Tionghoa Peranakan dan Totok, Apakah Masih Ada ?

0
ilustrasi-pernikahan-tionghoa--1-istockphoto-getty-images-istockphoto_ratio-16x9

Tionghoa totok ternyata hingga saat ini masih ada di Indonesia, namun jumlahnya tidak sebesar pada abad 20-an. Justru  yang mendominasi etnis Tionghoa Indonesia adalah  Tionghoa peranakan.

Hal tersebut disampaikan sinolog Tionghoa Indonesia Prof. Dr. Leo Suryadinata saat menjadi pembicara dalam webinar bertema “Tionghoa Peranakan dan Totok, Apakah Masih Ada” yang disiarkan oleh EL JOHN TV.  Webinar ini  terselenggara berkat kerjasama  Perkumpulan Hakka Indonesia/ Perkumpulan Hakka Jakarta/ Putra Putri Hakka Indonesia Dan Putra Putri Hakka Jakarta/ Berkolaborasi Dengan Rumah Bhinneka serta EL JOHN Media.   Webinar ini dimoderatori oleh sejarawah Didi Kwartanada

Prof. Leo menjelaskan, bahwa perbedaan yang mudah ditemukan antara Tionghoa totok dan peranakan adalah bahasa yang digunaka sehari-hari. Untuk peranakan, menggunakan bahasa lokal, peranakannya Indonesia maka bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia. Sedangkan untuk, Tionghoa totok menggunakan bahasa Tionghoa.

“Sensus 2010 di antara orang Tionghoa Indonesia , ada 24 persen menggunakan bahasa dialek Tionghoa atau mandarin di rumah yang lain menggunakan bahasa dialek Indonesia. Jadi sebetulnya peranakan Tionghoa itu yang lebih Indonesia dari pada pribumi karena bahasa yang utama itu adalah bahasa Indonesia,” jelas penulis buku Dilema Minoritas Tionghoa (1984) ini.

Dalam pemaparannya, Leo mencerikan asal usul munculnya Tionghoa peranakan dan totok di Indonesia. Abad 19 menjadi awal datangnya orang Tionghoa ke Indonesia. Pada masa itu yang berlayar ke Nusantara adalah kaum  laki-laki lapisan bawah yakni para pedagang yang buta aksara.

Pertama yang datang adalah para pedagang dari provinsi Fujian, kemudian disusul dari provinsi Guangdong. Mereka datang tanpa membawa istri maupun keluarga. Kedatangan mereka ke nusantara tidak lah mudah karena harus menunggu lama kapal yang datang,  begitupun sebaliknya jika harus balik ke Tiongkok. Akibatnya orang-orang Tionghoa ini harus menetap lama  dan terjadi kawin campur dengan wanita lokal hingga melahirkan keturunan dari kawin campur yang disebut sebagai peranakan Tionghoa.

“Dalam masyarakat peranakan Tionghoa itu, yang penting ini adalah mereka ini mempunyai ciri-ciri yang berlainan dari pada Tionghoa yang di daratan Tiongkok ya. Mereka itu umumnya sudah tidak fasih berbahasa Tionghoa, bahkan dialeg Hokiannya tidak begitu fasih  yang digunakan adalah bahasa Melayu. Bahasa Melayu kemudian menjadi bahasa utama digunakan oleh orang-orang peranakan  di rumah tangga,” papar Prof.Leo.

Sementara itu, untuk Tinghoa totok baru ada ketikaPemerintah  Tiongkok membuka pintu untuk merantau pada 1923, termasuk ke Nusantara. Kedatangan mereka membawa keluarga dan istrinya, sehingga kebahasaannya masih Tionghoa asli, dan berkumpul.

Kelompok ini biasanya disebut ‘singke’, yang cenderung memiliki konotasi yang buruk. Masyarakat totok ini kemudian mendirikan sekolah Tionghoa, yang kemudian membuat peranakan juga turut belajar di sana.

“Sekolah-sekolah Tionghoa itu dulunya di sekolah Tinghoa hwee kwan kemudian diambil alih oleh organisasi totok itu. Banyak juga peranakan yang mengantar dan memasukan anaknya itu ke sekolah Tionghoa. Apakah ini terjadi totokisasi. Ini seakan-akan anak peranakan ini,  menjadi totok kembali, sebetulnya  tidak demikian ya, karena mereka itu  di rumah tetap berbahasa  dialek lokal atau bahasa Melayu, bahasa Indonesia. Akan tetapi disamping itu mereka juga bisa berbahasa Tionghoa tapi  bahasa Tionghoa menjadi bahasa kedua,”terang Prof. Leo yang pernah meraih penghargaan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2008.

Dari paran yang disampaikan Prof.Leo dapat disimpulkan  Tionghoa peranakan dan totok hingga saat ini masih ada. “Saat  ini, semua orang Tionghoa adalah peranakan meski masih ada yang totok dari segi budaya,”, ungkap Prof. Leo.

Ketua Putra Putri Hakka Indonesia Jerry Suwanto mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang membantu terselenggaranya webinar ini. Diharapkan webinar ini dapat membantu pemahaman kepada warga tionghoa Indonesia,  khususnya generasi muda terhadap sejarah  etnis tionghoa di Indonesia.

“Kiranya  memalui acara ini bisa membuka wawasan Putra Putri Hakka di seluruh Indonesia dan seluruh peserta bisa membawa kita lebih mengerti peran-peran orang Tionghoa di masa lalu dan saat ini yang disembunyikan  dan ditutupi oleh fakta sejarah yang ada,” kata Jerry.

Hal senada juga disampaikan perwakilan dari Rumah Bhinneka, Alma Erina. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada perkumpulan hakka indoneisa dan putra putri hakka indonesia yang telah  mengajak Rumah Bhinneka untuk menggelar acara yang sangat bermanfaat ini.  Diharapkan acara ini,  dapat menjadi momentum untuk membuat acara yang lebih besar dan lebih bermanfaat lagi.

“Apresiasi yang luar biasa dari Rumah Bhinneka untuk acara ini tentu saja harapannya adalah yang lebih penting bagaimana kita bisa mengeloborasi dan juga meleburkan diri menjadi Tionghoa Indonesia. Kami dari Rumah Bhinneka siap untuk melanjutkan kolaborasi yang lebih kuat lagi  di masa mendatang,” ungkapnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *