Menpar: Pembangunan Homestay Desa Wisata Harus Prioritaskan Tiga Skema
Kementerian Pariwisata (Kemenpar) benar-benar menggenjot pembangunan homestay desa wisata. Jika melihat dari negara tetangga seperti Malaysia, Indonesia masih tertinggal dengan jumlah homestay yang dibangun negeri jiran itu. Pembangunan homestay desa wisata ini yang menjadi fokus pembahasan Kemenpar dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Kepariwisataan ke-II tahun 2017 yang di langsungkan di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis hingga Jumat, 18-19 Mei 2017. Rakornas ke-II ini, mengambil tema “Indonesia Incorporated: 20.000 Homestay Desa Wisata Pada Tahun 2017
Dala jumpa persnya usai membuka rakornas, Menteri Pariwisata Airef Yahya mengatakan ada tiga skema harus dijalani dalam membangun homestay desa wisata. Tiga skema itu yakni pembangunan, pembiayaan dan pengelolaan. Pembangunan homestay ini terus berjalan hingga tahun 2019 yang ditargetkan mencapai 100 ribu homestay.
“Ada tiga satu adalah pembangunan, pembiayaan dan pengelolahan. Pembangunan jumlahnya akan membangun 2000 desa wisata dengan homestaynya 100 ribu,” kata Menpar.
Menpar menjelaskan setelah pembangunan, yang perlu dipikirkan adalah pembiayaan untuk homestay. Ada berbagai jenis pembiayaan homestay antaralain kredit perumahan rakyat (KPR) , kredit usaha rakyat (KUR) atau dana CSR. Setelah pembiayaan tercapai, baru mimikirkan bagaimana cara mengelolanya. Menurut Menpar pengelolaan homestay desa wisata itu intinya adalah sharing ekonomi.
“Setelah pembangunan, baru pembiayaan. Pembiayaan tadi ada 4 skema ada yang sewa ada yang bagi hasil ada yang dari kur atau kpr ada yang dari CSR itulah pembaiayaan dan yang terakhir adalah pengelolaan. Pengelolaan itu intinya adalah sharing ekonomi . Sharing ekonomi itu akan bisa dilakukan dengan digital. Jadi kalo tidak ikut pasti kita akan hancur karena pesaing kita sudah melakukan ini,” ungkap Menpar.
Homestay desa wisata mendapat peran yang signifikan dalam upaya peningkatan pertumbuhan kunjungan wisatawan ke Indonesia. Secara sederhana, homestay memiliki konsep low-cost tourism dengan menggunakan arsitektur nusantara dengan rencana pembangunan selama 6 bulan.