Wabah Hantavirus di MV Hondius Disebabkan Virus Andes, Ini Faktanya

El John News-Badan Kesehatan Dunia atau WHO mengonfirmasi bahwa wabah penyakit yang terjadi di kapal pesiar MV Hondius disebabkan oleh virus Andes, salah satu jenis hantavirus langka yang ditemukan di kawasan Amerika Latin.
Virus Andes menjadi perhatian dunia karena berbeda dari sebagian besar hantavirus lainnya. Jika umumnya hantavirus hanya menular dari hewan pengerat ke manusia, virus Andes diketahui dapat menular secara terbatas antar manusia melalui kontak dekat dan berkepanjangan.
Satu-Satunya Hantavirus Bisa Menular Antarmanusia
WHO juga mengakui adanya kemungkinan penularan antarmanusia dalam kasus di kapal pesiar asal Belanda tersebut. Penularan diduga terjadi pada orang-orang yang memiliki interaksi sangat dekat, seperti pasangan suami istri maupun penumpang yang berbagi kabin.
Direktur Kesiapan dan Pencegahan Epidemi dan Pandemi WHO, Maria Van Kerkhove, menyebut penularan kemungkinan terjadi di antara individu dengan kontak sangat erat dalam waktu lama.
Virus Andes sendiri merupakan bagian dari kelompok hantavirus, yakni virus RNA dari keluarga Hantaviridae yang dibawa oleh hewan pengerat liar. Virus ini pertama kali diidentifikasi di wilayah Pegunungan Andes, Amerika Selatan, dan kasus penularan antarmanusia pertama kali tercatat di Argentina serta Chile pada tahun 1995.
Hewan pembawa utama virus ini adalah tikus padi berekor panjang atau Oligoryzomys longicaudatus yang hidup di kawasan liar Amerika Selatan.
Menyerang Paru-Paru dan Memiliki Fatalitas Tinggi
Pada manusia, infeksi virus Andes dapat menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome atau HPS, penyakit serius yang menyerang paru-paru dan sistem kardiovaskular. Kondisi tersebut dapat memicu sesak napas berat, penurunan tekanan darah drastis, syok, hingga kematian.
WHO mencatat tingkat kematian akibat hantavirus di kawasan Amerika dapat mencapai hingga 50 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan kasus di Asia dan Eropa.
Penularan hantavirus umumnya terjadi saat seseorang menghirup partikel udara yang terkontaminasi urine, kotoran, atau air liur tikus yang telah mengering. Risiko meningkat ketika membersihkan ruangan tertutup seperti gudang, kabin, maupun bangunan yang tercemar.
Sejumlah penelitian di Argentina juga menemukan bukti penularan virus Andes antar manusia, terutama pada pasangan dan anggota keluarga yang melakukan kontak intens selama fase awal infeksi.
Gejala awal infeksi virus Andes sering kali menyerupai flu biasa, seperti demam, nyeri otot, sakit kepala, tubuh lemas, mual, hingga muntah. Namun dalam beberapa hari kondisi pasien dapat memburuk dengan cepat saat infeksi mulai menyerang paru-paru.
Belum Ada Obat Khusus, Pencegahan Jadi Langkah Utama
WHO, Kementerian Kesehatan RI, dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat atau CDC menyatakan hingga kini belum ada obat antivirus khusus yang terbukti efektif untuk mengatasi hantavirus secara luas.
Karena itu, langkah pencegahan menjadi cara utama untuk menekan risiko penularan, mulai dari menjaga kebersihan area tertutup, mengendalikan populasi tikus, hingga menghindari kontak dengan sarang maupun kotoran hewan pengerat.
