Thailand Bukan Lagi Pesaing Indonesia di Dunia Pariwisata, Lantas Siapa Pesaingnya?
Menteri Pariwisata Arief Yahya menyimak pertanyaan anggota Komisi X DPR saat rapat kerja di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (18/10). Raker tersebut membahas penyesuaian RKA-K/L Kementerian Pariwisata Tahun 2017 sesuai hasil pembahasan Banggar DPR. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/aww/16.
Berbicara persaingan di dunia pariwisata, Indonesia terlebih dahulu harus melihat negara tetangga yang berada di kawasan Asia Tenggara, pasalnya negara-negara di kawasan Asia Tenggara memiliki geografis yang hampir mirip dengan Indonesia. Misalnya Thailand, yang memiliki wisata pantai dan alam yang mempesona seperti destinasi wisata yang dimiliki Indonesia. Namun, kini hal itu tidak berlaku lagi, karena Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya menganggap Thailand, Malaysia dan Singapura bukan lagi pesaing terberat Indonesia. Lantas siapa yang tidak boleh dipandang sebelah mata oleh Indonesia.
Jawaban Menpar adalah Vietnam. Menurut Menpar, Vietnam begitu cepat melakukan perubahan regulasi untuk menarik banyak investor, khusus untuk sektor pariwisata. Melihat hal itu sudah saatnya Indonesia tancap gas untuk terus mempromosikan destinasi wisata yang dimilikinya kepada investor mancanegara.
“Vietnam saat ini sudah sedemikian hebatnya. Kita harus tiru mereka melakukan deregulasi besar-besaran. Mereka sangat pro terhadap investasi, itu bagus terhadap negaranya,” kata Menpar di Kementerian Pariwisata, Rabu 12 Juli 2017.
Sementara itu, mengenai Indonesia yang kalah bersaing dengan negara Asia Tenggara lainnya, Menpar mengatakan, itu karena terbentur urusan regulasi. Menurut Menpar, regulasi Indonesia yang terlalu rumit bagi para investor.
“Kita kalah, karena sulitnya regulasi. Kita ini sangat lamban, terlalu banyak regulasi yang menjerat diri sendiri,” ujar Menpar.
Namun Menpar tidak mau membuat semua pihak patah semangat, masih ada cara lain yang dapat mendatangkan para investor pariwisata. Caranya yakni agar setiap daerah membuat Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) untuk investasi. Dengan adanya KEK, dapat mempermudahkan investor untuk melakukan perizinan investasi di daerah masing-masing.
“Jadi, perlakukan secara khusus investor di KEK. Kita juga butuh melakukan training, tetapi butuh waktu lama untuk itu. Negara butuh saat ini juga, sehingga aktivitas bisnis kita bisa berjalan dengan baik,” ungkapnya.
Menpar mengatakan, pertumbuhan industri pariwisata di Thailand, Singapura, dan Malaysia saat ini mengalami penurunan hingga lima persen. Sementara Vietnam justru mengalami pertumbuhan positif sebesar lima persen.