Wamendag Sebut Indonesia Mitra Dagang yang Strategis Bagi Turki untuk Tingkatkan Perdagangan
Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga menyampaikan, Indonesia adalah mitra dagang yang strategis bagi Turki untuk meningkatkan perdagangan. Penguatan hubungan kerja sama dengan Turki merupakan salah satu prioritas utama bagi Indonesia. Pernyataan tersebut disampaikan saat pertemuan Wamendag dengan sekitar 30 pelaku usaha Turki di Kayseri, Turki, Sabtu (1/2).
Turut hadir dalam pertemuan tersebut Duta Besar RI untuk Turki Lalu Muhammad Iqbal, Konsul Kehormatan Turki untuk RI Tahir Nursacan, serta Atase Perdagangan di Turki Eric Nababan.
“Dengan berbagai upaya yang telah dilakukan, kini Indonesia memiliki reputasi yang sangat baik di kancah ekonomi global. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai mitra bisnis yang strategis bagi Turki,” ujar Wamendag Jerry.
Wamendag juga menyampaikan, penting bagi kedua negara untuk terus memperkuat kerja sama perdagangan dan investasi termasuk pariwisata karena Turki lebih dari sekedar ‘teman’dalam sejarah dan politik. Indonesia dan Turki merupakan negara yang besar di masing-masing kawasan. Kedua negara juga masuk dalam 20 negara dengan ekonomi terbesar di dunia dan merupakan anggota D8 dan G-20.
Wamendag menjelaskan, dalam 10 tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi Indonesia rata-rata sebesar 5,3 persen per tahun. Selain itu, populasi di Indonesia pada 2025 akan mencapai 300 juta jiwa dengan pendapatan per kapita sebesar USD 15.000. Dari total populasi tersebut, setengahnya adalah penduduk usia produktif.
Tidak kalah penting, kondisi geo-strategis kedua negara. Bagi Indonesia, Turki adalah hub untuk masuk ke pasar kawasan Timur Tengah, Afrika, dan Eropa. Sementara bagi Turki, selain pasar yang besar, Indonesia juga menjadi hub untuk masuk ke pasar Asia Tenggara/ASEAN dengan potensi pasar 600 juta jiwa.
“Dari potensi yang besar itu, perdagangan baik barang maupun jasa serta investasi kedua negara saat ini masih terbilang sangat kecil. Masih banyak potensi yang bisa terus digali untuk meningkatkan perdagangan dan investasi kedua negara,” kata Wamendag.
Dengan besarnya potensi ekonomi kedua negara, sudah seharusnya Indonesia dan Turki berkolaborasi bersama. Apalagi, kedua Kepala Negara telah menetapkan target perdagangan sebesar USD 10 miliar pada 2023.
Salah satu cara mencapai target tersebut, lanjut Wamendag, yaitu melalui Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Turki (IT CEPA) yang dimulai dengan perjanjian perdagangan barang. Perundingan IT CEPA putaran ke-4 baru saja selesai.
“Saya percaya, sangat penting bagi kedua negara untuk mengakselerasi negosiasi agar IT CEPA dapat diselesaikan tahun ini. IT CEPA bukan semata-mata tentang bisnis, tetapi juga kemitraan dan kolaborasi sehingga masyarakat dapat merasakan manfaatnya,” ungkapnya.
Selain itu, Wamendag meminta dukungan para pelaku usaha Turki untuk mendorong pemerintah Turki mempercepat penyelesaian IT CEPA. Sehingga para pelaku usaha dari kedua negara bisa mendapatkan tarif khusus ke kedua pasar. Dalam pertemuan tersebut, Wamendag juga memaparkan peran minyak kelapa sawit bagi perekonomian Indonesia.
“Minyak kelapa sawit tidak hanya sekedar produk ekspor, tetapi merupakan representasi dari perdagangan, alam, dan budaya Indonesia,” ujarnya.
Minyak kelapa sawit berperan penting bagi terbukanya lapangan pekerjaan dan penurunan angka kemiskinan. Minyak kelapa sawit adalah sumber pendapatan langsung dan tidak langsung bagi 16,5 juta penduduk Indonesia.
Sedangkan bagi negara-negara mitra, seperti Turki, minyak kelapa sawit merupakan komoditas yang sangat penting bagi industri pengolahan, seperti produk perawatan dan kosmetik, serta makanan dan minuman.
Minyak kelapa sawit juga telah diketahui memiliki produktivitas terbesar dibandingkan minyak nabati lainnya. Minyak kelapa sawit juga menjadi sumber lapangan pekerjaan bagi banyak negara, termasuk Turki.
