimismenya membuka hotel baru di Yogya. Kendati sejumlah hotel baru bermunculan, Yogya masih sangat prospektif.

Kondisi Yogya, kata Andi, sangat berbeda dengan kota-kota wisata lain. Apalagi di bidang MICE (Meeting, Invention, Conference dan Exhibition) Yogya masih sangat menjanjikan.

“Sebagai Kota Pendidikan, Yogya justru ramai di saat kota-kota wisata lainnya sepi. Asal kita bisa meng-create konsumen dan memasarkan Kota ini dengan baik. Tentu saja menjaga keistimewaan Yogya,” kata Andi.

Apa yang ditekankan Andi ini langsung disambung oleh Achmad Charis Zubair. Pria yang akrab disapa ACZ ini mengingatkan keistimewaan Yogya itu yang harus dijaga. Jangan sampai keunikan yang dimiliki justru dihilangkan.

“Orang piknik atau berwisata itu karena ingin mencari keunikan-keunikan. Mencari yang beda. Kalau setiap lokasi wisata sama semua, atraksinya sama, kulinernya sama, tidak akan ada orang berwisata. Orang akan berpikir, ngapain harus ke sana kalau di tempat kita sendiri saja ada,” papar Ketua Departemen Budaya ICMI DIY ini.

Keunikan, ciri khas, itu pula yang menjadi kekuatan satu tujuan wisata diminati. Begitu sahut pelaku pariwisata Bonny Telo. Banyak tempat kuliner di Yogya yang laris manis karena konsepnya unik dan menarik. Kendati yang dijual sama dengan tempat lain. Bonny lantas menyebut Kopi Klothok yang sangat laris.

“Padahal yang dijual ya cuma kopi, sayur lodeh dan tempe garit yang di tempat lain pun ada,” katanya.

Bonny yang juga aktivis media sosial ini juga mengingatkan, selain punya kelebihan, keunikan atau keistimewaan, jangan lupa mempromosikannya.

“Promosi lewat media sosial. Karena ini kekuatannya luar biasa untuk saat ini,” tegasnya.

Sebagai orang media, Octo Lampito mengatakan pariwisata Yogya harus dikelola dengan cerdas. Jika tidak, pariwisata akan terpuruk ke titik nadir. Pengelola pariwisata harus memikirkan kemanfaatannya untuk rakyat banyak. Media sangat berperan dalam mengontrol praktik pariwisata yang cerdas dan bermanfaat.

“Sekali pelaku pariwisata melakukan praktik kotor, misalnya menaikkan harga makanan seenaknya sendiri seperti yang terjadi di Malioboro belum lama ini, maka dalam waktu singkat, kabar itu akan menyebar. Tak sampai 15 menit, kawan saya di Australia menghubungi saya menanyakan kebenaran informasi tentang itu,” cerita Octo.

Jagongan Ottoman yang berlangsung di Ottoman Sky Lounge lantai 9 Grand Keisha tersebut diformat santai. Sebelum talkshow ditampilkan stand up comedy bertema pariwisata oleh Kelik Pelipur Lara. Pemeran Wakil Presiden Ucup Kelik dalam Republik BBM ini tampil gerrr. Pilihan kata-katanya seputar pariwisata membuat pengunjung tertawa terbahak-bahak.

Pelawak yang dikenal piawai plesetan ini misalnya mengungkap perbedaan perempuan dilihat dari pakaian dan kesukaannya pada tempat berwisata.

“Kalau pakaiannya tebal, maka ia suka berwisata di pegunungan atau daerah dingin. Kalau pakaiannya tipis, ia suka ke pantai. Nah, kalau dia pakai gaun pendek dan tipis, ia suka jadi obyek wisata,” katanya disambut hadirin.

Selain itu, ditampilkan pula musik Campursari dengan penyanyi Endah Larasati. Kendati mendapat julukan The Queen of Campursari, istri Kelik Pelipur Lara ini juga menyanyikan lagu-lagu pop yang lagi ngehits. Jagongan Ottoman edisi perdana ini sekaligus merupakan launching sky lounge bernuansa Turki dan Timur Tengah ini. Sky Lounge bernuansa Turki yang pertama di Yogya.

Sebagai perkenalan pada saat Jagongan disajikan makanan pembuka bernuansa Turki. Yakni Chicken Swarma dan Uum Wali. Chicken Swarma yang serupa kebab ini memiliki rasa rempah yang kuat. Khas masakan Turki. Masakan di Ottoman Sky Lounge ini hasil olahan Chef Yusman yang lama tinggal di Dubai.

Pentahelix ABCGM adalah formulasi yang diramu Menpar Arief Yahya, yang lulusan ITB Bandung, Surrey University UK, dan lulus doktor strategic management dari Unpad Bandung itu.

“Kalau ingin cepat maju, maka kolaborasi kelima unsur Pentahelix itu harus solid, speed dan smart!” kata Arief Yahya.

Sebagai industri, pariwisata memang tidak bisa  berdiri sendiri. Bahkan di unsur G atau Government sendiri, tidak boleh berjalan sendiri-sendiri, harus menjaga soliditas dan kekompakan.

“Karena itulah kami selalu menggaungkan spirit Indonesia Incorporated,” ungkap Arief Yahya.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button