Vegetarian Charity 2025 Jadi Momentum Sebarkan Welas Asih dan Harmoni Antar Makhluk Hidup
Semangat welas asih dan kepedulian terhadap sesama makhluk hidup terasa kuat di JIExpo Kemayoran, Jakarta, ketika Majelis Agama Buddha Guang Ji Indonesia (MABGI) bersama Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI) sukses menggelar kegiatan akbar bertajuk “Vegetarian Charity 2025.”
Acara yang diadakan pada Minggu, 2 November 2025, ini dihadiri oleh lebih dari 2.000 umat dan relawan dari berbagai daerah di Indonesia, membawa pesan universal tentang kasih, kebajikan, dan harmoni antar makhluk hidup.
Acara ini turut dihadiri Direktur Urusan dan Pendidikan Agama Buddha Dirjen Bimas Buddha Nyoman Suriadarma dan Wakil Ketua Umum DPP KCBI Karuna Murdaya.
Sejak pagi, suasana JIExpo telah dipenuhi umat yang datang dengan antusias. Acara dibuka dengan doa bersama dan pembacaan paritta yang khidmat, menandai dimulainya kegiatan amal yang sarat makna spiritual.
Setelah itu, rangkaian acara berlanjut dengan pertunjukan seni budaya, parade kuliner vegetarian, serta penggalangan dana sosial yang hasilnya akan disalurkan melalui Yayasan Dana Paramita Guang Ji Indonesia untuk membantu masyarakat yang membutuhkan.
Hadir pula perwakilan dari DPP WALUBI, yang menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh terhadap inisiatif Guang Ji dalam menyebarkan nilai kebajikan dan ajaran Dharma melalui kegiatan nyata.

Acara berlangsung dengan penuh keceriaan. Penampilan Mars Guang Ji dan Hymne WALUBI membuka suasana dengan semangat kebangsaan dan spiritualitas. Dilanjutkan dengan tarian budaya nusantara, serta penampilan anak-anak dari Sekolah Guang Ming yang menyuguhkan pertunjukan menggemaskan namun sarat makna moral.
Bagian yang paling ditunggu adalah parade kuliner vegetarian, di mana para tamu dapat menikmati lebih dari 128 menu vegetarian dari berbagai daerah di Indonesia.
Mulai dari cita rasa Padang, Jawa, Bali, hingga fusion Chinese, semuanya disajikan dengan penuh kreativitas dan menggambarkan kekayaan kuliner nusantara dalam bingkai kebajikan universal.

Ketua Panitia Vegetarian Charity 2025, Sumartono, mengatakan kegiatan tahunan ini, memiliki makna mendalam tentang pentingnya hidup selaras dengan alam serta menumbuhkan kesadaran kolektif untuk menjaga keseimbangan kehidupan.
“Pelaksanaan kegiatan ini mempunyai beberapa makna. Pertama-tama, untuk mengumandangkan dan mendorong pola hidup yang semakin bersahabat dengan bumi, lingkungan, dan semua makhluk. Karena itu, kegiatan ini sudah kami lakukan bertahun-tahun sebagai bagian dari komitmen moral untuk menyebarkan pesan cinta kasih,” ujar Sumartono.
Menurut Sumartono, vegetarianisme bukan hanya tentang apa yang dikonsumsi, tetapi lebih pada sikap hidup yang berlandaskan kasih sayang dan penghargaan terhadap kehidupan.

“Vegetarian bukan hanya terkait dengan apa yang kita makan. Itu adalah sebuah sikap, di mana kita saling menghargai sebagai sesama makhluk hidup. Semoga dengan bervegetarian, kita tidak hanya menjaga kesehatan diri, tetapi juga menciptakan kehidupan yang lebih harmonis bagi semua,” tuturnya.
Ia menambahkan, makna vegetarian sejatinya bersifat universal dan dapat dihayati oleh siapa pun, tanpa melihat latar belakang agama, ras, suku, atau pandangan hidup tertentu.
“Jangan terkotak-kotak. Semuanya bisa saling menyatu. Kalau dengan makhluk hewani saja kita bisa memiliki sifat welas asih, sudah seharusnya kita juga menerapkan sikap yang sama kepada sesama manusia tanpa membedakan suku, ras, agama, maupun alirannya. Pada dasarnya, kita semua adalah satu saudara,” tegasnya.

Wakil Ketua Umum DPP KCBI, Karuna Murdaya, menyampaikan apresiasinya terhadap pelaksanaan Vegetarian Charity 2025. Menurutnya, acara ini merupakan praktik nyata dari ajaran cinta kasih (compassion) dalam tradisi Buddhisme, khususnya aliran Mahayana, yang relevan dengan kehidupan modern saat ini.
“Acara vegetarian yang diselenggarakan Guang Ji ini sudah menjadi kegiatan rutin setiap tahun. Tahun lalu juga diadakan di JIExpo. Ini merupakan salah satu bentuk praktik dari ajaran Buddhisme Mahayana yang menekankan hidup penuh cinta kasih,” ujar Karuna Murdaya.
Karuna menjelaskan bahwa praktik vegetarian tidak hanya menjadi bagian dari ritual keagamaan, tetapi juga merupakan perwujudan nyata dari kasih sayang terhadap semua makhluk hidup. Ia menekankan bahwa kebiasaan ini telah menjadi bagian penting dalam kehidupan umat Buddha di berbagai negara, terutama di Tiongkok.

“Bagi umat Buddha Mahayana di Tiongkok, vegetarian adalah bagian dari praktik compassion. Ada ratusan juta umat yang menjalankan pola makan vegetarian, baik secara penuh waktu maupun dalam kesempatan-kesempatan khusus,” jelasnya.
Ia menambahkan, lewat acara seperti Vegetarian Charity 2025, semangat kasih sayang dan kepedulian terhadap lingkungan dapat disebarkan secara lebih luas di Indonesia.
“Dengan adanya kegiatan ini, kami di WALUBI dan JIExpo merasa senang bisa turut mendukung agar acara ini semakin besar, lebih dikenal masyarakat, dan bisa membuat praktik vegetarian semakin populer di Indonesia,” ujarnya.
Apresiasi terhadap kegiatan ini juga disampaikan Direktur Urusan dan Pendidikan Agama Buddha, Nyoman Suriadarma. Menurutnya, Vegetarian Charity bukan sekadar acara berbagi makanan vegetarian, melainkan bentuk nyata dari implementasi nilai kemanusiaan, cinta kasih, dan semangat kebersamaan dalam ajaran Buddha

“Pertama-tama kami dari Kementerian Agama, khususnya dari Bimas Buddha, menyampaikan terima kasih dan apresiasi untuk Guang Ji yang hampir setiap tahun secara konsisten mengadakan Vegetarian Charity. Ini merupakan salah satu wujud nyata dari aspek kemanusiaan yang sangat penting,” ujar Nyoman Suriadarma.
Nyoman menekankan bahwa esensi utama dari kegiatan seperti ini adalah semangat memberi dan berbagi, yang merupakan fondasi utama dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat. Ia menyebut, berbagi bukan hanya soal memberikan materi, tetapi juga tentang menghadirkan kebahagiaan dan kepedulian kepada sesama.
“Melalui kegiatan seperti ini, kita bisa melihat bagaimana rasa berbagi diwujudkan. Ketika memiliki menu yang enak, mereka tidak menikmatinya sendiri, tetapi membagikannya agar semua orang bisa ikut merasakan. Sesungguhnya, memberi itu tidak pernah mengurangi apa yang kita miliki, justru menambah makna dalam kehidupan,” jelasnya.

Selain makna spiritual dan sosial, Vegetarian Charity 2025 juga membawa semangat persatuan dalam keberagaman. Ragam menu yang disajikan, mulai dari masakan Sunda, Jawa, Padang, hingga Chinese food, menjadi simbol indahnya kebersamaan antarbudaya di Indonesia.
“Tentu pesan paling penting dari kegiatan positif seperti ini adalah agar terus dilaksanakan. Charity seperti ini bukan hanya kegiatan sosial, tetapi juga wadah untuk memperkuat rasa kebersamaan anak bangsa. Apalagi, menu yang disajikan berasal dari berbagai daerah di nusantara. Ini mencerminkan harmoni dalam perbedaan,” ujar Nyoman.
