Survei Travelport : Indonesia Peringkat 3 Besar Wisatawan Pengguna Smartphone
Travelport sebagai perusahaan platform travel niaga baru saja merilis hasil survei prilaku wisatawan Asia Pasifik termasuk Indonesia dalam menggunakan alat digital saat merencanakan wisata, pemesanan, dan melakukan perjalanan. Survei tersebut sangat besar karena diberikan kepada sekitar 11.000 orang responden dari 19 negara di dunia.
Dalam survei yang dilakukan untuk pertama kalinya oleh Travelport ini, Indonesia diklaim menjadi negara di peringkat ke tiga terbesar dalam kategori wisatawan sadar digital pengguna smartphone. Peringkat pertama diduduki oleh China dan selanjutnya adalah India.
Menarik melihat etika merencanakan perjalanan yang dilakukan wisatawan Indonesia, tercatat sekitar 93% wisatawan Indonesia menggunakan video dan foto dari media sosial sebagai referensi pencarian informasi destinasi wisata, sekitar 92% memaksimalkan website wisata, dan sekitar 84% masih lebih memilih untuk berkonsultasi pada agen perjalanan.
Managing Director Asia Pasifik Travelport, Mark Meehan mengatakan, survei ini menunjukkan betapa pentingnya perkembangan digital bagi wisatawan dalam merencanakan perjalanan, melakukan perjalanan bahkan saat selesai melakukannya.
“Sektor pariwisata Indonesia telah mencatat pertumbuhan signifikan sekitar 25,68 % sepanjang tahun ini, melampaui kawasan Asia Pasifik dan pasar negara berkembang lainnya,” ujar Mark di acara Konferensi Pers yang diadakan di kawasan Menteng, Jakarta, Selasa (14/11).
Director Travelport Indonesia, Raymond Setokusumo mengatakan, Travelport Indonesia juga terus mengalami pertumbuhan.
“Peningkatan ada, kalau saya boleh bilang di Indonesia saja kami kira-kira bertumbuh sekitar 25 persen (year to date)” kata Raymond.
Diakui Raymond, akan menjadi tantangan tersendiri bagi para agen perjalanan di Indonesia untuk bisa segera beralih ke digital. Karena memang tidaklah murah dan mudah untuk beradaptasi cepat dengan digitalisasi yang terus berkembang pesat di sektor pariwisata ini.
“Travelport saja sudah menghabiskan miliaran Dollar sebagai investasi kami guna beradaptasi dengan perkembangan digital di sektor bisnis dan pariwisata selama 5 tahun terakhir. Mau tidak mau adaptasi ini memang mendesak dilakukan,” jelas Raymond.
