Culture

Tutup Saji Makan Bedulang Kental Akan Kearifan Lokal

Makan Bedulang Belitung menjadi tradisi budaya yang dipertahankan oleh masyarakat belitung, provinsi kepulauan Bangka Belitung hingga sekarang. Tradisi ini, menjadi tradisi yang dapat memperkokoh sikap saling menghormati dan menghargai  di kabupaten yang dijuluki taman wisata dunia ini.

Makan Bedulang Belitung merupakan prosesi makan bersama masyarakat Belitung untuk upacara adat, seperti pernikahan, sunatan, atau kelahiran. Tidak hanya pada upacara adat, bedulang pun kerap dilaksanakan sebagai sarana komunikasi anggota keluarga, yang secara tidak langsung juga para orang tua mengajarkan anak-anak yang masih muda tentang etika, kebersamaan, dan toleransi.

Ciri khas prosesi adalah salah satunya dengan menggunakan mentudong yakni todung saji khas Belitung atau yang dikenal dengan tutup saji.

Budayawan Belting Ahmad Hamzah mengatakan, mentudong merupakan tutup saji yang bahan dasarnya terbuat dari daun pandan yang biasa digunakan untuk membuat tikar.

“Jadi ada tiga jenis, pandan, pandan duri, pandan hutan, kemudian ini yang keras ada lagi pandan hutan yang lembut biasanya dibuat untuk tikar, ini untuk tudung saji namanya mengkuang, kalau untuk tikar namanya lais. Nah ada lagi kalau pandan wangi biasanya untuk makanan. Jadi ini terbuat dari pandan hutan yang biasanya oleh orang setempat dinamakan mengkuang,’’ kata Ahmad Hamzah saat diwawancarai tim liputan El John News, di sela-sela acara Pesona Bedulang Belitung Nusantara yang digelar  Podomoro University di Neo Soho Mall, beberapa waktu lalu.

Menurut Ahmad pembuatan mentudong ini sempat menuai pro dan kotrak, pasalnya ada yang tidak setuju jika pembuatan mentudong  diambil dari alam, dikhawatirkan akan merusak lingkungan. Namun, jika pembuatan mentudong dialihkan ke bahan baku lain maka kearifan lokal dari tutup saji ini akan hilang.

“Jadi kalau nanti ada acara makan bedulang sudah menggunakan tudung plastic, atau sebagainya iitu berarti sudah menyalahi pakem. Karena itu kita sebagai mahluk tuhan itu mempunyai tiga tanggung jawab, yang harus kita jaga. Oleh sebab itu oleh masyarakat Belitung, benar-benar yang bersifat kearifan local itu kita usahakan akan kita pertahankan,” ujar Ahmad.

Lebih lanjut, Ahmad menjelaskan warna merah menjadi warna khas untuk mentudong. Ada filosofinya, kenapa Mentudong kebanyakan berwarna merah, yakni untuk membangkitkan selera makan

“Karena merah itu,  untuk membangkitkan selera, karena sebelum makanan bedulang itu di angkat ketengah sebagai hidangan orang ramai ini di susun, jadi di susun begitu indah sehingga menimbulkan selera. Itu yang saya perhatikan yang ada di kabupaten Belitung, yang kedua hiasannya tidak terlalu ngejelimet, karena kita sesuai mungkin dengan kemampuan masyarakat waktu itu,” ungkap Ahmad.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close