Webinar HAN 2025: Membentuk Masa Depan Pariwisata Dimulai dari Anak dan Remaja
Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-41 mendapat sentuhan istimewa tahun ini dengan keterlibatan sektor pariwisata. Melalui sebuah webinar bertajuk “Peran Anak dan Generasi Muda untuk Pariwisata Berkelanjutan,” berbagai pemangku kepentingan lintas sektor mengajak generasi muda Indonesia untuk ambil bagian dalam pembangunan pariwisata yang ramah lingkungan, inklusif, dan berorientasi pada masa depan.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh PATA (Pacific Asia Travel Association) Indonesia Chapter bersama World Tourism Day, dan didukung oleh EL JOHN Indonesia serta Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI). Webinar tersebut diadakan secara daring pada Rabu, 29 Juli 2025, dan dihadiri oleh ratusan peserta dari berbagai kalangan.
Webinar ini menjadi momentum penting untuk menyuarakan gagasan bahwa anak-anak dan generasi muda bukan hanya penerima manfaat dari sektor pariwisata, melainkan juga aktor penting yang mampu mengarahkan transformasi industri pariwisata ke arah yang lebih berkelanjutan, etis, dan adaptif terhadap perubahan zaman.
Ketua Yayasan World Tourism Day (WTD) Indonesia, Agus Canny menyambut baik terselenggaranya webinar ini sebagai langkah strategis untuk membuka ruang diskusi lintas usia, yang memungkinkan anak-anak dan remaja menyampaikan ide, aspirasi, dan keprihatinan mereka terhadap masa depan pariwisata.
Agus menegaskan pentingnya melibatkan anak-anak dan generasi muda dalam membentuk masa depan pariwisata Indonesia yang lebih berkelanjutan, inklusif, dan berwawasan budaya.
“Tema ini sangat relevan dan strategis. Kita tidak bisa hanya bicara soal destinasi dan pertumbuhan ekonomi, tapi juga tentang bagaimana anak-anak hari ini dilibatkan sebagai aktor utama perubahan,” ujar Agus.

Agus menegaskan, anak-anak bukan sekadar objek pembangunan. Mereka adalah “agents of change” — agen perubahan, yang harus diberi ruang, kepercayaan, dan dukungan agar mampu menjaga kearifan lokal, melestarikan lingkungan, serta membangun nilai-nilai kemanusiaan melalui aktivitas pariwisata.
“Mereka bukan hanya future leaders, tapi changing makers. Mereka harus dilibatkan sekarang, bukan nanti,” tegasnya.
Lebih lanjut, Agus menyampaikan harapan agar ekosistem pendidikan pariwisata bagi generasi muda ke depan tidak hanya menekankan kecakapan teknologi dan inovasi, tetapi juga membentuk integritas, empati, dan kepedulian terhadap lingkungan dan budaya lokal. Inilah fondasi dari generasi pariwisata yang tidak hanya kompeten, tapi juga berkarakter dan berwawasan keberlanjutan.
“Kami ingin mendorong terbentuknya ekosistem pendidikan pariwisata yang holistic, menggabungkan inovasi dengan nilai-nilai etika dan keberpihakan pada masyarakat dan alam,” tambah Agus.
Webinar ini dipandu oleh Miss Medical Tourism 2025 Sofya Dewi dan dihadiri narasumber, yakni Direktur Pengembangan SDM Universitas Esa Unggul Dra. Yodi Donatrin, M.Psi., Psikolog, CGMHR; Pemilik Piltik Coffee Siborongborong Edward Tigor Siahaan; Co-Founder & CEO Atourin Benarivo Triadi Putra dan Penerima Beasiswa MEXT & Mahasiswa Baru Okayama University, Japan Almathea Valezka.
Dalam paparannya, Direktur Pengembangan Sumber Daya Manusia Universitas Esa Unggul, Dra. Yodi Donatrin, M.Psi., Psikolog, CGMHR, menyampaikan pandangannya tentang pentingnya menjadikan pariwisata sebagai sarana pembelajaran karakter bagi anak-anak. Menurutnya, mengajarkan disiplin kepada anak-anak akan lebih efektif bila dilakukan melalui pendekatan yang menyenangkan dan kontekstual , salah satunya lewat pengalaman wisata.
“Saya lebih senang menyebutnya sebagai proses mengajarkan anak disiplin sesuai perkembangan usia mereka, dan dunia pariwisata adalah ruang belajar yang sangat powerful untuk itu,” ungkap Yodi dalam pemaparannya.

Ia menekankan bahwa banyak anak-anak saat ini tumbuh dalam rutinitas harian yang terbatas di lingkungan sekolah atau rumah. Padahal, menurutnya, keluar dari zona rutin tersebut dan diperkenalkan pada pengalaman sosial yang nyata di alam dan tempat wisata, justru dapat memberikan pembelajaran karakter yang kuat dan berkesan.
Yodi mencontohkan betapa sederhana namun bermaknanya proses pendidikan karakter di tempat wisata. Salah satunya adalah mengajarkan kebiasaan membuang sampah pada tempatnya, yang bisa dilakukan saat berwisata ke pantai.
“Ajak anak ke pantai, lihat langsung kondisi lingkungan yang kotor oleh sampah, dan ajak mereka bersama-sama membersihkannya. Itu bukan hanya soal kebersihan, tapi pelajaran langsung tentang tanggung jawab sosial,” ujarnya.
Menurut Yodi, aktivitas seperti ini akan meninggalkan kesan emosional yang positif karena dilakukan dalam suasana menyenangkan. Ia pun mengajak seluruh pelaku pendidikan dan keluarga untuk tidak melewatkan potensi dunia pariwisata sebagai media edukasi karakter, yang relevan untuk membentuk generasi muda yang lebih peduli terhadap lingkungan, berbudaya, dan berdisiplin tinggi.
Sementara itu, pemilik Piltik Coffee Siborongborong, Edward Tigor, membagikan kisah inspiratif tentang bagaimana usahanya yang telah berjalan selama sembilan tahun kini berkembang menjadi ruang pendidikan dan pemberdayaan bagi anak-anak muda di kawasan Danau Toba.
Lewat inisiatif bertajuk Piltik Academy, Edward mendirikan kelas pelatihan kopi khusus untuk anak-anak kampung, mengajarkan mereka menjadi barista dan coffee roaster yang andal. Cerita ini ia sampaikan dalam webinar nasional bertema “Peran Anak dan Generasi Muda untuk Pariwisata Berkelanjutan” yang diselenggarakan oleh PATA Indonesia dan World Tourism Day (WTD) Indonesia.
“Kami ingin berbagi pengalaman kami selama sembilan tahun membuka usaha Gelai Kopi. Maka lahirlah Piltik Academy,” ujar Edward.

Piltik Academy hadir sebagai ruang belajar informal, tempat anak-anak dari desa-desa di sekitar Danau Toba dibimbing langsung oleh Timotius, anak Edward sendiri. Mereka tidak hanya diajari teknik menyeduh kopi atau memanggang biji kopi, tetapi juga nilai-nilai penting dalam industri jasa seperti hospitality, kebersihan (hygiene), dan etika pelayanan.
“Yang mengajar itu anak saya, Timotius. Dia ajarkan anak-anak kampung jadi barista dan roaster. Bukan orang dari kota besar, tapi anak-anak dari sekitar Danau Toba,” jelas Edward.
Dengan semangat “dari daerah, untuk daerah”, Piltik Academy menjadikan kopi sebagai medium pendidikan karakter dan keterampilan. Edward secara sadar memilih untuk merekrut anak-anak lokal, bukan lulusan kota-kota besar seperti Jakarta atau Bandung.
Selain mencetak tenaga kerja terampil di sektor kopi, Edward menyatakan bahwa Piltik Academy juga menjadi bagian dari kontribusi nyata Piltik Coffee bagi masyarakat. Inisiatif ini membuka akses pendidikan praktis dan peluang kerja bagi pemuda lokal yang sebelumnya mungkin tidak memiliki jalan menuju industri kreatif atau pariwisata.
“Kami ajarkan soal higienis, standar kebersihan, keramahtamahan. Itu semua kami tanamkan kepada anak-anak di sini. Lewat kopi, kita bisa membangun karakter,” tegasnya.
