Lewat Dukungan PSMTI, Jembatan Sungai Bango Kini Dapat Digunakan Untuk Mobilisasi Warga

0
WhatsApp-Image-2025-10-23-at-11.52.53

Sumber: Malang Posco Media

Harapan warga Kelurahan Polehan, Kecamatan Blimbing, dan Kelurahan Kedungkandang, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, akhirnya terwujud. Setelah lama menunggu akses penghubung yang aman dan dekat, kini mereka dapat menikmati kemudahan mobilitas berkat berfungsinya Jembatan Gantung Sungai Bango yang menghubungkan kedua wilayah tersebut.

Peresmian jembatan sepanjang 42 meter dan lebar 1,2 meter ini berlangsung pada Kamis (23/10/2025), ditandai dengan pengguntingan pita oleh Wali Kota Malang Wahyu Hidayat, bersama Ketua Dewan Pembina Vertical Rescue Indonesia (VRI), Letjen TNI (Purn) A.M. Putranto, S.Sos.

Hadir pada acara persemian, sejumlah tokoh nasional dan daerah, antara lain Menteri BUMN periode 2011–2014 Dahlan Iskan, Ketua Umum Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Wilianto Tanta bersama jajaran pengurus pusat, perwakilan Purnawirawan Pejuang Indonesia Raya (PPI) AKABRI 1987, perwakilan Pegadaian, serta unsur Kodim 0833 Kota Malang.

Sumber Malang Posco Media

Pembangunan jembatan yang diinisasi oleh VRI dan Pemkot Malang  ini merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak, salah satunya PSMTI. Organisasi besar suku Tionghoa Indonesia ini ikut andil membantu Pembangunan  infrastruktur  bermanfaat tersebut.

Kehadiran PSMTI  merupakan bentuk bentuk kontribusi nyata suku Tionghoa Indonesia bagi daerah. Selain itu, pembangunan jembatan ini sejalan dengan semangat PSMTI untuk mendorong kolaborasi lintas etnis dan agama demi kemajuan bersama.

Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berperan aktif dalam pembangunan jembatan ini. Ia menegaskan, keberadaan jembatan tersebut bukan hanya sarana fisik, melainkan juga sarana sosial yang mempererat hubungan antarwarga.

“Sebelumnya, warga Kedungkandang dan Polehan harus menempuh jarak hampir empat kilometer untuk menyeberang. Sekarang, dengan adanya jembatan ini, waktu tempuh menjadi jauh lebih singkat dan aktivitas warga bisa lebih efisien,” ujar Wahyu.

Selain mempermudah mobilitas, jembatan ini diharapkan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, terutama bagi warga yang berjualan atau beraktivitas di sekitar kawasan Sungai Bango. “Dengan akses yang lebih cepat, perputaran ekonomi warga juga akan meningkat,” lanjutnya.

Bagi Ketua Dewan Pembina Vertical Rescue Indonesia (VRI), Letjen TNI (Purn) A. M. Putranto,  jembatan ini bukan sekadar penghubung dua wilayah, melainkan simbol nyata dari komitmen dan kepedulian terhadap kebutuhan dasar masyarakat di seluruh pelosok Indonesia.

“Jembatan Sungai Bango ini merupakan jembatan ke-221 yang telah kami bangun di seluruh Nusantara. Kami menargetkan bisa mencapai 1.000 jembatan dalam program nasional ini,” ujar Putranto

Putranto menjelaskan bahwa program pembangunan jembatan gantung oleh VRI telah berjalan selama sepuluh tahun. Sejak pertama kali digagas, inisiatif ini difokuskan pada daerah-daerah yang membutuhkan akses penghubung, terutama di wilayah yang terisolasi oleh sungai atau medan ekstrem.

“Saya sudah lima tahun ikut di dalam program ini, dan setiap jembatan yang dibangun punya kisah dan manfaat besar bagi masyarakat setempat,” tutur Putranto.

Bagi VRI, pembangunan jembatan bukan sekadar proyek fisik, melainkan bentuk nyata pengabdian kepada masyarakat.

Proses pembangunan setiap jembatan, termasuk Jembatan Sungai Bango, selalu diawali dengan survei lapangan oleh Babinsa dan Komando Distrik Militer (Kodim) setempat.

Putranto menjelaskan, laporan dari aparat di lapangan menjadi dasar penentuan lokasi pembangunan. “Melalui para Babinsa atau Dandim, kami mencari tahu daerah mana yang benar-benar membutuhkan jembatan. Dari situ, tim Vertical Rescue melakukan kajian teknis dan memulai pembangunan,” katanya.

Pendekatan ini memastikan bahwa setiap jembatan dibangun tepat sasaran, benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat dan memberi dampak langsung bagi kehidupan sehari-hari.

“Jembatan ini murni dibangun dari bantuan dan gotong royong para sahabat kita, baik dari PSMTI maupun berbagai komunitas yang peduli. Ini membuktikan bahwa solidaritas sosial masih sangat kuat di negeri ini,” sambungnya.

Putranto pun menyampaikan apresiasi kepada seluruh relawan dan masyarakat yang terlibat dalam proses pembangunan, mulai dari tahap survei, desain, hingga peresmian.

Sebagai bagian dari tanggung jawab keberlanjutan, Putranto berharap agar Pemerintah Kota Malang dapat melanjutkan upaya perawatan jembatan dan mempertimbangkan pembangunan jembatan permanen di lokasi tersebut di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *