50 Motif Kain Sutera Sulsel Ditawarkan untuk Wisatawan Mancanegara
Provinsi Sulawesi Selatan menjadi pemasok 90% sutera di Indonesia pada 2015. Kapasitas produksi sutera Sulsel mencapai 8 ton. Basis industri ini berada di Sopeng, Wajo, dan Enrekang.
“Kualitas sutera Sulsel ini nomor 1 di Indonesia. Sutera di sini banyak peminatnya, terutama wisatawan yang datang ke Makassar. Kami produksi sendiri. Produksi benang diambil dari Sopeng dan Enrekang. Wajo khusus pemintalannya, meski di Makassar juga ada tapi tidak banyak,” tutur Pelaku UMKM Tenun Sa’be Belo Rustam asal Sengkang, Wajo.
Pemintalan benang sutera Wajo menghasilkan beberapa produk, seperti kain dan sarung. Pengerjaannya dengan alat tenun bukan mesin (ATBM) dan manual (badoka). Sebagai ilustrasi, untuk menghasilkan 1 lembar sarung (ukuran 2 meter) secara manual diperlukan waktu 1 bulan. Bila menggunakan ATBM, 1 lembar kain sarung dengan ukuran serupa hanya dikerjakan dalam waktu 1 hari.
“Optimalisasi alat manual dan ATBM tetap dilakukan. Semua memiliki segmentasi pasar sendiri-sendiri. Kadang kami juga harus mengejar waktu dan kapasitas produksi, makanya ATBM yang dioptimalkan,” jelasnya lagi.
Untuk membuat 1 lembar kain sarung, dibutuhkan benang sutera seberat 250 gram. Untuk mengimbangi kebutuhan pasar dan ketersediaan bahan baku, pengrajin sutera juga melakukan impor benang. Asalnya dari Tiongkok dan Hong Kong.
“Kebutuhan pasar harus disikapi. Kami cukup lengkap. Selain kain atau sarung, kami juga sudah mengembangkan busana. Ada perancang busana khusus,” jelas Rustam.
Sedikitnya, ada 50 motif kain sutera yang ditawarkan dari Sulsel. Beberapa motif yang familiar diantaranya, Coboh, Lagosi, Pucuk, dan Logoh. Sedikit gambaran, motif Coboh biasanya dipakai untuk acara penting dan sakral, termasuk pengantin raja.