Komisi X DPR Apresiasi Sinergi Kementerian Dalam Membangun Homestay Desa Wisata
Rapat Kerja Nasional (Rakornas) Kepariwisataan ke-II tahun 2017 mendapat apresiasi dari Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Ferdiansyah. Anggota fraksi Golkar ini menilai Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya berhasil dalam mengusung semangat Indonesia Incorporated dalam setiap menjalankan program-programnya.
Ferdiansyah mengakui tidak mudah dalam mensinergikan kementerian atau lembaga. Butuh waktu yang cukup lama agar sinergi itu dapat berjalan optimal. Tetapi demi mensukseskan program pariwisata nasional yang menjadi amanat Presiden Jokowi, semua bisa dilakukan dan Indonesia Incorporated yang tancapkan Menpar dapat diterima semua kementerian atau lembaga.
“Jumlah pelibatan lembaga. Saya ikuti, cermati, ketika bicara connectivity, ada 15 lembaga. Ketika bicara homestay ada 22 lembaga. Makin banyak pelibatan terhadap pemangku kepentingan, baik itu masyarakat berarti makin terbuka lebar kesuksesan pariwisata Indonesia. Memang hebat ini Menteri Pariwisatanya!” sebut Ferdiansyah.
Ferdiansyah pun mendukung program Homestasy Desa Wisata yang menjadi isu utama dalam Rakornas ke II tersebut. Ferdiansyah membenarkan keluhan akan kuranganya tempat penginapan di lokasi wisata. Kenyataannya kini banyak wisatawan yang menggunakan rumah warga sebagai solusi untuk menginap dan menekan biaya yang keluar. Menurutnya, bila program homestay ini berjalan lancar, niscaya kunjungan wisatawan baik dalam maupun luar negeri akan meningkat pesat.
“Saya setuju dengan kebijakan ini karena yang paling cepat dan murah adalah homestay. Untuk sebuah hotel dengan 900 kamar, paling cepat membangun 2 tahun. Bayangkan kalau target 50 ribu kamar, harus berapa tahun? Homestay adalah solusi tepat dan cepat untuk meningkatkan kunjungan wisatawan,” ujar Ferdiansyah.
Ferdiansyah melanjutkan, pihaknya sudah melakukan penjajakan mengenai apa saja yang dibutuhkan wisatawan saat menginap di homestay. Kebutuhan itu mengerucut pada tiga hal yani Kamar dan kamar mandi di dalam, dan yang terpenting diupayakan tersedianya. wifi yang menjadi kebutuhan wisatawan jaman sekarang.
“Wisman selalu menanyakan wifi. Catatan lainnya juga soal homestay. Kalau tercipta di 2019 ada 100 ribu kamar, pertanyaannya, bisa gak kita menjadi pengelola homestay terbaik di dunia? Hitungannya bisa untuk menampung 10 juta wisatawan, kalau tidak bicara hotel, cottage, dan sebagainya,” papar Ferdiansyah.
Terakhir, tambah Ferdiansyah, ada event ASEAN Games di Jakarta dan Palembang. Jangan anggap Jakarta hebat, dengan 10 ribu kamar. “Siapkah kita menampung sekitar 28 ribu orang? Termasuk di Palembang, yang hanya memiliki 7.200 kamar. Ini tentu menjadi peluang besar bagi Palembang untuk turut mengembangkan homestay,” sebutnya.
“Dengan homestay, wisatawan bisa semakin mengenal dan dekat dengan budaya lokal juga dengan pemilik rumah. Mereka tidak hanya mendapatkan penginapan dan pelayanan yang baik, tapi juga informasi tentang kebudayaan,” tutup Ferdiansyah.
Menteri Pariwisata Arief Yahya siap menjawab tantangan Wakil Ketua Komisi X DPR tersebut. Menurutnya, di era serba digital, industri pariwisata harus mengikuti perkembangan. Termasuk soal pengelolaan homestay, yang diharapkan kelak bisa menjadi yang terbaik di dunia.
Arief mengatakan selama ini ia tertarik dengan Hukum Disrupsi (Law of Disruption) yang dikemukakan oleh Profesor Rhenald Kasali. Rhenald menyebut ada empat butir Hukum Disrupsi yaitu disruption attacts not any company, it attacts good company, disruption attacts incumbent with strong reputation, it demands new machinerather than the old one dan it creates new market and low-end markets.
Maksudnya menurut Arief, hanya tinggal menunggu waktu semua perusahaan, semua institusi, bahkan semua negara pasti akan terkena serangan disrupsi dengan adanya arus besar digitalisasi. Celakanya, kata Arief merujuk pernyataan Rhenald Kasali, yang menjadi sasaran empuk disrupsi digital adalah perusahaan atau organisasi konvensional yang mapan dan telah memiliki reputasi mengagumkan selama berpuluh tahun sebelumnya.