18-09-16_20.32.31873

Kopi Toraja kini  sudah diakui oleh dunia internasional dengan cita rasanya yang mengugah selera. Bahkan banyak negara yang memilih kopi Toraja sebagai komoditas impor dari Indonesia. Sebut saja ada Skandinavia, Finlandia, Denmark, Swedia, Belanda, dan Jepang yang menjadi deretan negara pengimpor kopi Toraja. Bahkan kopi berlaber Toraja seperti Toraja Arabica Coffee mendapat tempat istimewa di berbagai kafe.
Apalagi belum lama ini, kopi Toraja diperkenalkan melalui Festival Kopi dan Kuliner 2017 yang dilangsungkan di kawasan agrowisata pango-pango, 26-27 Agustus 2017 lalu. Acaranya pun berlangsung sukses. Kopi Toraja menjadi salah satu minuman yang gencar dipromosikan di festival ini, bahkan pengunjung dapat meminum kopi yang bermutu ini secara gratis.

Karena itu tak salah jika Pemerintah Kabupaten  Tana Toraja Nicodemus Biringkanae  sedang mengangkat kopi sebagai ikon wisata Toraja. Bupati Tana Toraja Nicodemus Biringkanae berpesan, bila mendengar kata kopi, ingatlah Toraja

“Saya ingin ubah image Toraja dari yang mengerikan ke menyenangkan. Wisatanya tak hanya masuk ke gua kuburan. Ada juga wisata kopi yang menyenangkan,” ujarnya dalam keterangan rilis.

Nicodemus yakin siapapun akan menyukai wisata kopi di Toraja. Pemandangan Toraja sendiri sangat indah. Bukit dan gunung dengan ketinggian 1.700 mdpl mengelilinginya.

Deputi Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Kemenpar Esthy Reko Astuti berharap pariwisata Toraja bisa berkibar di level dunia lewat wisata kopi.

“Di Jepang sudah ada lebih dari 5.000 restoran dan kafe yang menyuguhkan kopi Toraja. Jadi sangat mungkin mengembangkan wisata kopi. Festival Kopi dan Kuliner 2017 ini sebagai langkah awalnya,” katanya.

Ia juga mengusulkan agar Toraja mendorong kopi sebagai komoditas unggulan yang dapat dijadikan sebagai objek pariwisata. Misalnya dengan menikmati secangkir kopi Toraja sambil berkeliling perkebunannya. Atraksi wisata ini diyakini akan menarik minat wisatawan nusantara maupun mancanegara.

“Di Jepang itu kan kopi paling mahal Toraja. Harganya  Rp 169 ribu per cangkir. Dari situ kita bisa create wisata kopi Toraja. Kita jual keindahan Toraja lewat kopi,” paparnya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya juga sepakat dengan Esthy. Apalagi modal Toraja sudah sangat kuat. Selain sudah dikenal dunia, Toraja sempat dijuluki ‘Queen of Coffee’.

”Kopi Toraja sudah sangat bagus. Pilih channel yang tepat, bikin event yang mendunia, pilih endorser dengan dibarengi gerai-gerai berkelas,” imbaunya.

Bagi Arief, keragaman kopi nusantara adalah kekuatan yang luar biasa karena bisa didorong menjadi kekuatan atraksi pariwisata Indonesia.

“Ajak turis ikut menyemai kopi, melihat sendiri penanaman, penyiangan, pemetikan, dan pengolahan biji kopi hingga siap diseruput di cangkir bambu, story line wisata Kopi Toraja bisa naik kelas,” ucapnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *