Tidak Hanya Wisman, Wisatawan Domestik Dinilai Krusial Gerakkan Ekonomi
M. Johnnie Sugiarto (Doc. Instagram/yayasaneljohnindonesia)
El John News, Jakarta – Tokoh pariwisata Indonesia, M. Johnnie Sugiarto, menegaskan pentingnya promosi pariwisata Indonesia secara masif dan terarah ke pasar mancanegara guna meningkatkan arus devisa dan membantu menekan defisit anggaran negara, khususnya dari sektor devisa.
Menurut Johnnie, di tengah tantangan defisit anggaran, sektor pariwisata memiliki peran strategis sebagai penghasil devisa yang relatif cepat apabila dikelola dengan fokus dan memiliki strategi yang tepat.
“Kalau kita melihat adanya defisit anggaran, terutama dari sisi devisa, maka yang harus kita lakukan adalah mendorong lebih banyak orang asing masuk ke Indonesia dan membelanjakan dolar mereka di sini,” ucap Johnnie saat diwawancarai tim El John Media Network.
Ia menilai, pemerintah perlu lebih agresif mempromosikan Indonesia ke luar negeri dengan menentukan pasar-pasar prioritas yang potensial. Menurutnya, tren wisata global saat ini menunjukkan wisatawan cenderung memilih destinasi dengan waktu penerbangan yang tidak terlalu panjang.
“Sekarang wisatawan cenderung tidak suka penerbangan yang tidak terlalu jauh. Di bawah tujuh atau delapan jam masih oke. Oleh karena itu pasar Asia Pasifik seperti Jepang, Korea, China, dan Australia harus menjadi fokus,” jelasnya
Johnnie menambahkan, pendekatan promosi tidak bisa disamaratakan. Setiap negara memiliki karakter, budaya, dan minat wisata yang berbeda sehingga produk pariwisata yang ditawarkan pun harus disesuaikan.
“Demand wisatawan Jepang berbeda dengan Korea atau Australia, begitupun sebaliknya. Kita harus pintar menyesuaikan produk mana yang ditawarkan ke masing-masing pasar agar mereka tertarik datang dan membelanjakan uangnya di Indonesia,” katanya.
Wisatawan Nusantara Tak Kalah Penting
Selain wisatawan mancanegara, Johnnie juga menekankan besarnya peran wisatawan domestik dalam menggerakkan roda perekonomian nasional. Dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai lebih dari 280 juta jiwa, potensi pergerakan wisatawan domestik dinilai sangat besar.
“Wisatawan dalam negeri justru punya pengaruh yang besar karena mereka mendorong perputaran uang di dalam negeri. Setiap libur panjang atau libur bersama, pergerakan ini langsung terasa,” ujarnya
Ia mencontohkan masih banyak masyarakat di kota-kota besar yang belum menjelajahi berbagai destinasi di dalam negeri, seperti Manado, Makassar, Palembang, Lombok, dan sebagainya.
Menurut Johnnie, peran pemerintah daerah khususnya para gubernur, sangat krusial dalam mempromosikan destinasi di wilayah masing-masing agar terjadi pergerakan wisata antar daerah.
“Bagaimana orang Bandung bisa ke Palembang untuk wisata kuliner, atau orang Surabaya ke Lombok. Setiap perjalanan pasti ada belanja untuk makan, menginap, transportasi, dan oleh-oleh. Ini sangat penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,” katanya.
Promosi sebagai Investasi
Lebih lanjut, Johnnie menegaskan bahwa promosi pariwisata tidak boleh dipandang sebagai beban anggaran, melainkan sebagai investasi jangka menengah dan panjang.
“Promosi itu sesuatu yang sangat lumrah di zaman sekarang dan merupakan bagian dari investasi sebuah bisnis. Jadi promosi pariwisata harus dilakukan secara masif dan terarah,”
Ia optimistis, dengan strategi promosi yang tepat sasaran, penyesuaian produk wisata sesuai karakter pasar, serta sinergi antara pemerintah pusat dan daerah, sektor pariwisata dapat menjadi motor penggerak ekonomi sekaligus penyumbang devisa yang signifikan bagi Indonesia.