Trump Salah Sebut Iran Jadi Jepang Saat Konferensi Pers KTT NATO

0
Untitled.jpg trump

Presiden Amerika Serikat Donald Trump gelar pertemuan bersama Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di sela-sela KTT NATO (Foto: tangkapan layar Youtube The White House)

El John News – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menjadi sorotan setelah melakukan kesalahan penyebutan nama negara saat menghadiri konferensi pers bersama Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi NATO.

Dalam kesempatan tersebut, Trump sedang menjelaskan mengenai kapal induk Amerika Serikat USS Abraham Lincoln dan pengalaman kapal tersebut saat menghadapi serangan rudal. Namun ketika mengingat konflik dengan Iran, ia justru menyebut nama negara yang berbeda.

“Kita memiliki kapal induk yang merupakan salah satu yang terindah di dunia, salah satu yang terbesar, Abraham Lincoln,” kata Trump, Rabu (8/7/2026)

Tak lama kemudian, Trump keliru menyebut Iran sebagai “Republik Islam Jepang” ketika menjelaskan serangan rudal yang pernah terjadi.

“Dan beberapa bulan yang lalu, seperti yang saya ceritakan sebelumnya, kita dihujani 111 rudal oleh Republik Islam Jepang,” lanjutnya.

Trump kemudian meneruskan penjelasannya dengan mengatakan bahwa ratusan rudal tersebut ditembakkan ke arah USS Abraham Lincoln selama sekitar satu jam. Meski demikian, ia menyebut seluruh rudal berhasil dicegat sehingga tidak menimbulkan kerusakan pada kapal induk tersebut.

Peristiwa yang dimaksud merujuk pada konflik bersenjata antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang terjadi pada akhir Februari lalu. Saat itu, Iran mengklaim telah meluncurkan rudal balistik ke arah USS Abraham Lincoln sebagai bagian dari operasi militernya.

Namun, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) membantah klaim tersebut dan menegaskan bahwa kapal induk itu tidak mengalami kerusakan maupun terkena serangan.

“Lincoln tidak terkena. Rudal yang diluncurkan bahkan tidak mendekati sasaran. Lincoln terus meluncurkan pesawat untuk mendukung kampanye tanpa henti CENTCOM dalam membela rakyat Amerika dengan menghilangkan ancaman dari rezim Iran,” demikian pernyataan CENTCOM.

Amerika Serikat sendiri merupakan salah satu sekutu utama Jepang di kawasan Asia Pasifik. Hubungan pertahanan kedua negara telah berlangsung selama puluhan tahun sejak penandatanganan perjanjian keamanan pada 1952. Hingga kini, sekitar 60 ribu personel militer Amerika Serikat masih ditempatkan di berbagai pangkalan militer di Jepang sebagai bagian dari kerja sama pertahanan kedua negara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *